Menyembah Raja Mulia

Menyembah Raja Mulia

Puji Astuti Official Writer
3515

Satu setengah abad setelah Salamo berdiri di tengah pelataran Rumah Tuhan  yang baru selesai, seorang pemuda lain menyembah di bangunan yang sama. Tiba-tiba, dikuasai oleh roh menyembah, Yesaya, pemuda itu mendapat penglihatan dari Tuhan:

"Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci." (Yesaya 6:1)

Yesaya menceritakan bagaimana para malaikat menyembah Allah dan juga bagaimana perasaannya merasa tercekam oleh kuasa hadirat Allah. Yesaya merasa begitu tidak layak berada dihadapan hadirat Allah.

Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam." (Ayat 5).

Di hadirat Tuhan Yesaya menyaksikan kekudusan Raja segala raja, penyembahannya berganti menjadi rasa malu karena dosa dan ia menjadi sadar akan semua kekurangannya. Lalu dalam ayatnya selanjutnya diceritakan bagaimana tanggapan Allah terhadap pengakuan jujur Yesaya.

Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." (ayat 7).

Pengalaman nabi Yesaya ini menjadi sebuah pelajaran penting dalam kehidupan penyembahan orang percaya. Kegagalan-kegagalan yang kita alami dalam kehidupan ini bukanlah penghalang untuk menghampiri Tuhan dalam hadiratnya. Jika Yesaya di sentuh Tuhan dan menyatakan bahwa kesalahannya telah dihapus dan dosanya telah diampuni, kita yang percaya kepada penebusan Yesus Kristus juga telah menerima hal yang sama. Darah Yesus telah menghapus semua kesalahan kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Kemulian yang hilang karena dosa sewaktu manusia pertama jatuh, sudah dikembalikan melalui kehadiran Yesus dalam hidup kita. Kini, hubungan manusia dengan Allah seharusnya sama seperti sewaktu Adam dan Hawa belum jatuh dalam dosa. Manusia dapat memiliki hubungan yang intim kembali dengan Allah.

Dalam hadirat-Nya, Allah rindu kembali mencurahkan isi hati-Nya kepada manusia. Dia ingin membagikan kerinduan hati-Nya kepada umat yang dikasihinya. Panggilan Ilahi bagi manusia adalah untuk menyembah Tuhan. Penyembahan bukanlah sebuah tuntutan, tugas ataupun kewajiban. Menyembah Tuhan adalah bagian dari kehidupan manusia. Tanpa penyembahan, manusia kehilangan esensi kehidupannya. Tanpa menyembah Tuhan, manusia akan mencari sesuatu yang lain untuk disembah. Itulah sebabnya Tuhan merelakan anak-Nya yang tunggal agar manusia dapat kembali kepada panggilannya yang tertinggi, menyembah Raja segala raja. Mari kita menyembah Tuhan, Yesus Kristus Allah yang hidup.

Disadur dari : Menyembah Raja Mulia; Jack Hayford; Metanoia

Halaman :
1

Ikuti Kami