Permusuhan tidak berhenti di Myanmar

Permusuhan tidak berhenti di Myanmar

daniel.tanamal Official Writer
4132

Negeri Myanmar seakan tak lekang dari perseturuan. Usai junta militer yang lama berkuasa kerap bertangan besi dengan melakukan serangkaian kejahatan manusia terhadap para penentangnya, kini kerusuhan antar etnis merebak dinegara yang sedang berjuang untuk demokrasi tersebut.

Hal ini ditegaskan oleh aktivis pro demokrasi asal Myanmar Aung San Suu Kyi, yang mengutarakan bahwa permusuhan dinegaranya seakan abadi dan tak kunjung selesai. "Permusuhan tidak berhenti di ujung utara. Di wilayah barat, kekerasan kelompok mengakibatkan pembakaran dan pembunuhan yang terjadi hanya beberapa hari sebelum saya mulai melakukan perjalanan yang membawa saya ke sini hari ini," katanya.

Suu Kyi yang baru saja menerima pernghargaan nobel perdamaian pada Sabtu (16/6) di Oslo, Norwegia, mengungkapkan bahwa dirinya akan selalu siap menyelesaikan masalah di Myanmar dan rekonsiliasi nasional. “Partai saya Liga Nasional untuk Demokraasi dan saya siap dan selalu ingin berperan dalam proses rekonsiliasi nasional. “Bagi saya, menerima nobel penghargaan berarti menambah kepedulian saya untuk demokrasi dan HAM. Hadiah nobel membuka pintu dalam hati saya,” ungkapnya.

Kondisi terbaru mengenai pertikaian antar etnis di Myanmar adalah konflik pemberontak di utara Myanmar dan kerusuhan komunal yang mengincar minoritas warga Myanmar yang beragama Islam. Kini pemerintah Myanmar telah telah menandatangani kesepakatan gencatan senjata sementara dengan sejumlah kelompok pemberontak.

Hal ini dilakukan dalam beberapa bulan terakhir sebagai upaya untuk meredakan konflik sipil yang telah terjadi di kawasan negara sejak kemerdekaan pada 1948. Konflik terparah kini berada di Rakhine dimana lima puluh orang tewas dan puluhan terluka dalam bentrokan antar etnis tersebut.

 

Sumber : kompas.com - dpt
Halaman :
1

Ikuti Kami