Kisah Nyata Yan Ishak dan Kuasa Kekerasan

Kisah Nyata Yan Ishak dan Kuasa Kekerasan

daniel.tanamal Official Writer
4784

Masa kecil Yan Ishak hidup dengan kebahagiaan bersama keluarganya. Namun kebahagiaan itu sirna ketika ayahnya meninggal dunia dan Yan harus hidup dengan kerasnya om dan tantenya. Kesuksesan yang diraihnya ketika telah berumah tangga pun justru menjadikannya gelap mata dan sering kasar terhadap sang istri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Inilah kisah nyata Yan Ishak dan Kuasa Kekerasan.

Usai ayahnya meninggal, sang ibu pun akhirnya mencari pekerjaan diluar kota. Sedangkan Yan hidup bersama om dan tantenya. Kehidupan keras pun dimulai, Yan seringkali mendapat perlakuan kasar dari om dan tantenya dirumah.

“Kami salah sedikit dihajar, tidak ada kasih sama sekali. Jadi ditempa dari sejak kecil dengan kekerasan. Sehingga saya tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian sebagai seorang anak,” kata Yan.

Kesepian, kesendirian dan juga kesulitan hidup membuat Yan bertekad untuk menjadi orang yang sukses dan menjadi kaya agar dirinya tidak hidup kembali dalam kesulitan. Untuk itulah setelah perjalanan panjang, Yan berhasil menjadi seorang kontraktor sukses yang sering mendapatkan proyek-proyek besar. Yan hidup dipuncak kesuksesan.

Namun perilaku Yan dirumah sangat bertolak belakang. Meski dirinya perhatian dan menyayangi anak-anaknya, namun Yan sangat kasar dan tidak menaruh kasih sayang terhadap sang istri. “Saya pernah berpikiran bahwa kok suami saya tidak memperlakukan saya dengan baik. Tidak ada kasih terhadap istri dan tidak ada cintanya. Artinya dia benar-benar seperti tidak menganggap bahwa saya ada dirumah,” ujar sang istri, Selvi.

Ternyata dipuncak kesuksesan inilah, Yan menjadi seorang yang terbuai oleh kekayaan yang dihasilkannya. Dirinya melakukan perselingkuhan dan banyak kesenangan lainnya diluar rumah tangga. “Ketika itu kondisinya happy-happy saja, tidak ada memikirkan keluarga. Ada uang untuk melakukan dosa-dosa,” ujar Yan.

Ketika perselingkuhannya diketahui sang istri, Yan pun terbakar amarahnya dan seketika itu menghajar sang istri. Bahkan pukulan Yan kepada istrinya seperti seseorang yang hendak membunuh. Sang istri pun mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah sejenak, untuk mengambil waktu berdoa bagi suaminya itu.

“Melihat keadaan suami saya seperti itu, jadi saya mengambil keputusan, saya harus doakan suami saya. Saya berdoa, Tuhan selamatkan jiwa suamiku, agar dia mengalami kasihNya Tuhan, seperti yang saya alami kasihNya Tuhan. Sehingga dia bisa menjadi suami yang benar-benar mengasihi keluarganya. Meskipun dirumah tangga saya mengalami aniaya, namun ketika saya berdoa saya merasa dekat dengan Tuhan,” ujar Selvi.

Namun kuasa Tuhan menjamah Yan melalui teguran sang anak yang mengingatkan bahwa perlakuan Yan terhadap istrinya adalah kejahatan. Seketika itu Yan tersadar dan kembali mengingat masa lalu bahwa sebuah perceraian atau perpisahan adalah masa kelam dan kepahitan yang seharusnya tidak dijalani. Yan mulai mengingat kembali kebaikan-kebaikan sang istri yang selama ini begitu menyayangi dirinya.

Yan pun akhirnya meminta maaf dan meminta agar sang istri kembali lagi bersama. Sang istri pun dengan sukacita menyambutnya. Kehidupan rumah tangga merekapun dipulihkan. Yan berubah menjadi pribadi yang lebut dan takut akan Tuhan dan senantiasa menjadi kepala rumah tangga seutuhnya.

 

 

 

 

 

Sumber : V130813134645

Ikuti Kami