Kasihan, Anak Laki-laki Kok Dipaksa Jadi Perempuan

Kasihan, Anak Laki-laki Kok Dipaksa Jadi Perempuan

Puji Astuti Official Writer
24865

Empat kakaknya laki-laki semua, maka saat ibunya mengandungnya, kedua orangtuanya mengharapkan lahirnya anak perempuan. Sayangnya, ia terlahir sebagai anak laki-laki. Malangnya, orangtuanya yang terobsesi ingin anak perempuan membesarkannya sebagai seorang perempuan. Maka anak laki-laki itu dinamai Siti Maumunah.

Ini bukanlah cerita fiksi, Siti saat ini sudah berumur 18 tahun dan sedang berjuang di pengadilan untuk perubahan statusnya. Ia ingin menjadi laki-laki sekalipun sejak kecil di dandani sebagai perempuan bahkan disekolahkan di pesantren putri.

Di pesantren putri itulah Siti mulai merasakan kejanggalan. Saat teman-temannya mulai mengalami menstruasi, ia tidak. Tentu saja karena ia berkelamin laki-laki. Namun ia tidak tahu itu.

 “Saat saya pacaran dengan seorang laki-laki, tak ada sensasi apapun. Tapi, saat saya berkumpul dengan teman-teman putri, saya justru merasa greng,” demikian tutur Siti.

Sejak itu ia mulai belajar tentang alat reproduksi manusia dan menjadi yakin bahwa dirinya laki-laki. Ia pun membulatkan tekad jika ia lulus nanti akan memperjuangkan pengakuan bahwa dirinya laki-laki.

Selasa 22 November 2011 menjadi langkah awal bagi Siti untuk memulai kehidupan barunya saat menjalani proses pengadilan di Pengadilan Negeri Semarang. Ia memilih nama Mohammad Prawirodijoyo dengan sapaan akrab Joyo untuk status barunya. Joyo pun kini telah bekerja dan saat melamar pekerjaan di pabrik garmen tersebut ia telah menggunakan nama tersebut dan juga status laki-laki. Jika proses pengadilan ini selesai maka akte kelahiran, kartu keluarga dan juga Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya akan berubah.

Apa yang dialami Joyo memang sebuah kasus khusus. Namun perlu disadari oleh semua orangtua bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan mereka sangat berharga. Jika ditolak atau bahkan mengalami pemaksaan keinginan dari orangtua kepada anak, maka si anak akan menderita baik secara fisik maupun mental. Hal inipun harus dipertanggung jawabkan orangtua, bukan hanya secara hukum namun juga dihadapan Tuhan.

Sumber : Kompas.com| Puji Astuti
Halaman :
1

Ikuti Kami