Korupsi Dalam Gereja

Korupsi Dalam Gereja

Budhi Marpaung Official Writer
8537

Dalam dunia kekristenan, topik tentang Gereja adalah salah satu hal yang menarik untuk dibahas. Menarik karena banyak hal yang bisa kita pelajari dan kali ini topik yang akan dibahas mengenai praktik korupsi di dalam gereja. Mungkin ada diantara Anda yang bertanya, “Memang di dalam rumah Tuhan bisa terjadi hal tersebut? Kalaupun ada, siapa yang melakukannya dan seperti apa modus operasinya? Bagaimana kita umat Tuhan harus bersikap ketika melihat praktik korupsi di dalam Gereja?

Sebelum dibahas lebih lanjut, saya ingin mengatakan bahwa topik ini bukanlah untuk menjelek-jelekkan Gereja yang ada sekarang atau pun membuat orang-orang Kristiani menjadi anti Gereja, tetapi murni untuk menyadarkan kita semua tentang fakta yang terjadi di tengah-tengah umat Allah dan bagaimana solusi agar praktik korupsi tidak berakar dalam kehidupan orang-orang percaya.

Sebenarnya Alkitab sendiri pernah mencatat tentang praktik korupsi di dalam Gereja. Diantara beberapa kejadian yang tertulis tersebut, saya angkat mengangkat peristiwa tentang dua orang imam muda bernama Hofni dan Pinehas.

Hofni dan Pinehas adalah anak-anak dari Imam Eli yang bertugas di dalam Bait Allah waktu itu. Sebagai pelayan Tuhan, mereka menyalahgunakan jabatan yang ada. Setiap kali ada seseorang mempersembahkan korban sembelihan, mereka seringkali mengambil bagian yang bukan menjadi haknya. Bahkan, luar biasa jahatnya Hofni dan Pinehas tidak jarang memaksa orang yang membawa korban menyerahkan terlebih dahulu kepada mereka sebelum dibakar. Maksud kedua orang ini adalah tidak lain agar bisa menyantap terlebih dahulu bagian daging yang terbaik, dan lalu mempersembahkan sisa daging ke Tuhan.

Praktik korupsi ini diketahui oleh ayahnya, Imam Eli. Hanya karena Hofni dan Pinehas adalah darah dagingnya, Imam Eli tidak pernah benar-benar menegur keduanya. Bahkan lebih terlihat bahwa Imam Eli lebih takut kehilangan anak-anaknya, daripada kehilangan Allah. Seperti yang kita tahu bersama, akhir hidup ayah dan anak-anaknya dicatat di Alkitab sangatlah tragis.  

Bila kita melihat kehidupan Gereja sekarang, praktik korupsi sebenarnya masih dapat ditemui sekarang. Mungkin bukan gembala Gereja yang melakukannya, tetapi bisa jadi para pendeta atau para pekerja yang ada di dalam lingkungan Gereja tersebut. Ia atau mereka secara diam-diam mengambil uang persembahan, dana pembangunan gereja, perpuluhan jemaat, atau dana yang dikhususkan bagi kebutuhan jemaat.

Mungkin mereka awalnya takut, tetapi ketakutan itu kalah oleh keinginan (ingat bukan kebutuhan..) hidup. Sekali dilakukan berhasil, dua kali berhasil, bahkan sampai sudah tidak terhitung lagi seberapa sering ia/mereka melakukannya. Bahkan, ada gembala Gereja yang mengetahui praktik korupsi mengambil sikap seperti imam Eli, yakni cuek. Kalaupun menegur, orang yang diurapi Tuhan ini malah hanya menegur pelaku korupsi secara biasa.

Lalu bagaimana umat Tuhan harus bersikap terhadap orang-orang yang melakukan praktik korupsi di dalam gereja? Matius 18:15-17 bisa menjadi landasan kita mengambil sikap. Ditulis disana apabila ada seseorang dari antara jemaat ada yang melakukan dosa, tegorlah di bawah empat mata. Jika itu tetap tidak bisa, bawalah satu atau dua orang saksi untuk menegor ia atau mereka. Apabila tetap tidak bisa, bawalah para pelaku korupsi di dalam Gereja tersebut ke hadapan jemaat. Jika ini juga tidak berhasil, pandanglah ia atau mereka sebagai orang yang tidak mengenal Allah.

Korupsi bukanlah hanya musuh pemerintah, bukan juga musuh salah satu kelompok, tetapi musuh kita bersama. Gereja haruslah menjadi tempat pertama yang bersih dari praktik korupsi. Bila ini diterapkan dengan sungguh-sungguh, saya percaya bukan hanya jemaat yang akan diubah dan diberkati, tetapi satu bangsa juga akan mengalami transformasi dan diberkati. Pertanyaannya, Maukah kita melihat Indonesia mengalami transformasi dan diberkati Tuhan?

Ikuti Kami