Awas, Media Bisa Memicu Konflik!

Awas, Media Bisa Memicu Konflik!

daniel.tanamal Official Writer
1763

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengingatkan media massa untuk mematuhi UU Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (PPP-SPS) dalam menayangkan pemberitaan-pemberitaan terkait peristiwa-peristiwa kriminal dan konflik. Pasalnya, media berpotensi tinggi untuk membuat konflik makin intensif.

"Informasinya memang dibutuhkan, tentang peristiwa di suatu tempat. Tapi, cara penyampaian kepada publiknya tampaknya sudah memunculkan peristiwa yang vulgar. Misalnya, ada darah yang masih berceceran, orang yang luka, atau ada beberapa hal yang bisa saja jika tidak tepat menyampaikannya, misalnya konflik daerah, lalu disiarkan, lalu ada harapan konflik itu selesai. Tapi jangan-jangan karena pemberitaan, konflik jadi melebar. Ada eskalasi tertentu," papar Ketua Umum KPI Pusat Dadang Rahmat Hidayat di Jakarta, Rabu (6/10/2010).

Makin berbahaya, lanjutnya, ketika hal-hal ini kemudian ditayangkan berulang-ulang hingga malah menimbulkan eskalasi tanpa mengedepankan prinsip-prinsip jurnalisme. Dadang mengacu pada pengakuan salah satu kontribusi televisi nasional kepadanya mengenai potensi media menimbulkan konflik.

"Jadi, ada peristiwa demonstrasi yang harus diliputnya. Dia sampaikan bahwa kalau berita demo yang teriak-teriak saja tidak akan naik tayang. Nah supaya masuk, agak ditambahin dengan bakar ban. Mereka menyuruh itu. Ya tambah dengan guncang-guncang pagar, atau bentrok dengan polisi. Itu yang katanya punya news value yang tinggi. Jadi, kalau begini kan bisa dikatakan rekayasa dari reporter atau kerja sama antara jurnalis dan yang demo," ungkapnya.

Jurnalisme damai

Menurut Agus, setiap media, cetak, radio, televisi, ataupun online harus memegang teguh prinsip-prinsip jurnalisme dan merealisasikannya di lapangan. Media dapat melakukannya dengan tetap berfokus pada akar masalah dalam suatu peristiwa konflik, kriminal atau kerusuhan, tidak mereduksi atau malah membesar-besarkan masalah, memperhatikan korban, serta memperhatikan dampak yang bisa terjadi.

"Bagi televisi memang mungkin tak menarik ya, tapi dialektika ini harusnya diatasi," katanya.

Namun, Komisioner KPI Ezki Suyanto juga menangkap ada kemajuan dalam penerapan jurnalisme damai oleh dua stasiun televisi dalam peliputan konflik antaretnis di Tarakan, Kaltim. "Ada satu, dua, stasiun yang menayangkan pengungsian Tarakan, yang menggambarkan kedua etnis yang sedang berkonflik saling membantu, ngobrol, makan, sama-sama nangis, sama-sama mengaji. Itu digambarkan kepada masyarakat dan membuat masyarakat berpikir ada apa sebenarnya dalam konflik ini," ungkapnya.

 

Sumber : kompas.com/dpt
Halaman :
1

Ikuti Kami