Pertemuan G-20, RI Perjuangkan Negara Berkembang

Nasional / 1 April 2009

Kalangan Sendiri

Pertemuan G-20, RI Perjuangkan Negara Berkembang

Tammy Official Writer
3428
Pemerintah Indonesia berharap, dapat menyuarakan kepentingan negara-negara anggota ASEAN pada pertemuan para pemimpin negara-negara kelompok G-20 di London, Inggris, 1-2 April ini.

Meskipun demikian, Indonesia yakin akan muncul perbedaan pendapat di antara negara-negara anggota dalam penyelesaian krisis. "Kita harus menciptakan suasana yang harmonis, meskipun terdapat berbagai perbedaan dalam mekanisme penyelesaian krisis global ini," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam perjalanan dari Jakarta menuju Dubai, Uni Emirat Arab.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat menyatakan, berdasarkan perspektif swasta dari 20 negara anggota G-20, diperlukan kesepakatan yang konkret agar dapat tercipta langkah-langkah pemulihan ekonomi.

"Negara besar di Eropa dan Amerika Serikat harus menghadirkan formula restrukturisasi sistem keuangan yang dapat diimplementasikan di negara berkembang," katanya. Ia mengatakan, saat ini ada kecenderungan di kalangan perbankan untuk mengetatkan pemberian kredit dengan alasan konsolidasi. "Korporasi harus memperoleh akses ke perbankan internasional untuk mendapatkan kredit," kata Hidayat.

Dino Patti JalalSementara itu, Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan G-20, tidak hanya membawa kepentingan Indonesia, tetapi sekaligus juga kepentingan negara-negara berkembang.

Indonesia sebagai bagian integral kelompok negara- negara kawasan Asia Tenggara, katanya, konsisten menjalankan perannya sebagai pembawa aspirasi negara-negara berkembang. Pertemuan G-20 merupakan pertemuan kedua para kepala negara/pemerintahan dalam setahun terakhir, setelah pertemuan serupa di Washington DC Amerika Serikat, November 2008.


Garda Terdepan

Negara-negara yang termasuk kelompok G-20 adalah Inggris, Prancis, Jepang, Kanada, Italia, Amerika Serikat, dan Jerman. Selain itu, Indonesia, India, Argentina, Australia, Brasil, Republik Rakyat Tiongkok, Meksiko, Rusia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Arab Saudi, Turki, dan Uni Eropa.

"Bapak Presiden berkomitmen hadir pada KTT G-20 di London karena Indonesia diajak oleh para pemimpin negara menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi dunia di garda terdepan," kata Dino.

Ia menyatakan, pertemuan G-20 akan menindaklanjuti kesepakatan mengenai upaya-upaya pemulihan ekonomi global berdasarkan Leaders' Declaration Plan, yang ditandatangani di Washington, November 2008. "Implikasi Leaders' Declaration adalah mendorong negara-negara anggota kelompok G-20 untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam memulihkan ekonomi global yang sedang dilanda resesi," katanya.

"Ini pertama kali Indonesia menjadi wakil Asia Tenggara dalam melakukan upaya global mengatasi krisis perekonomian dunia. Pertemuan G-20 penting bagi kesehatan ekonomi dunia dan Indonesia," tambah Dino.

Menurutnya, selama berada di London, Kepala Negara dijawalkan mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, dan Presiden AS Barack Hussein Obama.

Tuan rumah pertemuan tingkat tinggi G-20, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, berharap adanya keputusan bersama dalam mengatasi krisis finansial global sekaligus menjadi agenda yang mendominasi pertemuan tersebut.

Dalam beberapa minggu ini dia berharap para pemimpin dunia itu bisa menandatangani paket usulan yang digambarkannya sebagai "kesepakatan global baru", termasuk memperketat regulasi finansial dan memperjelas kebijakan paket stimulus ekonomi dari pemerintah masing-masing.

Brown mengemukakan pandangannya itu seusai bertemu Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd yang sudah lebih dulu berada di London. Namun, ada beberapa pemimpin tampaknya tidak sepakat dengan agenda PM Inggris itu.

Ya, mari kita berdoa agar melalui pertemuan para pemimpin besar dunia dalam G20 dapat berjalan baik dan bersama mengedepankan kepentingan bersama, terutama sehubungan dengan keadaan dunia sekarang ini yang mengalami resesi ekonomi.
Sumber : suarapembaruan.com
Halaman :
1

Ikuti Kami