Meninggalkan Kemapanan Demi Suatu Panggilan

Meninggalkan Kemapanan Demi Suatu Panggilan

Papa Henokh Hizkia Immanuel Simamora Official Writer
      4124

Filipi 3 : 8

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,


Bacaan Alkitab Setahun : [kitab]Mazmu135[/kitab]; [kitab]Yohan12[/kitab]; [kitab]Ratap3[/kitab]

 

Ketika seseorang dipenuhi kasih Bapa karena pengenalannya kepada Yesus Kristus maka orang tersebut akan digerakkan oleh kasih untuk melayani Tuhan dan mengerti akan panggilan Tuhan atas hidupnya.

Jika seseorang memperoleh visi dari Tuhan dan didesak kasih Allah maka ia akan mengejar panggilan ilahi tersebut berapapun harga yang harus dibayar. Dan hal ini juga terjadi pada seorang yang bernama Daniel Alexander.

Sejak tahun 1980-an Daniel Alexander sudah menjadi penginjil keliling, bahkan hingga ke luar negeri. Ia kerap mengadakan kebaktian kebangunan rohani dan ia pun tergabung dalam PESAT (Pelayanan Desa Terpadu) hingga saat ini.

Di tengah kemapanan pelayanannya, hati kecil Daniel tergelitik dengan kata “sampai ke ujung bumi”. Kala itu ia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kemanakah aku harus pergi?” Tuhan pun berkata, “Jadilah saksiKu dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ujung bumi”. Ia terus merenungkan kalimat tersebut. Lalu ia bertanya pada Tuhan, “Di manakah ujung bumi?”

Hingga suatu hari Daniel mendapat jawabannya setelah ia membaca buku yang sudah cukup tua usianya. Judulnya, From Jerusalem to Irian Jaya. Dari buku itulah ia memutuskan untuk melayani di Papua. Karena menurut buku tersebut, dan ia sangat yakin, Papua lah ujung bumi itu.

Panggilan dan kecintaannya pada Papua semakin bertambah karena melihat anak-anak Papua yang butuh pendidikan. Untuk itulah Daniel Alexander tidak ragu lagi untuk datang ke tanah Papua mencurahkan hidup dan cintanya demi anak-anak di Bumi Cenderawasih yang dinilainya jauh tertinggal dibanding daerah lain. Memasuki dekade 90-an Daniel memantapkan hatinya menetap di Nabire meninggalkan studi dan segala kemapanan hidup duniawi di Negeri Kanguru. Bahkan ia pun mengajak istri yang dicintainya untuk pindah dari Australia ke Pulau Cendrawasih tersebut.

Memang sangat sedikit orang yang paham dan menghayati akan panggilan Tuhan atas hidupnya. Bahkan yang sangat ironis masih terlalu banyak orang Kristen yang tidak mengerti tujuan hidupnya dan mau memuridkan orang lain. Walau demikian TUHAN masih terus mencari orang-orang yang seperti Daniel Alexander

Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.

Ikuti Kami