Berbicaralah Kepada Mereka daripada Tentang Mereka

Kata Alkitab / 8 September 2008

Kalangan Sendiri

Berbicaralah Kepada Mereka daripada Tentang Mereka

Admin Spiritual Official Writer
5146
Ingatkah Anda dalam Lukas 18:9 ketika Lukas menceritakan perumpamaan dari orang Farisi dan pemungut cukai seperti ini: "Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain..." Mungkin agak samar pada awalnya, tapi perhatikan bahwa Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka yang percaya bahwa diri mereka benar. Tidak disebutkan bahwa Dia membicarakan perumpamaan tentang mereka.

Meskipun hal ini terlihat sepele, tapi mengandung pelajaran untuk kesehatan gereja kita, agar kita tidak berbicara kepada orang lain tentang kesalahan seseorang, tapi berbicara langsung kepada orang yang bersangkutan tentang kesalahannya. Memang jauh lebih mudah dan terasa nikmat bagi lidah kita yang rentan berdosa untuk membicarakan tentang orang lain. Tapi lebih sulit, dan sering terasa lebih pahit, untuk berbicara langsung kepada orang yang bersangkutan. Saat Anda membicarakan tentang mereka, mereka tidak bisa mengkoreksi Anda dan memutarbalikkan keadaan untuk menjadikan Anda sumber masalahnya. Tapi jika Anda berbicara langsung kepada mereka tentang suatu masalah, itu mungkin dapat terasa menyakitkan. Jadi terasa lebih aman untuk membicarakan tentang orang lain dibanding berbicara langsung kepada mereka.

Tapi Yesus tidak memanggil kita untuk membuat pilihan yang aman. Dia memanggil kita untuk membuat pilihan yang benar dan penuh kasih. Dalam jangka pendek, kasih kadang lebih menyakitkan dibanding menghindari konflik dan melindungi diri. Tapi dalam jangka panjang, kesadaran kita akan menghakimi kita karena pilihan praktis ini dan kita hanya melakukan sangat sedikit kebaikan untuk orang lain.

Jadi, marilah kita lebih menjadi seperti Yesus dalam hal ini dan tidak membicarakan tentang orang lain, tapi berbicara langsung kepada mereka, dengan kata-kata dorongan juga (karena bukti-bukti kasih karunia yang kita lihat dalam hidup mereka), dan juga dengan teguran atau koreksi. Paulus mendorong kita untuk menggunakan perkataan sesuai dengan kebutuhan: "Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang." (1 Tes 5:14).

Saya tidak bermaksud mengatakan Anda tidak bisa mengkritik presiden tanpa mnelponnya langsung atau bahwa Anda tidak bisa mendiskusikan kotbah pendeta Anda (baik secara negatif atau positif), tanpa datang menemui saya secara langsung. Tokoh-tokoh masyarakat memang meletakkan diri mereka di depan banyak orang dan memahami bahwa setiap orang akan mempunyai pendapat masing-masing tentang apa yang mereka katakan. Itu tidak apa-apa. Yang saya maksudkan adalah saat Anda mengetahui ada teman atau kenalan yang telah melakukan suatu dosa atau perbuatan yang memalukan, ambillah balok kayu itu dari mata Anda, lalu temuilah mereka dan cobalah membantu mereka dengan konseling yang rendah hati.

Mungkin Anda bisa menceritakan sebuah perumpamaan kepada mereka. Itu yang Yesus lakukan dalam Lukas 18:9-14. Dan itu juga yang dilakukan Nabi Natan terhadap Daud, setelah Daud berdosa dengan Batsyeba dan Uria (2Samuel 12:1-4). Tapi Anda juga tidak harus se-kreatif itu. Perhatian Anda yang tulus lebih berarti bagi orang yang bersangkutan daripada kreativitas Anda.

Saya sangat menginginkan gereja kita bebas dari gosip. Mengapa kita tidak berusaha untuk bersikap jujur, berani dan rendah hati? Yesus juga terkadang bersikap blak-blakan. Kasih terkadang memang terdengar seperti itu. Dia dapat dengan mudah dinilai sebagai seseorang yang tidak mempunyai kasih. Tapi kita tahu bahwa Dialah yang paling mempunyai kasih di antara semua orang yang pernah hidup. Dia mati untuk kita agar semua dosa kita diampuni. Kenyataan itu seharusnya memberi kita keberanian dan sekaligus kasih dalam berurusan dengan orang lain. Terutama saat kita menyadari bahwa kesalahan saudara-saudara kita juga telah diampuni oleh Yesus. Bersyukurlah karena kasihNya dengan mempercayai dan mengikuti teladan Yesus dalam berbicara kepada satu sama lain, bukannya membicarakan tentang satu sama lain.


Sumber : christianitytoday
Halaman :
1

Ikuti Kami