Bertengkar karena Uang? No Way!

Bertengkar karena Uang? No Way!

Lestari99 Official Writer
3656

Anda dan pasangan Anda kerap bertengkar soal uang? Anda merasa pasangan Anda pelit atau sebaliknya, pasangan Anda menganggap Anda kikir? Atau Anda "dituduh" pemboros, tidak mampu menabung dan hanya pintar menghabiskan uang? Tetapi Anda tidak perlu bersungut-sungut. Fenomena sejenis dialami oleh banyak pasangan di dunia ini. Bukan cuma Anda.

Hanya pertanyaannya, apakah kehidupan keuangan Anda mau seperti itu terus? Apakah Anda senang jika setiap saat bertengkar hanya karena uang? Apakah rasa cinta Anda pada pasangan tidak mampu mengatasi perbedaan pendapat mengenai uang? Anda mungkin akan mengatakan saya tidak realistis. Anda mungkin beranggapan bahwa setelah menjadi pasangan, yang penting bukan lagi cinta, tapi uang. Benarkah demikian? Terserah Anda. Yang jelas, perbedaan pandangan dalam memaknai uang bukan tidak mungkin akan membawa Anda pada perceraian. Kisah semacam itu sudah sering mengemuka di sekitar kita. Jadi, sebaiknya, jangan Anda tambah lagi. Oleh karena itu, ada baiknya kita diskusikan bagaimana sesungguhnya menyikapi uang, khususnya mengeliminasi perbedaan pendapat dengan pasangan Anda. Dengan kata lain, tidak ada salahnya memahami yang namanya fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan pasangan Anda.

Ada dua jenis sikap seseorang terhadap uang, termasuk pasangan Anda, yakni penabung (saver) atau pembelanja (spender). Dalam realitasnya, Anda dan pasangan Anda bisa berbeda tetapi bisa pula memiliki sikap yang sama. Secara umum, orang-orang yang tergolong savers adalah orang-orang yang selalu memikirkan uangnya untuk peruntukan masa datang dan sangat membatasi pengeluarannya.

Dalam sisi yang ekstrim ada pula kalangan oversaver. Kelompok ini cenderung pelit dan malah, untuk kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan dan papan dibatasi secara berlebihan. Mereka bersikap seperti orang prihatin dan tidak mampu, padahal sebenarnya bisa hidup dalam keadaan yang lebih baik. Sebaliknya, spender adalah orang-orang yang gemar membelanjakan uangnya dan tidak terlalu berminat untuk menabung. Bahkan ada kalangan yang tergolong overspender, yakni gemar rela berutang demi memuaskan keinginan berbelanja, bahkan pendapatannya bisa sudah lebih dulu habis sebelum pendapatan tersebut diterima.

Sekarang coba kita lihat, Anda tergolong saver, oversaver, spender atau overspender, dengan menjawab pertanyaan berikut:

1. Jika Anda tengah pergi ke mal bersama pasangan Anda dan tiba-tiba Anda menemukan sesuatu yang Anda sukai, apakah Anda akan segera membelinya, berpikr lebih dulu baru memutuskan membeli, atau tidak menghiraukannya? Anda pasti akan menempuh salah satu jawaban di atas. Tetapi bagaimana dengan pasangan Anda? Apakah dia akan sependapat dengan Anda atau berbeda? Terhadap contoh pertanyaan tadi, umpamakan sikap Anda adalah langsung membeli barang yang tiba-tiba Anda sukai itu dan pasangan Anda sependapat dengan Anda.

Jika kejadiannya begini, bisa dikatakan Anda berdua tergolong overspenders karena pembelian barang tersebut tidak Anda rencanakan sebelumnya. Kemudian barang tersebut belum tentu kebutuhan, melainkan sekedar keinginan tiba-tiba. Di sisi lain, pasangan Anda juga membiarkannya. Memang bila kondisinya begini, Anda dan pasangan sejiwa terhindar dari benih-benih pertengkaran. Tetapi percayalah, jika hal yang sama terjadi dalam banyak hal, maka bukan tidak mungkin Anda akan masuk perangkap "lebih besar pasak daripada tiang". Ringkasnya, jika pasangan Anda tergolong overspender, mestinya Anda yang berubah dan menjadi orang yang sedikit lebih "pelit".

