Kisah Sukses Pengusaha David Green : Dahulukan Tuhan Daripada Uang

Kisah Sukses Pengusaha David Green : Dahulukan Tuhan Daripada Uang

Budhi Marpaung Official Writer
12947

David Green berasal dari keluarga Kristen yang sederhana. Sejak remaja, ia dan seluruh saudara serta orangtua di sebuah kota kecil di Amerika Serikat bernama Altus.  Ayahnya  sendiri merupakan gembala gereja yang beranggotakan jemaat tidak lebih dari 50 orang.  

Walau memiliki jumlah keluarga yang cukup banyak, rumah yang mereka diami hanya terdiri dari dua kamar tidur. Praktis, beberapa dari mereka ada yang harus rela tidak tidur di kamar.

David Green dan saudara-saudaranya yang laki-laki akhirnya yang mau tidak mau tidur di dapur. Dengan beralaskan kasur lipat, David Green melewati malam-malamnya.

Suatu hari di dalam sebuah obrolan santai dengan ibunya, David Green mendapatkan kata-kata yang akan terus membekas di hatinya.

"Kita tidak miskin," demikian kata sang Ibu kepada dirinya. "Kamu tidak pernah miskin saat kamu memiliki sesuatu untuk diberikan."

Mencari Uang Sendiri

Walau dirinya masih berusia sekolah menengah pertama, David Green ikut berjualan kue keliling bersama saudara laki-lakinya. Mereka melakukan itu demi menutup penghasilan orang tua mereka yang pas-pasan dan kebutuhan rumah tangga yang cukup banyak.

Sementara, saudara-saudara perempuannya bekerja di toko donat dan menjadi pelayan di sana.

"Suatu hari nanti aku akan mendapatkan pekerjaan dan membawa pulang sesuatu untukmu," janjinya pada Ibu.

"Cari saja apa yang dapat kamu lakukan untuk Tuhan," ucap Ibu merespon. Masalah timbul karena saat itu David Green mengaku dirinya tidak tahu apakah ada sesuatu yang dapat ia lakukan untuk Tuhan.

Hari itu pun berlalu dan suatu ketika saat sedang mencari mata pelajat yang hendak akan dijalaninya tahun itu, ia melihat ada sebuah kelas bernama Pendidikan Distributif.

“Apa itu Pendidikan Distributif?” tanyanya pada seorang guru.

“Pendidikan Distributif adalah sebuah program yang memungkinkan siswa untuk bekerja dengan salah seorang pebisnis di kota ini. Selain Anda mendapatkan kredit kelas, Anda pun dibayar."

David Green pun mengambil kelas tersebut dan pihak sekolah mengirimkannya ke McLellan – perusahaan yang cukup terkenal di kotanya. Di sana, ia bertemu dengan seorang pria berumur bernama T. Texas Tyler.  

"Apa jenis pekerjaan yang akan aku dapatkan disini? " tanyanya pada pria yang dipanggil dengan sebutan Tuan Tyler.

"Sapu lantai atas atau buanglah kotak-kotak yang ada di kantor ini," ujar tuan Tyler kepadanya.

Tanpa perintah dua kali, David Green langsung mengerjakannya tugas yang diperintahkan kepadanya. Hari demi hari, tugas yang dibebankan kepadanya terus berubah. Hanya saja pekerjaan yang ia lakukan lebih banyak di hal-hal yang berhubungan dengan administrasi atau kebersihan kantor.

Suatu kali, Tuan Tyler memintanya untuk memanggang beberapa jenis kacang dengan jumlah yang sangat banyak. Tanpa bermaksud untuk menolak perintah tapi David bertanya kepada pimpinannya, “Mengapa kita tidak hanya menjual kacang mentah seperti perusahaan pesaing yang lain?".

"Pikirkan pelanggan kita," jawab Tuan Tyler kepadanya. Salah satu pelanggan terbesar McLellan adalah Officers Club yang berlokasi di pangkalan Angkatan Udara di luar kota. Ketika Officers Club mengadakan pesta, mereka ingin kacang panggang dan semuanya sudah dicampur.

“Dan mereka bersedia membayar untuk kenyamanan itu," ujar Tuan Tyler kepada David Green.

Setelah lulus sekolah menengah atas nanti, ia pun mengingat perkataan tuan mengenai mendahulukan kebutuhan pelanggan dibandingkan segalanya.

Sementara itu, atas usaha kerjanya di McLellan bertahun-tahun (bahkan sampai SMA), David Green berhasil membelikan sebuah set perlengkapan ruang makan. Tidak hanya itu saja, ia juga bisa membantu proyek-proyek misi gereja ayahnya dalam hal dana.

Mendirikan Perusahaan Ritel Hobby Lobby

Beranjak dewasa dan berbekal pengalaman di masa remaja, David Green akhirnya memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri yang diberi nama Hobby Lobby.

Dalam menjalankan perusahaan ritelnya itu, David Green selalu menerapkan prinsip yang pernah ia dapatkan dari Tuan Tyler, yakni tempat orang di posisi paling utama. Jangan terjebak dengan rutinitas di belakang meja. Kerjakan sesuatu dan temukan cara untuk melakukan apa yang bisa Anda lakukan untuk Tuhan.

Sebagai bentuk komitmen pribadi, ia menetapkan Hobby Lobby tutup di hari minggu. Kebijakan tersebut tidak ia ubah bahkan di saat perusahaan sedang mengalami kerugian besar.

“Karyawan kami selalu pasti dapat menghabiskan hari Minggu di rumah dan melaksanakan ibadah dengan keluarga mereka, dan itu lebih penting bagi saya,” ungkap David Tyler.

Menariknya dengan cara yang ia terapkan tersebut, Hobby Lobby tetap bisa menjadi salah satu perusahaan ritel terkemuka di Amerika Serikat hingga kini.


Baca juga :

Kisah Nyata Suami-Istri yang Terjerat Narkoba

Break Every Chain, Lagu Penyembahan yang Sederhana Namun Penuh Kuasa

Tasha Cobbs 

Melayani Tuhan Dari Berbagai Penjuru Dunia

Label Dari Tindakan Kita  

8 Efek Negatif Mengonsumsi Minuman Beralkohol Secara Berlebihan

Thread Forum JC : Dokumentasi Aksi Sosial (JCers Goes to Panti Rehab YBMI)

Sumber : guidepost.org / bm
Halaman :
1

Ikuti Kami