Tak Kusangka Kerabatku lah Dalang Pembunuhan Orang Tuaku

Tak Kusangka Kerabatku lah Dalang Pembunuhan Orang Tuaku

Daniel Official Writer
13756

Rencana kedatangan kedua orang tuanya ke Jakarta sudah lama Edison tunggu. Minggu itu, Edison dengan semangat menyelesaikan pekerjaaannya. Namun sesuatu yang tidak pernah terlintas dipikirannya terjadi, seorang saudara memberi kabar bahwa kedua orangtuanya telah meninggal dunia karena dibunuh. Edison tak kuasa menahan kesedihannya ketika mendengar berita ini, ia seakan tidak bisa menerima kenyataan bahwa orangtuanya tewas ditangan pembunuh sadis.

"Sebentar sadar, pingsan lagi, sebentar sadar, pingsan lagi, sampai beberapa kali. Ketika saya melihat suami saya, sebagai istri saya kasihan sekali. Namanya kehilangan kedua orang tua kalo karena penyakit mungkin kita bisa terima tetapi ini karena dibunuh dan dianiaya, pasti semua orang tidak akan bisa terima jika hal itu terjadi," Nitisa Laoli, istri Edison, mengisahkan.

Tanpa berpikir panjang Edison segera berangkat ke Nias. Namun semakin dia dekat dengan kampung halamannya, emosi Edison semakin kacau. Keputusasaan mulai merasuk pikirannya, bahkan terbersit dalam hatinya untuk bunuh diri dengan terjun kelaut. Namun bayangan istri dan anaknya menyadarkannya, dan ia menangis tak karuan di kapal itu bahkan menjadi pusat perhatian orang-orang disekelilingnya.

Sesampai dirumah orangtuanya, Edison semakin sedih karena menemukan mayat kedua orangtuanya dalam keadaan membusuk dan bau karena tidak ada keluarga atau tetangga yang mengurusnya.

"Menurut kepolisian, malam Sabtu itu papa dan mama sedang persiapan untuk makan malam. Mungkin karena melawan mereka, papa dan mama dibunuh. Saat itu yang menjadi tersangka ada tujuh orang," demikian jelas Edison.

Dendam mulai merasuk hati Edison, keinginan untuk membalas perbuatan para pelaku pembunuh kedua orangtuanya menyesakkan dadanya. Ingin rasanya ia membunuh para pelakunya, sama seperti mereka membunuh kedua orangtuanya dengan sadis.

Hingga suatu saat terungkap bahwa tersangka utama pembunuh orangtuanya tidak lain adalah kerabatnya sendiri.

Tentu saja Edison sangat terpukul mendengarnya, dia tidak pernah menyangka saudaranya sendiri adalah dalang pembunuhan itu. Edison merasa tidak bisa berbuat apa-apa, seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya tidak berbuat sesuatu atau memukul saudaranya itu. Dia hanya memandangi saudaranya itu dan termenung meskipun polisi memberikan waktu untuk melampiaskan kemarahannya.

Setelah hari itu, Edison langsung kembali ke Jakarta. Baru kali ini dia merasa benar-benar sendiri. Dia sering termenung dan meratapi kedua orangtuanya, bahkan istri dan teman-temannya yang mencoba menghiburnya tidak dihiraukannya.

"Karena dukanya yang begitu dalam, saya melihat dia selalu melamun dan menangis. Itu saja yang dilakukannya selama kurang lebih tiga bulan," terang Nitisa.

Kondisi Edison makin memburuk saja, ia semakin malas bekerja, bahkan emosinya pun sering meledak-ledak. Tak kuat melihat kondisi suaminya yang berada dalam depresi, Nitisa tak henti-hentinya membawa Edison dalam doa-doanya. Doa tulus Nitisa terbukti tidak sia-sia, perlahan-lahan Edison mulai menerima nasehat-nasehat dari sahabat-sahabatnya.

"Om Joni ini yang selalu menguatkan saya, dia mengatakan Edison kamu pasti bisa. Salah satu firman Tuhan yang menguatkan saya yaitu Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Firman itu yang menyentuh hati saya," kisah Edison.

Kasih Tuhan yang menjamah Edison memberikannya kekuatan untuk mengampuni para pelaku pembunuhan itu. Kini dia tidak lagi menyimpan dendam dan amarah dalam hatinya.

"Saya baru mengerti, buat apa menyimpan dendam dan amarah karena yang akan rugi adalah diri sendiri. Jadi saya mengambil keputusan untuk mengampuni mereka meskipun jaraknya jauh dan tidak pernah bertemu tetapi dalam doa saya mengampuni mereka. Saya tidak lagi menyimpan rasa dendam, rasa kecewa terhadap mereka dan juga kepada Tuhan," kata Edison bersemangat.

Sumber Kesaksian:
Edison & Nitisa Laoli

Sumber : V111214095535
Halaman :
1

Ikuti Kami