Bromo Berstatus Awas, Pemerintah Jatim Sudah Bersiaga

Bromo Berstatus Awas, Pemerintah Jatim Sudah Bersiaga

Lois Official Writer
2434

Saat ini, perhatian masyarakat Indonesia juga ditujukan kepada Gunung Bromo. Sejak tanggal 8 November lalu, aktivitas Bromo terus meningkat. Masyarakat dan para wisatawan dilarang mendekat dalam radius 3 km dari kawah aktif. Area kaldera lautan pasir dalam radius 2.5 km dari kawah aktif harus benar-benar bersih dan tertutup dari segala aktifitas masyarakat dan para wisatawan.

Pada Senin 22 November 2010 pukul 23.30 WIB, status Gunung Bromo menjadi ‘Siaga’, selanjutnya pada Selasa 23 November 2010 pukul 16.30 WIB, Bromo menjadi status ‘Awas’. Karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan pengosongan wilayah radius 3 kilometer dari lereng Bromo.

Pemerintah Jawa Timur juga sudah melakukan siaga, salah satunya dengan menyiapkan para relawan. “Relawan dan taruna tanggap bencana yang dari Merapi ditarik ke Bromo. Untuk konsentrasi, waspada, dan siaga Bromo,” kata Siswanto, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur kepada Vivanews, Selasa 23 November 2010 malam. Penarikan tim relawan dari Merapi ini sesuai dengan anjiran Gubernur Jawa Timur.

Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf juga sudah melakukan tindakan pencegahan yaitu dengan memberikan pengarahan kepada masyarakat sekitar untuk mematuhi instruksi dari petugas, pemerhati, atau pengamat gunung berapi. “Kalau diminta dikosongkan, ya dikosongkan,” kata Yusuf. Jangan sampai ada masyarakat yang tidak peduli atau tidak waspada dengan keadaan sekitar mereka.

Lereng Bromo, seperti halnya lereng Merapi, dihuni oleh penduduk. Radius 3 kilometer dari kaldera Bromo adalah wilayah subur. Warga suku Tengger bercocok tanam seperti kentang, kubis, wortel, dan lain sebagainya. Namun, Kepala PVMBG, Surono meminta masyarakat untuk tetap tenang. “Diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan Gunung Bromo.”

Sebaiknya setiap aktifitas Bromo sekecil apapun, dapat diberitahukan kepada masyarakat agar tidak timbul isu-isu yang bisa meresahkan dan membuat kekalutan. Bila memang masyarakat di sekitar harus mengungsi, sebaiknya tempat pengungsian sudah dipersiapkan terlebih dahulu sehingga mereka dapat mengungsi dengan tertib dan aman. Kiranya kejadian Gunung Merapi tidak terjadi di sini.

Sumber : vivanews/lh3
Halaman :
1

Ikuti Kami