Mengapa Jakarta dianggap cukup menjanjikan bagi anak jalanan untuk mengadu nasib? Jumlah mereka terus bertambah tiap tahun. Data yang didapat dari Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta, jumlah anak jalanan tahun 2011 mencapai 7.315 orang dibanding tahun 2010 yang mencapai 5.650 orang atau tahun 2009 sebanyak 3.724 orang. Mereka bekerja sebagai pengemis, pengamen, pengelap kaca mobil, pedagang asongan, joki 3 in 1 dan tukang parkir liar.
Menurut Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Fadjar Panjaitan, secara umum peningkatan anak jalanan di Jakarta bukan karena kondisi Jakarta kian memburuk, namun karena kondisi di luar Jakarta kurang beruntung bagi mereka sehingga mereka datang ke Jakarta, itulah yang terjadi. Keberadaan mereka di jalan beresiko mengalami keterlantaran, eksploitasi, tindak kekerasan, serta kecelakaan lalu lintas.
Dijelaskan Fadjar, saat ini Pemprov DKI Jakarta telah berupaya untuk menertibkan anak jalanan itu, tapi kesulitan yang dihadapi adalah keberadaan mereka karena ada yang mengkoordinir. “Anak jalanan lebih banyak orang-orang yang berasal di luar Jakarta. Ada yang mengkoordinir,” tambahnya. Tentu saja melihat hal ini, masalah anak jalanan berarti merupakan masalah bersama, bukan hanya semata-mata masalah daerah.
Selama Ramadhan ini, Pemprov DKI telah melakukan tindakan bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang masih membandel. Bahkan pada penertiban tahap kedua, PMKS yang terjaring tidak akan dipulangkan ke kampung halaman hingga H+7. Setelah arus balik nanti, diharapkan warga luar kota tidak menumpuk di Jakarta untuk mencari nafkah, tapi mereka membangun kampung mereka sehingga kesejahteraan di sana pun meningkat.
Sumber : inilah/lh3