Kesombongan Itu Sama Dengan  Sebuah Kegilaan

Kesombongan Itu Sama Dengan Sebuah Kegilaan

Puji Astuti Official Writer
4683

Seorang filsuf Yahudi/Belanda, Baruch Spinoza (1632-1677 M) menggambarkan kesombongan sebagai kegilaan:

“Jadi kita yang melihat hal ini terjadi, bahwa manusia mudah sekali berpikir tentang dirinya terlalu tinggi, atau objek untuk dicintai dan juga sebaliknya, tidak berarti atau objek untuk dibenci. Perasaan ini disebut “kesombongan,” dalam kata lain orang yang memandang dirinya terlalu tinggi, merupakan spesies yang mengalami kegilaan.”

Penulis asal Inggris, C.S. Lewis (1898 – 1963 M) menggambarkan kesombongan sebagai “Sebuah pikiran yang anti-Tuhan… sebuah dosa besar.”

Masalah kesombongan ini seringkali membuat para pemimpin memiliki pandangan yang salah tentang diri sendiri. Mereka menaruh identitas mereka pada talenta, prestasi, pencapaian, dan harta benda. Satu-satunya obat untuk masalah kegilaan karena kesombongan ini adalah pandangan yang jelas dari Tuhan sehingga kita bisa melihat diri kita yang sebenarnya, diciptakan dan terus-menerus berada di dalam Tuhan.

Reformator, John Calvin (1509 – 1564 M) membuat sebuah observasi yang sangat bermanfaat,

“..sudah jelas bahwa manusia tidak akan pernah memiliki pengetahuan yang jelas tentang dirinya sendiri kecuali orang tersebut melihat dahulu kepada wajah Tuhan.. Karena, semua orang memiliki kecenderuangan alami untuk munafik, sebuah gambaran akan kekosongan..”

Saya percaya sebagai seorang pemimpin Kristen memulai dengan mencari visi yang dari Tuhan dimana gambaran palsu kesombongan itu akan dilucuti, dan menjadi seperti perkataan John Michael Talbot, “sebuah kanvas yang kosing” siap untuk dilukis dengan gambaran Allah.

Namun seringkali kita menempatkan diri untuk berkompetisi dengan orang lain – kita berpikir seperti ini: bahwa kita membangun kredibilitas dan posisi kita dengan mendeskriditkan orang lain dan karakter orang lain. Dengan berkembangnya dunia virtual, menjadi mudah untuk meragukan kredibilitas orang lain dengan membuat komentar tanpa nama di dunia maya. Bagaimana kita mengubah kecenderungan untuk bersikap sombong ini? Saya percaya bahwa seseorang menjadi pribadi yang otentik ketika masuk dalam sebuah komunitas yang aman dimana dirinya mengalami transformasi yang mengubah alam permusuhan itu menjadi sebuah pertobatan yang sungguh-sungguh.

Mungkin langkah pertama proses trasformasi itu adalah dari mengubah cara pandangan dan pemahaman pada komunitas yang ada. Tidak ada tranformasi yang terjadi tanpa pertobatan dan berserah kepada Yesus Kristus. Disinilah kita akan menemukan komunis yang sejati dan kebenaran. Saya diingatkan sebauh doa dari abad 17 dari kaum Puritan:

Tuhan Yesus, adalah kerinduan utama saya untuk membawa hati saya kembali kepada-Mu.

Yakinkan saya bahwa saya tidak bisa menjadi tuhan atas diri sendiri, atau membuat diri sendiri bahagia, kecuali Kristus sendiri yang memulihkan sukacita saya, kecuali Roh Kudus mengajar, membimbing dan memimpin saya. Ambillah mata saya yang jelalatan, telinga yang suka penasaran, nafsu serakah dan hati yang penuh hawa nafsu ada di dalam saya.

Tunjukkan pada saya bahwa semua itu tidak dapat menyembuhkan luka hati atau membantu untuk bangkit atau meningkatkan semangat saya.

Untuk itu bawa saya pada salib itu dan biarkan saya disana. Amin.

Semoga kita dijauhkan dari keegoisan, ataupun sikap bersaing dengan sesama kita, karena kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk mengutamakan orang lain daripada diri sendiri (Filipi 2:1-4). Hal ini artinya juga memperlakukan mereka yang bertindak suka bersaing dengan diri kita dengan kasih dan tanpa penghakiman sebagaimana seharusnya tindakan seorang pengikut Kristus yang tidak mencondongkan hatinya pada “ambisi pribadi atau kesombongan.”

Oleh: Dr. Corné Bekker seorang professor di  Regent University School of Global Leadership & Entrepreneurship dan juga hamba Tuhan. Sebelumnya juga melayani sebagai asisten dekan di Rhema Bible College di Johannesburg , Afrika Selatan.

Sumber : CBN

Ikuti Kami