Dilema Seorang Kristen (1)

Kata Alkitab / 29 September 2008

Kalangan Sendiri

Dilema Seorang Kristen (1)

Admin Spiritual Official Writer
5708
Banyak orang Kristen yang sejak kecil diberitahu bahwa semua bentuk konflik adalah salah. Mereka juga diajarkan untuk tidak merespon saat ada orang lain yang mencoba menyakiti mereka secara emosional lewat kata-kata, kebohongan, gosip, atau secara fisik. Pemikiran mereka dibentuk untuk menerima tindakan kekerasan karena mungkin saja itu adalah salah satu cara Tuhan untuk membentuk karakter (khususnya kerendahan hati) mereka. Ketika mereka diejek atau dikerjai di sekolah, mereka dinasehati bahwa mereka menerima ganjaran karena kebenaran, bahkan walaupun tindakan kekerasan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan moralitas.

Lebih parah lagi, kebanyakan dari antara mereka juga datang dari lingkungan rumah yang menghindari konflik sepenuhnya (atau, mereka menyaksikan konflik kekerasan dan tidak pernah melihat konflik ditangani secara positif). Dalam lingkungan mereka, konflik disembunyikan di bawah kolong sofa, dan mereka dididik dengan cara memalsukan kedamaian, bukan pembuat kedamaian. Mereka tidak menyaksikan bagaimana konflik yang ditangani dengan baik dapat memberkati seseorang atau bahkan seluruh keluarga, dan mereka tidak belajar bahwa konflik akan menjadi bagian dari setiap kehidupan yang normal. Sebagai hasilnya, mereka tumbuh sebagai orang-orang dewasa yang seringkali mempunyai pernikahan penuh bencana, yang mereka masuki dengan keyakinan-keyakinan yang naif dan kemampuan berhubungan yang minim.  

Berlawanan dengan pandangan itu, baik perjanjian lama maupun baru dipenuhi dengan konflik, seringkali bersamaan dengan perkenanan Tuhan. Bagaimanapun juga, Paulus mengatakan, "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18), seolah-olah memerintahkan agar kita seharusnya tidak pernah "mengganggu kedamaian". Ini hal yang harus kita ketahui: ayat itu benar jika diaplikasikan pada kedamaian yang sejati. Jika sudah ada kedamaian yang sejati, maka kita harus menjaga kedamaian itu. Tapi jika tidak ada kedamaian, maka kita seharusnya membuat kedamaian, dan untuk mewujudkan kedamaian seringkali membutuhkan konflik. Kedamaian bukan hanya keadaan yang tanpa konflik sama sekali, kedamaian berarti hal-hal telah dijadikan benar. Dan jika semua itu belum dijadikan benar, maka adalah tindakan yang salah untuk berpura-pura bahwa ada kedamaian, keadilan, rasa hormat, dan kehendak baik (contohnya lihat Yeremia 6:14).     

Para orang tua yang mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa semua konflik itu salah, sedang memberitahu mereka bahwa menjadi kantong tinju tempat pelampiasan seseorang bagaimanapun juga berarti menunjukkan kasih kepada orang lain. Sehingga kedamaian yang sejati, keadilan yang sejati, rasa hormat yang sejati, dan kehendak baik yang tulus menjadi terdistorsi di benak mereka, dan seringkali mereka akan menjadi "keset kaki". Bahkan ketika mereka dewasa, atasan mereka yang licik akan cenderung mempekerjakan dan memperlakukan mereka dengan tidak seharusnya, karena dia tahu mereka tidak akan berbicara atau melawan. Dia tahu mereka tidak akan terang-terangan membicarakan masalah-masalah yang sesungguhnya ataupun berjalan menuju konflik, karena mereka mempunyai pandangan yang salah tentang pertahanan diri.

"Memberikan pipi yang satunya lagi" bukan berarti kita tidak diijinkan untuk membela diri kita sendiri. Tapi itu berarti, contohnya, kita tidak membalas hinaan dengan hinaan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ketika saya berbagi tentang hal ini dengan seorang pria Kristen baik-baik, ungkapan penyesalan yang nyata biasanya mendominasi percakapan kami setelah itu. Lalu kemarahan yang bercampur rasa malu, biasanya terlihat dari para pria ketika mereka ingat apa saja kejadian dimana mereka pernah mengijinkan orang lain melakukan beberapa hal kepada mereka tanpa perlawanan.

Saat seseorang mengikuti Kristus, mereka menjadi entah pasif atau malah seperti jihad. Kita menjadi pembawa kebenaran, pembawa cahaya di tengah-tengah dunia, kita dipanggil untuk menyesuaikan kehendak kita dengan kehendakNya, untuk mewujudkan rencanaNya di bumi ini. Terkadang itu melibatkan konflik. Partisipasi kita dalam pekerjaan Tuhan membutuhkan hal-hal yang lebih, seperti disiplin, ketekunan, dan ketabahan. Kita perlu bersikap bijak dan dengan kasih, yang tidak selalu terasa nyaman atau menyenangkan.

Artikel selanjutnya akan membahas tanda lain dari kehidupan yang tidak efektif, kepasifan, serta perbedaan antara semata-mata hidup saleh dan hidup saleh dengan bijak. Ikuti sambungan artikel ini selanjutnya!

Sumber : crosswalk
Halaman :
1

Ikuti Kami