Keluarga Korban Merapi : Gusti Allah Tahu yang Terbaik

Keluarga Korban Merapi : Gusti Allah Tahu yang Terbaik

Lois Official Writer
2375

Lamiyem (30) adalah warga Bronggang, Cangkringan. Ia bersuamikan Suhono dan memiliki anak tiri bernama Tio Pratama. Keluarga itu menjadi korban letusan Merapi saat Lamiyem dalam keadaan hamil lima bulan. Saat itu, Lamiyem dan keluarganya berada di rumah. Mereka berusaha melarikan diri dari kejaran wedhus gembel, tapi karena panik, mereka malah lari ke arah awan panas mengalir sehingga keluarga kecil ini tersengat.

Awan panas memang tidak langsung mengambil nyawa mereka saat itu, tetapi meninggalkan luka bakar dan trauma inhalasi, yaitu masuknya uap panas ke dalam saluran pernapasan. Saat ini Lamiyem tergolek tak sadar tanpa daya. Hampir 70% saluran pernapasannya rusak akibat menghirup gas awan panas Gunung Merapi itu. Masih ditambah lagi luka bakar di badannya.

Sayangnya, Suhono dan Tio meninggal pada hari Senin (8/11) dan Selasa (9/11) kemarin. Bahkan janin dalam kandungan Lamiyem ikut meninggal dan dikeluarkan pada Rabu (10/11) kemarin. Musibah itu datang bertubi-tubi. Lamiyem sendiri tidak diberitahu bahwa suami dan anaknya telah meninggal, tapi semenjak  itu, kondisinya turun terus. “Setelah bayinya dikeluarkan kemarin pagi, kakak saya kritis. Kata dokter, harapan hidup tipis,” kata adik Lamiyem, Sriyani. “Gusti Allah lebih tahu yang terbaik untuk kakak saya,” ujar Sriyani mengakhiri.

Lamiyem hanya satu dari sekian banyaknya korban bencana alam yang terjadi di Merapi. Belum lagi korban bencana alam yang terjadi di Mentawai. Banyak dari mereka yang membutuhkan uluran tangan Anda. Bagi Anda yang terbeban, salurkan bantuan Anda ke rekening BCA OBI dengan nomor 522 030 9292 atas nama Yayasan Obor Berkat Indonesia.

Sumber : kompas/lh3
Halaman :
1

Ikuti Kami