Ironisnya Kehidupan Wanita di Afghanistan II

Nasional / 9 November 2010

Kalangan Sendiri

Ironisnya Kehidupan Wanita di Afghanistan II

Lois Official Writer
6615

Bagi wanita di Afghanistan, keluarga merupakan takdir mereka. Sangat kecil kemungkinan buat mereka untuk mendapatkan pendidikan, sedikit wanita yang boleh memilih untuk menikah dengan orang yang mereka inginkan, dan tidak ada pilihan baginya dalam menjalankan perannya dalam rumah tangga. Tugas utamanya adalah melayani suami mereka. Di luar hal itu, mereka akan diasingkan.

“Jika Anda melarikan diri dari rumah, Anda mungkin diperkosa atau di penjara dan kemudian tetap akan dikirim kembali ke rumah dan kemudian apa yang akan terjadi?” kata Rachel Reid, seorang peneliti bagi Human Rights Watch yang menyelidiki kekerasan terhadap wanita. Wanita yang lari biasanya ditembak atau ditusuk sampai mati karena keluarga takut terjadi hal-hal yang akan mengecewakan lagi.

Bagi mereka yang melakukan aksi bunuh diri dengan membakar diri tapi selamat, biasanya setelah sembuh mereka akan menemukan suami mereka telah menikah dengan wanita lain, wanita lain yang juga tidak bersalah.

“Kekerasan terhadap wanita Afghanistan datang dari mana saja, dari ayahnya atau saudara laki-lakinya, dari suaminya, dari ayah mertua, dari ibu mertua maupun dari saudara ipar,” kata Dr. Shafiqa Eanin, seorang dokter ahli bedah plastik di rumah sakit tersebut, dimana biasanya dia dapat menangani minimal sepuluh kasus sekaligus dalam satu hari.

Bahkan yang lebih parah lagi, “Sekarang kami menemui ada dua orang wanita saat ini yang dibakar hidup-hidup oleh ibu mertua mereka dan oleh suami mereka,” kata Dr. Arif Jalali, seorang ahli bedah plastik senior. Dalam antara kasus-kasus ini, ada banyak wanita yang tidak dapat terselamatkan, baik mereka membakar diri mereka sendiri maupun dibakar oleh keluarga.

Dokter juga mengatakan ada dua kasus baru-baru ini dimana para wanita dipukuli oleh suami mereka ataupun oleh ayah mertua, kemudian kehilangan kesadaran dan tersadar di rumah sakit dengan tubuh mereka yang terbakar. Farzana, yang telah ditunangkan pada umur 8 tahun dan menikah pada usia 12 tahun, juga membakar dirinya karena tidak tahan atas perlakuan suaminya dan keluarga suaminya itu. Dia bermimpi menjadi seorang guru. “Saya sangat sedih dan dalam kesakitan yang luar biasa dan saya merasa marah dengan suami dan keluarganya, dan karena itulah saya mengambil korek api dan membakar diri saya sendiri,” katanya.

Lima puluh delapan persen dari tubuhnya terbakar. Seorang anggota keluarga membawanya ke rumah sakit dengan di bawah ancaman suami Farzana, “Jika ada seseorang yang bertanya, jangan beritahu namaku; jangan bilang kalau aku ada hubungannya dengan hal ini.” Farzana berhasil bertahan hidup, dia tinggal bersama keluarganya dan putus hubungan dengan keluarga suaminya. Sayangnya, anak perempuannya sendiri berada di keluarga suaminya, sehingga dia tidak bisa melihat putrinya sendiri.

Statistik menunjukkan setidaknya 45 persen wanita di Afghanistan menikah di bawah usia 18 tahun, lebih besar lagi persentasinya bagi mereka yang di bawah 16 tahun. Banyak wanita yang dijual untuk membayar hutang, dimana membuat mereka menjadi budak dan dianiaya. Hal ini umum terjadi di Herat dan wilayah barat Afghanistan daripada daerah lainnya. Bahkan, sebagian Irak yang berdekatan dengan Afghanistan juga melakukan aksi bunuh diri yang sama.

Sumber : nytimes/lh3
Halaman :
1

Ikuti Kami