Aku Pergi Menangkap Ikan

Aku Pergi Menangkap Ikan

Lois Official Writer
5281

Malam itu aku pergi menangkap ikan. Ketika aku hendak berangkat, ternyata teman-teman nelayanku yang lain juga hendak menangkap ikan. Maka naiklah kami ke perahu dan mulai menangkap ikan. Jala-jala mulai kami tebarkan ke air. Kami menunggu dan menunggu sampai jala itu kami bawa lagi ke permukaan. Ternyata, tidak ada satupun ikan yang kami tangkap.

Ketika hari mulai siang, kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami kembali lagi ke pantai tempat kami melabuhkan perahu kami. Saat itu, ada seseorang yang berdiri di pantai. Ternyata Dia adalah Yesus, tapi kami tidak menyadarinya. Dia berkata, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?”

Kami katakan kepada-Nya bahwa kami tidak berhasil menangkap satu ekor ikanpun, jadi kami tidak bisa memberi-Nya apa-apa. Yesus kemudian berkata kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Anehnya, setelah perkataan-Nya itu, kami menebarkan jala dan kami tak dapat mengangkat jala itu karena terlalu banyak ikan di dalamnya.

Tiba-tiba, temanku berteriak. “Itu Tuhan!” Lantas, aku begitu malu ketika tahu itu Tuhan. Aku merasa tidak pantas karena aku telah mengkhianati-Nya tiga kali. Aku menundukkan kepalaku dan hanya fokus pada ikan-ikan yang berhasil kami tangkap. Saat kami tiba di darat, kami melihat bahwa di sana sudah disediakan api arang.

Yesus kemudian berkata, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.”

Aku cepat-cepat naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, jala yang penuh dengan ikan-ikan besar. Ada 153 ekor banyaknya, tapi jalanya tidak koyak. Sungguh luar biasa, pikirku.

Sesudah makan, Yesus tiba-tiba bertanya kepadaku. “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?”

Aku pikir pertanyaan Tuhan akan seperti menyalahkan aku, tapi ternyata tidak. Dia bertanya tentang apakah aku mengasihi Dia. Aku memang pernah menyangkal-Nya tiga kali, tapi aku sungguh mengasihi Dia, meski dengan segala keterbatasanku dan kesalahanku ini. Maka kujawab, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”

Yesus kemudian berkata kepadaku, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Aku tercengang mendengarnya. Aku, orang yang pernah mengkhianati-Nya, yang pernah menyangkal mengenal-Nya saat Dia disesah, Dia percayakan aku untuk menggembalakan domba-domba-Nya? tanyaku dalam hati. Tiga kali Yesus menanyakan apakah Aku mengasihi Dia, tiga kali pula Dia menyuruhku untuk menggembalakan domba-domba.

Di kali ketiga itu, hatiku begitu sedih saat pertanyaan yang sama terlontar. Tapi aku sungguh tahu bahwa aku mengasihi Yesus. Aku kemudian berkata, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Saat itulah, Yesus menjawabku seperti ini.

“Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan kemana saja kau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki.”

Aku tahu perkataan Yesus itu adalah pernyataan bagaimana nantinya aku akan mati. Tapi aku juga sudah tahu bahwa aku mau tetap mengikut Yesus meski apapun yang akan terjadi. Aku mungkin pernah berbuat salah, tapi tekadku kali ini tidak akan tergoyahkan oleh apapun. Aku telah melihat sendiri bagaimana Yesus yang telah disalib itu mati dan dikuburkan, tapi Dia bangkit juga dan mengalahkan maut. Aku mencintai-Nya dan karena itulah, aku mau mengikut-Nya dan aku mau pergi kemanapun untuk menangkap ikan, menggembalakan domba-domba, dan memberitahukan kasih Yesus kepada mereka yang membutuhkan.

Sumber : jawaban.com by lois horiyanti

Ikuti Kami