Gara-Gara Mendengarkan Suara Tuhan

Gara-Gara Mendengarkan Suara Tuhan

Lois Official Writer
23744

Di Yayasan Mahanaim, yayasan yang didirikan oleh Iin Tjipto, ada banyak anak-anak di sana. Suatu hari, anak-anak tersebut diajarkan untuk mendengarkan suara Tuhan. Ada seorang anak yang kemudian menuliskan apa yang Tuhan mau dalam hidupnya, dia tuliskan, “Tuhan mau saya jadi pendoa tingkat internasional, pergi ke bangsa-bangsa dan berdoa bagi bangsa-bangsa.” Dengan yakin dan mantap, anak ini menuliskan bahwa “Tuhan berkata…”.

Ada rasa bangga dalam diri Iin Tjipto sekaligus rasa sedih serta rasa ajaib saat mendengar cerita itu dari guru si anak karena anak ini datang dari keluarga yang miskin, semiskin-miskinnya. Keluarga sang anak, ayah dan ibunya tidak mempunyai KTP, tidak mempunyai kartu keluarga, dan sang anak pun tidak mempunyai akte lahir. Hal-hal itu tentunya prosedur untuk membuat passport, kalaupun misalnya si anak ini benar-benar dikirim ke luar negeri, begitu sulit dilakukan. Namun, anak ini tetap percaya.

Seminggu berlalu dan setelah itu Yayasan Mahanaim pun ditelepon oleh grup doa sedunia anak-anak. Mereka berkata bahwa mereka akan membiayai seorang anak yang bisa berbahasa Inggris untuk berdoa sedunia, tapi syaratnya anak ini harus datang dari keluarga yang benar-benar miskin.

Pada waktu itu, Iin Tjipto langsung teringat kepada anak ini. Dari segi surat-surat yang diperlukan, anak ini kemungkinannya tidak bisa mengikuti program tersebut, apalagi waktu yang diberikan hanya seminggu.

Menghadapi permasalahan seperti itu, mereka pun mencoba mencari jalan keluar. Anak yang tidak punya dokumen penting yang diperlukan untuk membuat passport, belum lagi passport yang jadinya bisa lebih dari seminggu, semuanya membuat impian anak itu terlihat mustahil.

Apa yang terjadi kemudian membuat kita yakin bahwa hanya tangan Tuhan yang sanggup mengerjakannya. Di bagian imigrasi, ternyata ada seorang kawan yang dikenal. Setelah mendengar ceritanya, teman ini langsung meminta sang anak untuk difoto. Satu jam kemudian, passport sang anak pun jadi. Seminggu kemudian, si anak dapat pergi ke Malaysia untuk berdoa.

Apa yang kelihatannya mustahil bagi kita, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Yang harus kita lakukan adalah kita perlu keluar dari ide-ide manusia, yang terkadang membatasi diri sendiri maupun iman kita. Kisah nyata ini mengajarkan kita untuk berdoa sambil beriman bahwa segalanya mungkin bagi Tuhan.

Sumber : jawaban.com by lois horiyanti

Ikuti Kami