Bercermin di Hadapan Allah

Bercermin di Hadapan Allah

Yenny Kartika Official Writer
7402

Setiap hari sebelum berangkat kerja atau bepergian, kita pasti bercermin. Ketika bercermin, kita merapikan cara kita berpakaian, riasan wajah, menyisir rambut, dll. Dengan terlebih dahulu berada di depan cermin sebelum bepergian, kita menjadi lebih percaya diri sebab kita sudah memastikan penampilan kita. Dengan bercermin, kita yakin cara berpakaian dan riasan wajah kita sudah ‘beres’, sehingga tidak ada kekuatiran ‘untuk ditertawakan’ atau ‘dibicarakan’ karena ketidakberesan penampilan.

Seberapa pentingkah kita bercermin di hadapan Tuhan? Bagaimana caranya? Dalam [kitab]Mazmu15:1-5[/kitab] kita dapat melihat bagaimana cara Daud bercermin di hadapan Tuhan.

Dalam perikop ini, pemazmur memaparkan kualitas hidup dari sudut standar Allah, yang diawali dengan pernyataan “siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?” Kemah yang dikatakan pemazmur ini mengingatkan akan kemah yang senantiasa didirikan bangsa Israel dalam perjalanan menuju Tanah Kanaan yang di dalamnya terdapat tabut perjanjian sebagai lambang kehadiran Tuhan. Dan penyebutan ‘gunung’ mengingatkan akan tempat di mana Tuhan seringkali berbicara kepada umat-Nya melalui perantaraan nabi. Pertanyaan yang ada dalam mazmur ini sudah jelas jawabannya. Ketika hidup kita disejajarkan dengan kekudusan Allah, maka jelas tidak ada seorangpun yang dapat atau layak berhadapan dengan Allah dalam kemah dan gunung-Nya. Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Jawabannya adalah, tidak seorang pun, kecuali bagi mereka yang sudah dibenarkan di dalam Dia yaitu kita sebagai orang percaya. Dengan demikian, yang melayakkan seseorang di hadapan Allah adalah anugerah dan kasih-Nya.

Lalu, apakah kemudian itu berarti orang percaya bisa bebas menjalani hidup sesuai dengan keinginannya sendiri? Tentu tidak! Orang percaya seharusnya senantiasa berusaha untuk mempunyai gaya hidup seperti yang dipaparkan pemazmur (ayat 2-5). Sebab, buah anugerah dan kasih Allah dalam diri orang percaya adalah kehidupan yang menjadi saksi, yang berpadanan dengan kesediaan bertumbuh, serta melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Nya. Oleh karena itu, kualitas hidup yang dipaparkan oleh pemazmur harus menjadi ‘cermin’ untuk melihat hati dan pikiran agar kita ‘berpenampilan pantas’ di hadapan Tuhan dan sesama.


Sumber: Suplemen GKI

 

BACA JUGA:

Tips Bisnis: Muliakan Tuhan dengan Bisnismu!

Standing Solid in The Truth

VIDEO: Kubur Itu Kosong, Yesus Sudah Bangkit

Amen, Suami yang Ditundukkan Istri dengan Pukulan

Tetap Mencintai Walau Terluka, Benarkah Ini?

Sumber : Suplemen GKI
Halaman :
1

Ikuti Kami