Kisah Nyata Ike yang Dua Kali Ditinggal Suami

Kisah Nyata Ike yang Dua Kali Ditinggal Suami

Yenny Kartika Official Writer
12047

Memiliki ibu yang gila adalah sebuah tekanan bagi Ike Dianita dan keluarganya. Cacian dan hinaan dari orang-orang sekitar sudah sering Ike terima.

Bahkan kalau ada lelaki yang suka sama dan mendekati Ike, keluarga dari lelaki itu selalu menentang karena kondisi ibu Ike. “Di saat ada temen cowok saya mendekat, pasti keluarganya temen cowok ini mesti cari saya, terutama mamanya,” kata Ike.

Saat usianya menginjak remaja, Ike dijodohkan oleh orangtuanya. “Umur 18 saya diharuskan menikah, karena usaha Bapak saya pada waktu itu pailit padahal adik-adik saya butuh biaya sekolah.”

Menikah di usia muda, Ike tidak memikirkan soal cinta ataupun materi. Yang dia rasakan justru perasaan bebas karena bisa lepas dari ayahnya. “Saya menikah, boleh dikatakan itu saya lari dari papa saya dan saya pikir dengan begini saya sudah lepas dari rotan,” tutur Ike. Rupanya, bagi Ike, papanya adalah sosok yang menakutkan. Pasalnya, kalau anaknya melakukan kesalahan, papa Ike selalu memukulkan rotan dengan kejam. “Saya sangat trauma,” kata Ike mengenang peristiwa dipukul pakai rotan oleh ayahnya.

Ike berjuang keras di usianya yang masih 18 tahun. Dia punya cita-cita untuk bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Harapannya yang lain adalah, Ike bisa membawa ibunya kemanapun dia pergi.

15 tahun kemudian…

Sejak menikah, memang keadaan ekonomi Ike terangkat. Dengan kehadiran 3 orang anak, kebahagiaan Ike sepertinya kian bertambah. Namun di tengah keharmonisan keluarga Ike, terjadi peristiwa duka. Suami Ike meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung! Ike pun harus berjuang sendirian membesarkan anak-anaknya.

“Setelah 6 tahun hidup sebagai single parent, saya akhirnya bertemu dengan seorang pria bernama Andry,” kata Ike. Mereka pun semakin mengenal dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Ike mengenal suaminya ini sebagai orang yang lemah lembut. “Andry ini kan orangnya lemah lembut, jadi bicara pun engga keras. Jadi, saya memang lebih senang dengan sosok yang jauh-jauh dari sosok papa saya.”

Namun, di usia 13 tahun pernikahan mereka, goncangan rumah tangga terjadi. Andry mulai suka berbicara kasar dan menyendiri. Rupanya, ada wanita lain di hati Andry selain istrinya.

Andry pun lari, kabur meninggalkan Ike dan anak-anaknya. Suatu kali, sebuah surat diterima Ike. Isinya, “bahwa saya digugat cerai oleh suami saya. Saya sangat terkejut sekali, dan rasanya waktu itu saya tidak percaya bahwa suami saya melakukan seperti ini,” ungkap Ike.

Ike tidak mengerti apa yang sudah dilakukannya. Ike juga tak tahu harus bagaimana menjalani hidup ke depannya tanpa kehadiran suami, untuk yang kedua kalinya. Untungnya, selama melewati masa-masa terpuruk itu Ike mendapat dukungan dari salah satu anaknya, Maria Fillianciane.

“Waktu itu, saya cuma bisa nemenin Mama setiap saat dan berusaha menguatkan Mama,” kata Maria.

Menghadapi gugatan cerai ditambah mamanya yang gila, membuat Ike semakin stress. “Di dalam hati, rasanya saya ingin mengakhiri hidup. Saya sudah merasa, buat apa hidup begini?” kata Ike.

Di tengah malam yang sunyi, Ike pun menonton TV. Tak sengaja ia menemukan sebuah saluran televisi yang sedang menayangkan SOLUSI. Melihat nomor telepon yang tertera di layar, Ike kemudian memutuskan untuk menghubunginya dan menceritakan masalahnya kepada konselor CBN.

Melalui proses konseling, Tuhan mulai melembutkan hati Ike. Kebenaran demi kebenaran firman Tuhan membuat Ike bertekad untuk mengambil sebuah keputusan penting. “Saat kita mengharapkan orang lain berubah, kuncinya adalah pengampunan,” demikian perkataan konselor kepada Ike.

Selain itu firman Tuhan juga berkata, bahwa sebelum kita melepaskan pengampunan, Tuhan Yesus tidak akan mengampuni kita. “Saya merasa harus mengampuni karena Yesus sudah lebih dulu mengampuni saya. Saya orang yang penuh dengan kesalahan dan dosa, tetapi Tuhan menebus saya di kayu salib. Jadi saya mau mengikuti firman Tuhan. Saya harus mengampuni suami saya. Saya berdoa kepada Tuhan, ‘Apapun kehendak-Mu yang terjadi, saya ikut’,” kata Ike.

Ketika keputusan untuk mengampuni diambil oleh Ike, sebuah mujizat terjadi. Gara-gara konflik yang terjadi dalam rumah tangganya, suami Ike tadinya sudah menetap di luar negeri dengan seorang wanita dan memutuskan pisah dengan istrinya. “Tetapi di dalam hati saya terus-menerus terjadi kegelisahan,” kata Andry. “Karena saya sangat sayang sekali dengan anak yang paling kecil.”

Betapa kaget, terharu, bercampur senang rasanya saat Ike menerima telepon dari Andry. Suaminya itu mengabarkan bahwa dia akan pulang ke Indonesia.

Andry kembali ke rumah bersama keluarganya.

“Bagaimana kabar kamu selama di sana, Pa?” tanya Ike memulai pembicaraan.

“Aku baik-baik saja, Ma,” jawab Andry.

Andry kemudian meminta maaf kepada Ike atas perbuatan menyakitkan yang telah ia perbuat. Sebulan kemudian, pernikahan pasangan ini diteguhkan kembali, dan mereka menjadi satu lagi.

“Sampai dengan sekarang, rumah tangga kami tidak ada masalah apapun, dan rumah tangga kami kembali harmonis. Itu semua karena campur tangan Tuhan Yesus,” kata Ike. Saat inilah, Ike merasakan keluarga yang benar-benar sempurna.

Maria, putri mereka, jelas berbahagia dengan keutuhan kembali keluarganya. “Saya sangat senang dengan kembalinya Mama sama Papa. Ini jauh lebih baik daripada dulu, bahkan sekarang keluarga kami semakin harmonis dan semakin kompak,” ungkap Ike.

Andry tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya kepada Tuhan. “Saya bersyukur saat ini karena Tuhan sudah menegur saya dan saya bisa hidup bahagia dengan istri dan anak-anak,” katanya.

“Saya mengerti sekarang bahwa kebahagiaan rumah tangga yang ideal itu bukan diukur dari materi ataupun perhatian, namun yang terutama adalah campur tangan Tuhan di dalam kehidupan rumah tangga saya.”

“Dan untuk ke depannya, saya akan menjadi seorang ibu yang ideal dan menjadi seorang istri yang setia kepada suami, dan yang lebih lagi saya akan merawat Mama saya dengan baik,” pungkas Ike.

 

Sumber Kesaksian:

Ike Dianita

Sumber : V130827142307
Halaman :
1

Ikuti Kami