Masih Perlukah Disiplin Anak?

Masih Perlukah Disiplin Anak?

Papa Henokh Hizkia Immanuel Simamora Official Writer
2883

Banyak orang tua yang stres atau tertekan karena tidak bisa memahami perasaan, pikiran dan kemauan si anak. Sehingga kecenderungannya orang tua hidup dalam kecemasan maupun kemarahan. Tidak heran yang lebih banyak muncul pada kebanyakan orang tua adalah hukuman demi hukuman.

Padahal seorang anak itu sama seperti orang dewasa yang membutuhkan kebebasan, kesenangan dan rasa aman. Sama seperti orang dewasa, seorang anak membutuhkan kebebasan dalam menyatakan pendapat atau isi hatinya, seorang anak butuh kebebasan dalam memilih apa yang ia suka dan juga kebebasan dalam berekspresi. Coba Anda renungkan bila kebebasan Anda terbelenggu?

Setiap anak juga butuh kesenangan dan rasa aman. Tidak heran mereka sangat menyukai mainan maupun permainan. Mereka sangat gembira bila kedua orang tuanya punya waktu bersama dan mengajak mereka jalan-jalan. Atau bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka, seperti main bola dan tinju atau main masak-masakan maupun main boneka, itu pun akan sangat mengasyikkan. Bukankah sebagai orang tua kita juga punya kesukaan atau hobi seperti memancing, belanja, nonton atau baca majalah. Jadi bila Anda ingin kebebasan dan memiliki rasa senang dan aman maka hal yang sama diinginkan oleh anak Anda.

Mungkin sebagai orang tua, Anda akan bertanya, “Kapan mereka memperoleh didikan dan disiplin? Sebab waktu kecil saya sudah dididik dan didisiplin dengan keras supaya saya jadi “orang” seperti sekarang ini.”

Sebenarnya bila ayah dan ibu hidup sepakat dan sehati di dalam menerapkan nilai-nilai kebenaran yang diyakini, maka sang anak akan merasakan sendiri dampak kebenaran tersebut, karena mereka melihat langsung teladan kedua orang tuanya. Dari teladan tersebut mereka memperoleh pendidikan yang sangat berharga. Bukankah tindakan jauh lebih berkuasa dan berbicara sangat kuat dibandingkan perkataan kita?

Walaupun demikian sebagai orang tua kita tetap memberikan dan memberitahukan pada mereka pengetahuan apa yang baik dan apa yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan untuk menunjukkan keseriusan pada suatu hal yang memang esensi atau hakiki sang anak juga perlu mengenal konsekwensi seperti apa jika mereka melanggar. Namun sebagai orang tua kita sudah mempersiapkan jalan keluar yang terbaik dan bijaksana supaya si anak bisa melewati masalah tersebut.

Jika sebagai orang tua kita tidak menghukum dan menyalahkan diri sendiri akan kekurangan atau kegagalan yang terjadi, dan jika sebagai suami isteri tidak ada yang saling menyalahkan dan menghakimi meskipun banyak kekurangan atau kegagalan yang dimiliki. Maka kita akan mendapati diri kita hidup dalam damai sejahtera dan sukacita sehingga anak-anak kita merasakan hal yang sama dan mudah bagi mereka untuk mendengar dan mengerti nilai kebenaran seperti apa yang dianut orang tuanya.

Namun pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari tidaklah mudah bagi orang tua untuk tidak menyalahkan keadaan maupun diri sendiri karena banyaknya kekurangan dan kegagalan yang mereka alami. Itu sebabnya tidak heran sebagai orang tua sangat sukar hidup tanpa kecemasan, kuatir dan kemarahan.

Memang sangat sukar bagi orang tua di zaman ini, dan kususnya di Indonesia, yang harus berjuang mendapatkan financial yang lebih baik namun sekaligus harus bisa memiliki waktu bersenang-senang dengan putra putri mereka. Betapa sulitnya memberikan teladan dan hidup dalam damai sejahtera dan sukacita  secara natural sehingga anak-anak kita respek dan sayang pada kita.

Bagi manusia memang semua itu sukar, tapi tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya dan bertekun. Selama kita masih mempercayai kasih dan pengampunan-Nya maka kita tidak boleh menyerah dengan kegagalan di masa lampau. Dalam Yesus selalu masih ada harapan dan keajaiban.

Sikap penuh percaya dan semangat berjuang kita ini pun akan dilihat, dirasakan serta dipelajari oleh anak-anak kita.

Sumber : simamora joshua / jawaban.com

Ikuti Kami