Kenji Michitakasago: Bocah Penuh Penderitaan

Kenji Michitakasago: Bocah Penuh Penderitaan

Tammy Official Writer
33069

Kenji Micitakasago, saat usia enam tahun  papa yang asli Jepang selingkuh dan kembali ke negaranya. Tidak hanya sampai di situ, mamanya kemudian menikah kembali dengan seorang pria yang membuat dia dan mengalami penyiksaan yang sangat kejam.

Kenji berkisah, "Dia menyuruh saya apa, kadang saya tidak menyanggupi, dia menendang saya, dia menonjok saya. Saya itu seperti dianggap bukan manusia, tapi dianggapnya binatang. Penyiksaan yang akhirnya membuat saya memutuskan hidup di jalan itu saya ditelanjangi, lalu diikat dengan rantai anjing dan ditetesi lilin dari ujung kepala sampai ujung kaki, bahkan daerah kemaluan."

Perihnya pukulan dan aniaya dari ayah tirinya membuat Kenji memutuskan untuk meninggalkan rumahnya. Kenji akhirnya bekerja sebagai penyemir sepatu di jalan. Namun hidup dijalanan bukanlah hal yang mudah, ia harus bergaul dengan pengedar narkoba, tante girang, germo dan banyak orang lainnya.
"Disitu saya sempat disuruh jual narkoba dan melayani tante-tante, tapi saya tidak mau melakukan semua itu," demikian pengakuan Kenji.

Saat itu Kenji seperti tidak bisa melihat masa depannya, terlebih anggapan orang yang memandangnya rendah sebagai seorang anak jalanan.

Hingga suatu hari Kenji belum makan selama dua hari karena belum mendapatkan pelanggan. Ia berdiri di depan rumah makan cepat saji dan memandangi sebuah keluarga yang begitu harmonis memakan makanan bersama. Kenji merasakan kerinduan menginginkan keluarga seperti yang ia lihat. Kenji hanya termenung saja dan terdiam. Setelah keluarga keluar sehabis makan, Kenji masuk dan memunguti tulang-tulang sisa makanan mereka. Ketika Kenji mengambil sisa makanan itu, ia dikejar sekuriti.

"Waktu saya dikejar sekuriti saya lari dan berpikir saya mungkin akan ditangkap dan dipukuli lagi. Saya coba terus lari dan membawa tulang ayam yang saya dapatkan. Sampai di tempat yang aman, saya melanjutkan memakan makanan itu. Di situ saya merasa hancur. Kenapa penderitaan ini rasanya terus terjadi lagi tak habis-habis. Saya harus memakan makanan sisa orang. Saya hanya bingung dan saya menikmati makanan tulang ayam itu selayaknya orang makan," Kenji berkisah.

Kehidupan di jalanan yang keras harus ia jalani selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang tingkahnya mencurigakan. Saat itu sekitar pukul 3 dini hari di daerah Mangga Besar, Kenji sedang menyemir sepatu.

"Saya hanya diam saja, karena saya pikir semua manusia itu sama, hatinya itu jahat dan busuk. Ini jangan-jangan ngejebak lagi nih.. Satu minggu orang ini terus mengintai saya, mengikuti saya, akhirnya saya baru tahu nama orang itu adalah Ko Aon.

Seorang pria bernama Aon Santoso yang sedang dalam perjalanan menuju pelayanan. Ia melihat Kenji dan hanya berpikir mungkin Kenji hanya seorang anak nakal yang ingin bermain di jalan sampai malam dan belum pulang.
"Setelah satu minggu saya telusuri dia, dia bercerita. Dua hari... satu malam... anak sembilan tahun untuk mengisi perut dengan tulang-tulang ayam bekas orang. Sebagai pelayan Tuhan saya bergumul dan akhirnya saya putuskan untuk membawa dia pulang," kisah Aon Santoso mengenai terbebannya hatinya melihat keadaan Kenji.

Kenji akhirnya tinggal bersama keluarga Aon dan dibimbing untuk mengalami pemulihan hidup, bukan hanya secara fisik, tetapi juga rohani.

"Saya lihat dari kehidupan Ko Aon, beliau itu sungguh-sungguh mengasihi saya. Jadi saya memutuskan untuk hidup dengan Ko Aon. Hal yang diajarkan Ko Aon itu kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab.Sejak saya tinggal bersama Ko Aon saya diajak untuk mengenal Tuhan Yesus, saya dibimbing  secara langsung dan saya merasakan kasih Tuhan Yesus dalam kehidupan saya.Sejak mengenal Tuhan, saya merasakan ada sukacita, damai di hati, jadi saya merasa tidak ada lagi orang yang menyiksa saya karena dalam hati saya sudah ada Tuhan Yesus. "

Sejak Kenji mengenal dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat melalui bimbingan Aon, hidupnya berubah seratus persen, dari orang yang putus asa menjadi pribadi yang memiliki pengharapan yang kuat.

"Dulu saya hidup di jalan ngga dianggap orang, ngga dihargai orang, tapi pada saat saya mengenal Tuhan, Dia memberikan satu talenta kepada saya : bisa menciptakan lagu. Sejak saya mengenal Tuhan Yesus, saya tidak akan melepaskan Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus yang pegang masa depan saya," demikian Kenji menutup kesaksiannya.

Sumber kesaksian:
Kenji Micitakasago

Sumber : V130108170127
Halaman :
1

Ikuti Kami