Kisah Nyata Yosua, Pemuda yang Dijuluki Kurus-Tinggi-Ceking

Kisah Nyata Yosua, Pemuda yang Dijuluki Kurus-Tinggi-Ceking

Yenny Kartika Official Writer
9282

Karena tubuh saya kurus, tidak heran kalau saya diejek oleh teman-teman saya. Saat saya kelas 4 SD, saya mulai bermasalah dengan gambar diri. Saat itu, saya sangat dikucilkan karena badan saya yang tinggi, sementara teman-teman saya tidak setinggi saya.

Banyak orang yang menjuluki saya Si Kurus, Si Ceking, dan Si Tinggi. Memang sih badanku tinggi, tapi namaku ‘kan Yosua, bukan Si Tinggi.

“Hei Tinggi, Tinggi, sini lo!” demikian mereka memanggilku. Saya kesal. Dengan perlakuan mereka yang seperti itu, saya jadi merasa minder. “Kapan, ya, saya bisa punya badan gede dan berisi?” demikian saya berkhayal waktu itu.

Saat kelas 4 SD, ada satu perlakuan yang paling membuat saya marah, kesal, dan benci. Waktu itu adalah jam istirahat. Tiba-tiba saya disekap ramai-ramai. Saya diperlakukan tidak senonoh oleh mereka. Saya ditelanjangi.

Mereka betul-betul tidak memiliki sopan santun. Mereka bekerjasama membentuk lingkaran, lalu mereka saling melempar celana saya, sehingga saya harus lari-lari untuk mengejar celana itu. Saya tidak bisa menangkapnya. Sampai waktu istirahat selesai, barulah celana tersebut diberikan kepada saya.

Dalam peristiwa itu saya benar-benar malu. “Udahlah, gue engga mau lagi sekolah. Gue mau pindah!” begitu tekadku. Saya semakin mempercayai bahwa diri saya jelek, karena tak ada yang menerima saya.

Selama setahun saya di kelas 4 sampai naik ke kelas 5, saya selalu dikata-katai.  Saya ingin balas dendam kepada mereka dengan menggunakan pisau. Saya tidak peduli kalau harus masuk penjara. Tapi akhirnya niat itu saya batalkan. Mengapa? Karena saya pikir, nanti saya bisa masuk neraka. Jadi, terserah mereka sajalah. Apapun ejekan apa yang mereka katakan, saya terima saja.

Meskipun teman-teman di luar mengata-ngatai saya, untungnya keluarga bisa menerima saya, terutama kakak saya. Kakak selalu mendukung dan melindungi saya. Saya mempercayai dia.

Lalu ketika saya bergabung dalam sebuah komunitas, saya merasakan sebuah penerimaan. Waktu saya datang, mereka mengucapkan, “Hai!” kepada saya. Walaupun sekedar “hai”, saya merasakan sebuah perbedaan, sesuatu yang mengasyikkan.

Dari teman-teman baru, saya selalu mendengar kata-kata positif. “Ayo, Yos, bangkit! Kamu jangan menganggap dirimu lemah dan tidak memiliki hal yang baik,” begitu kata mereka. “Walaupun dunia ini menolak kamu, tapi Tuhan menerima kamu apa adanya. Kamu berharga di mata-Nya.”

Setiap kata-kata yang diucapkan mereka nemplak banget bagi saya. Sementara teman di sekolah selalu meledek saya, kawan-kawan di komunitasku tak pernah henti mengirimkan saya SMS, “Yos, tetap sabar ya. Kamu harus kuat.” Saya bersyukur sekali karena mereka begitu baik.

Saat ini saya sudah menjadi seorang yang percaya diri. Apa yang mengubah saya? Paradigma yang baru, yaitu tentang mengasihi. Saya belajar bahwa saya harus mengampuni orang-orang yang telah meledek dan mengeroyoki saya. Saya tidak mau lagi berpikir tentang keburukan mereka, karena itu hanya menghambat kehidupan saya. Masa depan telah menanti saya di depan dan Tuhan telah mengaruniakan banyak potensi yang bisa saya kembangkan.

Selain studi, kesibukan saya sekarang adalah mengajar di sebuah LSM di Jakarta. Murid yang saya ajar adalah anak-anak yang ingin bersekolah tapi tidak memiliki biaya.

Dengan gambar diri yang sudah pulih, saya ingin menyampaikan bahwa kalian berharga di mata Tuhan. Kalian berharga karena apa yang Tuhan katakan tentang kalian, bukan apa yang orang lain katakan.

 


Sumber Kesaksian:

Yosua Kapitan

Sumber : V130218171844

Ikuti Kami