Meri Buta Huruf Namun Jadi Dokter Suku Dani Pertama di Papua

Meri Buta Huruf Namun Jadi Dokter Suku Dani Pertama di Papua

Lois Official Writer
3839

Namanya Meri Tabuni, umurnya sudah 80 tahun dan tinggal di Tagime, distrik di lembah pegunungan Jayawijaya. Berkat ketekunan dan keuletannya, kesehatan masyarakat di pedalaman itu terjaga. Meri tercatat sebagai tenaga medis pertama di kalangan suku Dani.

Meri tidak begitu lancar berbahasa Indonesia sehingga harus dibantu cucunya, dolly Tabuni, untuk menjelaskan perjalanan hidupnya yang berliku. Menurut Meri, dia mulai menjadi tenaga medis di pelosok pedalaman Jayawijaya saat masih berusia 30 tahun. “Kala itu, saya menjadi pembantu di sebuah peribadatan milik misionaris Belanda,” jelasnya. Di rumah misionaris tersebut, Meri bekerja serabutan membantu seluruh persiapan ibadah. Selesai ibadah, dia bekerja di klinik kesehatan milik misionaris tersebut. Di situlah awal mulanya Meri belajar menjadi perawat.

“Nenek saya benar-benar tidak tahu apa-apa saat itu. Beliau kan buta huruf, tidak bersekolah,” kata Dolly, cucu pertama di antara delapan cucu Meri. Ketika mulai diajar, Meri menggunakan bahasa adat suku Dani dan sedikit bahasa asing yang sering diucapkan para misionaris dan dia mengerti. Jadi, dia menggunakan prinsip hafalan untuk mengenali obat yang mana untuk mengatasi penyakit apa. Sampai pada akhirnya, Meri merangkap tugas sebagai perawat, bidan, sekaligus dokter.

Meskipun begitu, kehidupannya tidak meningkat taraf keuangannya, apalagi karena dia memang bekerja di klinik swasta milik lembaga keagamaan. Dia hanya memperoleh pemberian keluarga pasien yang biasanya dalam bentuk umbi-umbian dan sayuran. Namun, dia tetap bersemangat membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatannya.

Klinik milik misionaris itu kini sudah berubah menjadi puskesmas pembantu, namun setiap ada warga yang sakit, Meri bergegas mendatangi mereka dengan berjalan kaki, padahal jalan yang ditempuh bisa sangat jauh. Keberadaan Meri sebagai tenaga medis terlatih menjadi oasis bagi penduduk setempat. Dia menjadi cahaya di tengah kegelapan. Kiprahnya membuat cucunya mengikuti jejaknya. “Tapi puskesmas kami belum ada dokternya,” ujar Dolly. Sikap pengorbanan yang sudah jarang didapatkan. Teruslah jadi terang dan garam dunia

 

Baca Juga :

PDKT dengan Keluarga Pasangan

Natal dan Baksos dengan Oma Opa Panti Werdha Milenia

Chord Lagu : Indonesia Bagi Kemuliaan-Mu

Makan Buah dengan Kulitnya? Cuci Dulu Dengan Ini

Ikuti Ajang Lagu Positif di Jawaban.com Yuk

Sumber : jpnn.com by lois horiyanti/jawaban.com

Ikuti Kami