Karena Tak Cinta, Aku Tak Pernah Layani Suamiku

Karena Tak Cinta, Aku Tak Pernah Layani Suamiku

Budhi Marpaung Official Writer
76400

Pernikahan adalah momen yang sangat spesial. Robert, sang mempelai pria tampak sangat bahagia, tetapi tidak dengan mempelai sang wanitanya. Apa yang sesungguhnya terjadi?

10 hari sebelum pernikahan, Elisa Sri Indahsari sebenarnya sudah menolak untuk dinikahkan oleh kedua orangtuanya. Adapun alasan ia melakukan itu karena ia tidak mencintai Robert Sunarto Putro, sang calon suami yang merupakan pilihan dari ayah dan ibunya. Namun ternyata tindakannya tersebut justru berbuah amarah dari sang ayah.

Dengan alasan tidak menghargai usaha keras yang telah dilakukan selama ini, Elisa mendapatkan perlakuan kasar dari sang ayah. Tamparan, jambakan, dan guyuran air harus ia terima setelah ia terus melawan apa yang diucapkan sang ayah.

Terus menerus dihajar, Elisa yang memang sudah lama menaruh sakit hati kepada orang yang menjadi suami dari ibunya tersebut tetap menunjukkan sikap kerasnya. Beruntung, ketika sang ayah akan semakin membabi buta, ia mendapat pertolongan dari tetangga di samping rumahnya. Nyawa Elisa pun hari itu selamat.

Singkat kisah, Elisa mau juga untuk mengikuti apa yang menjadi kemauan dari orangtuanya, yakni menikah dengan Robert. Akan tetapi, seperti halnya rumah tangga-rumah tangga yang tidak didasari cinta, keluarga baru pasangan muda ini pun kerap dipenuhi dengan konflik. Apalagi sejak diketahui malam pertama menikah  Elisa tidak mau diajak berhubungan badan, masalah kian silih berganti menerpa mereka.

Robert yang merasa layak untuk menerima “pelayanan” dari Elisa mencari berbagai cara agar istrinya mau untuk melakukan hubungan suami istri. Hanya saja, usaha-usahanya itu tetap tidaklah membuahkan hasil positif. Sebaliknya, Elisa yang merasakan tidak dimengerti dan dicintai justru menyambut perhatian dari pria lain.

“Dia bilang bahwa dia simpati sama saya, dia suka sama saya. Saya merasa ‘o, ada yang merhatikan saya, ada yang sayang sama saya’. Saya cari orang yang mengasihi, dia mengasihi saya, ya saya terima dia. Tetapi, saat benar-benar akan melakukan hubungan suami istri, tanpa sengaja tangan dan kaki saya langsung menendang dan memukul,”

“Dia pun melepaskan saya dan bilang, ‘ya, tidak apa-apa, disini kamu lagi belajar’. Saya mulai berhentinya dan tidak lagi berhubungan dengan dia saat dia bilang ‘kita saling mencintai, saling mengasihi, itu anugerah dari Tuhan’, nah baru saya sadar, ‘iya memang cinta itu anugerah dari Tuhan, tetapi kita punya hubungan itu salah. Masing-masing sudah mempunyai pasangan, dan itu salah dan itu sangat berdosa, hubungan kita pokoknya sampai disini saja,” ungkap Elisa.

Pada saat Elisa sedang menjalin hubungan gelap dengan pria lain, di waktu itu juga Robert sedang meniti karir di Jakarta. Di kota itu, ia juga mengikuti kegiatan pembinaan rohani.

“Kesempurnaan seorang laki-laki adalah sama dengan kesempurnaan Kristus. Disitulah saya mengalami pemulihan. Saya bertobat dari dosa-dosa saya yang pernah saya lakukan terhadap istri. Dari situlah saya menemukan bagaimana kalau istri itu benar-benar berharga. Saya menuliskan surat cinta buat istri saya. Dari situ saya menemukan saya benar-benar mencintai istri saya secara penuh,” ujar Robert.

