Haruskah Tunduk Pada Suami Meskipun Salah?

Haruskah Tunduk Pada Suami Meskipun Salah?

Lois Official Writer
16479

Di dalam kehidupan berkeluarga, suami menjadi kepala keluarga. Apa yang melatarbelakangi hal itu, mengapa Tuhan secara spesifik mengatakan bahwa suami adalah kepala sehingga istri harus tunduk kepadanya? Efesus 5:22-23, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.

Keluarga Harus Memiliki Seorang Pemimpin

Keluarga adalah unit organisasi dan semua organisasi harus memiliki pimpinannya. Tanpa kepemimpinan, organisasi akan mengalami kekacauan. Seorang pemimpin ada agar organisasi itu tahu akan dibawa kemana.

Lantas, Kenapa Harus Suami dan Bukan Istri yang Jadi Pemimpin?

Penunjukan pria sebagai pemimpin berkaitan erat dengan konsep Kristus sebagai kepala jemaat. Saat Kristus adalah manusia, Dia mengambil identitas sebagai pria. Karena itu, tidak masuk akal jika Tuhan menetapkan istri sebagai kepala rumah tangga dan menyamakannya dengan Kristus, kepala jemaat. Yang lebih konsisten adalah, suami diidentikkan dengan Kristus.

Hai Istri, Tunduklah Pada Suamimu

Menurut Pdt. Dr. Paul Gunadi, sikap tunduk adalah pedoman yang Tuhan berikan kepada istri agar dapat melanggengkan hidup bersama. Hal ini bukan perintah yang seolah-olah karena ketundukan adalah masalah / kelemahan manusia. Tanpa kecuali, kita semua sulit tunduk. Tapi ketika ketundukan terjadi, kerukunan dapat tercipta.

Bagaimana Jika Suami Mengajarkan Hal Salah?

Tunduk tidak berarti tidak berpendapat atau kehilangan keunikan diri. Ingat, pernikahan adalah sebuah penyatuan bukan akuisisi. Dengan kata lain, istri sebagai penolong, istri boleh dan seharusnyalah menyumbangkan saran dan pendapat namun setelah itu, dia menyerahkan keputusan akhir kepada suami.

Karena itu, istri juga tidak boleh melanggar kehendak Tuhan gara-gara ingin tunduk kepada suami. Namun, berhati-hatilah untuk melabelkan segala sesuatunya sebagai ‘kehendak Tuhan’.

Tunduk bukan saja pada keputusan yang tepat tetapi juga pada keputusan yang keliru. Bahkan, di sinilah ketundukan mendapatkan ujian dan disinilah iman berperan bahwa masih ada Tuhan yang memelihara kehidupan kita kendati suami telah mengambil keputusan yang keliru. “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya,” 1 Pet 3:1

Otoritas di dalam sebuah rumah tangga, telah diserahkan Tuhan kepada seorang pria / suami. Harmonisasi dapat terjadi ketika kepemimpinan di dalam keluarga dipegang pria. Bukan berarti, sang istri tidak becus dalam memimpin, bahkan ada istri yang bahkan lebih baik dalam memimpin. Tapi ketika kita menaati apa yang Tuhan katakan, maka kehidupan keluarga akan makin diperbaharui dan makin serupa Kristus dari hari ke hari.

Sumber : telaga.org/lh3

Ikuti Kami