Komoditas Baru Perdagangan, Keperawanan

Internasional / 19 January 2009

Komoditas Baru Perdagangan, Keperawanan

Puji Astuti Official Writer
5125

Beberapa waktu lalu, dunia maya sempat digemparkan dengan pelelangan keperawanan lewat ebay. Natalie Dylan, mahasiswa asal San Diego, California, AS, yang masih berusia 22 tahun ini nekat melelang keperawanannya demi mendapatkan uang untuk biaya kuliah.

Berdasarkan laporan Kompas online Rabu (14/4), sudah 10.000 laki-laki yang melakukan penawaran dan nilai tertinggi, 3,7 juta dollar AS atau sekitar Rp 40 miliar. Namun dengan nilai penawaran yang begitu besar dan melebihi targetnya semula yang hanya 1 juta dolar AS atau senilai Rp 9,3 miliar, Natalie masih belum memutuskan menerima harga yang ditawarkan karena menunggu tawaran lebih baik.

Memang penawaran yang ada belum tentu serius, mungkin saja sekedar iseng. Tapi inilah pendapat Natalie tentang respon para pria yang memberi penawaran atas keperawanannya,"Saya tak mengira orang mau keluar duit begitu banyak demi mendapatkan keperawanan, bahkan ketika keperawanan tidak begitu dihargai. Sepertinya ada persaingan di antara para pria itu."

Inspirasi mencari uang semacam ini datang dari sang kakak, Avia (23). Sang kakak yang tak kalah cantik memilih menjual diri selama tiga pekan untuk membiayai kuliahnya.

Sebenarnya jual beli keperawanan bukanlah sebuah fenomena baru, baik di dunia maupun Indonesia.

Di Italia, seorang model berumur 20 tahun yang bernama Rafaella Fico juga menjual keperawanannya seharaga 1 juta euro atau senilai 13,3 miliar rupiah, demikian tulis blog sukasuka.com. Alasannya menjual keperawanan, hanya untuk membeli sebuah rumah di Roma dan membayar kelas acting.

Jika mau mengupas cerita-cerita penjualan keperawanan di Indonesia, mungkin alasannya akan lebih menyedihkan lagi. Jika Natalie dan Rafaela untuk pendidikannya, beberapa gadis di Indonesia menjual keperawanannya untuk menunjang gaya hidup glamornya, walaupun tidak sedikit yang menjadikan ekonomi keluarga sebagai alasan.

Namun dari fakta-fakta yang ada, hal ini adalah sebuah fenomena yang sangat menyedihkan. Dengan cara menjual keperawanannya, wanita-wanita ini tidak menghargai dirinya sendiri, dan menganggap dirinya sebagai barang komoditas yang bisa diperdagangkan.

Kekudusan menjadi sesuatu yang sangat mahal hari ini, karena orang menganggap perzinahan sebagai sesuatu yang biasa. Hal ini bukan masalah tabu atau tidak tabu, tapi tentang apakah seseorang menghormati kekudusan dan Tuhan.

Tuhan Yesus telah mati di kayu salib untuk semua manusia, dan itu artinya bagi wanita-wanita ini juga. Mereka adalah pribadi-pribadi yang di bayar dengan darah Yesus. Sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan seluruh harta yang ada di dunia ini.  Semua itu dilakukan-Nya karena kasihNya yang begitu besar, atas mereka dan juga Anda.

Sumber : Berbagai Sumber/VM
Halaman :
1

Ikuti Kami