“Terus sampai enam bulan suami saya pindah ke Tangerang, saya nyusul. Dan di Tangerang pun, kami tidak melakukan hubungan suami istri. Saya sangat salut, saya ngga bisa, dia menyadari dan dia mau membantu. Jadi, pelan-pelan, meskipun ngga pun, ia menerima,” aku Elisa.

Cinta dan penerimaan Robert membuat perubahan di hati Elisa. “Saya selalu minta sama Tuhan, ‘Tuhan, kalau memang Tuhan sudah kasih seorang suami, meskipun awalnya saya tidak suka, kalau pun ini memang jodohmu kenapa saya tidak bisa melayani dia. Tuhan, buat saya bisa,” kata Elisa sambil mengurai air mata.

Kesabaran Robert membuahkan hasil. Hubungan mereka semakin membaik. Elisa pun menerima perlakuan mesra dari Robert, meski belum seutuhnya, “Saya semakin mengasihi dia, akhirnya bisa melakukan hubungan suami istri karena kesabaran suami saya.”

Sembilan bulan kemudian, mukjizat terjadi. Elisa dan Robert dikarunai seorang anak.

Suatu hari, Elisa memberanikan diri untuk menceritakan rahasia yang selama ini ia simpan kepada pembimbingnya. “Ibu gembala telepon, nyuruh saya datang ke ibadah. Sesampainya disana, saya ikuti setiap acara demi acara di ibadah itu. Saat firman Tuhan dibagikan saya diingatkan tentang hati Bapa – kalau kita mungkin kecewa dengan bapak di dunia, tetapi Bapa di surga itu jauh lebih luar biasa, Dia memperhatikan kita, tahu kebutuhan kita”

“Disitu saya sadar, ’sudahlah lepaskan sakit hati dan kepahitan kepada orang tua’. Saya pun maju dan terus saya didoakan. Pas didoakan itulah, saya melepaskan kemarahan saya, sakit hati saya, saya mengampuni bapak saya. Sepanjang ibadah itu, yang ada saya nangis dan bersyukur bahwa selama ini ternyata ada pribadi yang mengasihi saya.”

Mengira bahwa Tuhan sudah selesai bagi kehidupannya hari itu, diluar dugaan pada saat sesi kedua di ibadah yang ia ikuti, Tuhan kembali melawatnya. Disitu, ia melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang telah menyakitinya selama ini, khususnya pria-pria yang pernah melakukan pelecehan seksual kepada dirinya, termasuk suaminya.

Sepulang dari ibadah tersebut, Elisa membuat pengakuan kepada Robert. Dengan bercucur air mata, ia mengatakan bahwa ia pernah berselingkuh dengan pria lain dan ia pasrah jika ia ditinggalkan ataupun diceraikan. Namun, di luar dugaan, sang suami tidak marah. Malahan, sang suami justru berkata tidak apa-apa dan mengajak doa dirinya kepada Tuhan.

“Sepanjang doa, ya saya nangis terus karena merasa ‘Ya, Tuhan kok bisa sih saya mendapatkan suami yang baik banget.”

Sejak peristiwa itu, Elisa melepaskan masa lalu buruk yang ia alami. Tuhan pun memulihkan keadaan Robert dan Elisa. Sekarang, keluarga ini menjadi keluarga yang penuh dengan kasih dan cinta Tuhan. Atas hal tersebut, Robert menyatakan rasa terima kasihnya kepada Tuhan.

“Anak dan istri, mereka berdua adalah anugerah terbesar bagi saya. Saya mengucap syukur sekali damai sejahtera Tuhan sungguh berlimpah-limpah di dalam keluarga saya.”

Sumber Kesaksian :

Elisa Sri Indahsari 

Sumber : V111214143105
Halaman :
1

Ikuti Kami