Islamofobia Ancam Keamanan Internasional

Islamofobia Ancam Keamanan Internasional

daniel.tanamal Official Writer
2729

Raja, pimpinan, dan presiden dari negara-negara Muslim telah membuat permohonan yang menekan PBB agar Barat melarang serangan terhadap Islam yang mereka peringatkan sebagai ancaman yang semakin meningkat bagi keamanan internasional.

Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, para pemimpin itu mengatakan bahwa Islamofobia membuat Muslim dan Barat semakin terpisah dan salah satu menteri Arab memperingatkan masyarakat internasional agar waspada terhadap "benturan peradaban."

Ancaman untuk membakar Al Quran dari sebuah gereja di AS, kontroversi  atas rencana Masjid di lokasi serangan 11 September di New York, dan serangan terhadap simbol-simbol Islam di negara-negara Eropa telah menjadi pokok perbincangan bagi negara-negara Muslim. Banyak yang merasa malu oleh komentar dari presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang mengaitkan pemerintah AS dengan serangan 11 September, ujar para diplomat.

Tapi Sheikh Hamad bin Khalifa al Thani, emir Qatar, yang telah meluncurkan sejumlah inisiatif diplomatik untuk menyelesaikan berbagai perang mulai dari Sudan sampai konflik Israel-Palestina, mengecam upaya-upaya untuk mengaitkan Islam dengan terorisme. Dia setengah menyalahkan perang melawan teror yang dideklarasikan AS setelah 11 September. "Kami tidak setuju atas pengaitan terorisme dengan agama Islam karena selain tidak benar, juga merupakan ketidakadilan sejarah yang disangkal oleh sejumlah bukti dari sejarah terbaru."

Raja Abdullah II dari Yordania mengatakan penting untuk melawan kekuatan pemecah yang menyebarkan kesalahpahaman. Dia menyerukan sebuah Minggu Harmoni Antaragama Dunia tahunan untuk mempromosikan toleransi. Negara-negara Muslim mengatakan pada Rabu (16/6) bahwa apa yang mereka sebut dengan "Islamophobia" mulai meluas di negara-negara Barat dan media negara-negara Muslim tersebut menuntut bahwa PBB harus mengambil tindakan yang lebih kuat dalam melawan Islamophobia.

Para Delegasi dari negara-negara Islam, termasuk Pakistan dan Mesir, mengatakan pada Dewan Hak Azazi Manusia PBB bahwa perlakuan Muslim di negara-negara Barat sama dengan rasisme dan diskriminasi dan harus dilawan. "Bentuk dari rasisme orang-orang yang berwajah asli Arab, diskriminasi ras, xenophobia dan bentuk-bentuk yang berhubungan dengan ketidaktoleransian dan pengalaman diskriminasi dan marginalisasi," seorang delegasi Mesir mengatakan, berdasarkan sebuah ringkasan PBB.

Yang harus lebih diperhatikan dalam skala universal adalah terancamnya perpecahan antar agama, bukan kepada satu atau dua agama. Karena ketidakpedulian dan detoleransional yang dibiuskan melalui propaganda dan tebaran kebencian hanya akan mengakibatkan masyarakat yang tidak mengerti terkena imbasnya. Menahan diri, mengkaji ulang dan “think outside the box” adalah jawaban cerdas dalam menghadapi era perang wacana saat ini. Dan kasih adalah jawaban umat percaya pastinya.

Sumber : suaramedia.com/dpt
Halaman :
1

Ikuti Kami