2. Bagaimana Anda menyikapi kartu kredit? Anda bisa menganggapnya sebagai "uang nganggur" alias lisensi untuk berbelanja, bisa juga beranggapan bahwa kartu kredit merupakan jalan mudah untuk memenuhi kebutuhan Anda pada saat Anda menginginkannya, atau alat yang berguna untuk memudahkan transaksi dalam keadaan darurat dan selalu membayar penuh setelah dipergunakan, atau dalam pandangan Anda, kartu kredit adalah "malapetaka" yang harus dijauhi.

Salah satu pilihan di atas pasti merupakan sikap Anda. Lalu, bagaimana sikap pasangan Anda? Masih tetap sama atau berbeda? Umpamakan, jawaban Anda adalah kartu kredit merupakan "malapetaka", itu berarti Anda tergolong oversaver. Dan bila pasangan Anda juga menganggapnya demikian, berarti Anda berdua setali tiga uang. Boleh jadi, Anda hanya memikirkan masa yang akan datang. Akibatnya, Anda tidak menghiraukan keadaan saat ini. Mungkin malah Anda rela bersusah-susah terus. Namun jangan lupa, suasana menyenangkan di masa datang mungkin tidak akan pernah Anda nikmati, karena sikap oversaver itu melekat pada diri Anda sepanjang hayat. Oleh karena itu, oversaver juga bukan perilaku yang sehat.

3. Bagaimana Anda memikirkan soal hutang? Merupakan urusan pribadi, tidak ada yang boleh ikut campur. Kalaupun bangkrut karena tidak bisa membayar hutang, maka hal itu merupakan urusan Anda. Atau Anda beranggapan hutang harus dipergunakan untuk menikmati apa pun yang Anda inginkan. Yang penting Anda masih bisa membayar angsuran minimal. Bisa juga Anda beranggapan hutang hanya boleh dilakukan untuk keadaan darurat atau dalam hal pembelian aset yang besar, seperti kendaraan. Atau, Anda malah enggan berhutang. Apa saja, kalau bisa dibayar secara tunai.

Salah satu dari pemikiran di atas bisa jadi merupakan paradigma Anda dalam menyikapi hutang. Pengertiannya sederhana. Bila Anda tidak perduli terhadap resiko hutang, Anda tergolong overspender. Di sudut yang lain, jika Anda enggan berhutang, Anda termasuk oversaver.

Dalam realitasnya, bagaimana seandaiya Anda dan pasangan Anda berada pada titik ekstrim yang berbeda? Tentu saja kedua belah pihak harus berbesar hati dan rela untuk berpikir lebih bijak mencari titik temu dari kedua ekstrim tersebut.

Pada tahap pertama, Anda mengupayakan untuk bergeser menjadi saver dan kemudian pasangan Anda upayakan untuk tidak lagi berada di ekstrim spender. Lalu pada tahap berikutnya, Anda berdua mesti bergeser lagi menjadi pasangan yang fleksibel, yakni perpaduan antara spenders dan savers. Artinya, Anda memang mesti memikirkan masa depan dan bersikap hati-hati dalam mempergunakan uang, jadi berperilaku sebagai savers. Tetapi pada saat tertentu tidak ada salahnya membelanjakan uang untuk mendukung harmonisnya keluarga Anda sepanjang hal itu merupakan kesepakatan bersama dan lebih dulu dirancang. Intinya, saver maupun spender merupakan perilaku yang semestinya tidak "kaku", tetapi dikelola melalui suatu perencanaan keuangan yang matang dalam keluarga Anda.

Sumber : Berbagai sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami