Gempa Dasyat Guncang Sumbawa

Gempa Dasyat Guncang Sumbawa

Puji Astuti Official Writer
3730

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) melaporkan, gempa yang cukup dahsyat berkekuatan 6,6 skala richter (SR) mengguncang Kota Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (7/8) pagi pukul 06.07 WITA. Setengah jam kemudian, terjadi gempa susulan berkekuatan 5,1 SR.

Di pihak lain, Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa di Sumbawa di berkekuatan lebih besar dibanding pencatatan BMG, yakni 5,7 SR.

Data terakhir menyebutkan, sekitar 100 bangunan rusak berat dan ringan, termasuk gedung sekolah dan puskesmas. Namun, sampai berita ini diturunkan dikabarkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Dilihat dari jenisnya, gempa di Sumbawa ini cukup berbahaya karena tergolong gempa dangkal dengan pusat gempa berada sekitar 50 kilometer timur laut Kota Sumbawa, pada kedalaman 10 kilometer di bawah dasar laut dengan koordinat 8.08 lintang selatan (LS) - 117.16 bujur timur (BT).

Getaran sangat kuat terasa di daerah Sumbawa Barat yang berada paling dekat dengan pusat gempa. Sekretaris Daerah Sumbawa Barat, Amrullah Ali, mengatakan, pihaknya masih melakukan pemantauan. Hal yang sama dikemukakan Ismail dari Dinas Kesehatan NTB. Pemerintah daerah setempat akan segera mengirim bantuan jika laporan sudah diperoleh.

Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan, Rustam S Pakaya, mengatakan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan pemerintah daerah setempat. Gempa juga dirasakan masyarakat Kota Mataram yang berada 171 kilometer dari pusat gempa. "Kita rasakan gempanya, tapi tidak terlalu kuat," ujar Ny Latumahina, warga BTN Kekalik, Mataram.

Sementara itu, Peneliti Utama Khusus Gempa dan Tsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, saat memberikan pembekalan kepada para peneliti muda di Kantor LIPI, Jakarta, Rabu (6/8), mengatakan, potensi bencana akibat gempa bumi dan tsunami di daerah timur Indonesia diprediksi lebih besar dibandingkan wilayah barat.

Hal ini diakibatkan kecepatan pergerakan lempeng yang ada di wilayah timur lebih besar dibandingkan pergerakan lempeng di bagian barat Indonesia. Dia menjelaskan, kecepatan pergerakan lempeng di bagian timur Indonesia mencapai 12 cm per tahun, sedangkan di bagian barat mencapai 5-6 cm per tahun.

Danny mengatakan, meskipun potensi bencana di wilayah timur lebih besar tetapi jika berbicara risiko bencana, maka daerah yang paling rawan adalah wilayah barat, mengingat infrastruktur dan penduduk lebih banyak di bagian barat Indonesia terutama Pulau Jawa dan Sumatera.

"Di wilayah timur, gempa dengan kekuatan 8 Skala Richter atau lebih mencapai delapan kali dalam 100 tahun atau tiga kali dalam 35 tahun terakhir. Jadi masyarakat di bagian timur harus waspada," ujarnya.

Danny Hilman melanjutkan, prediksi terjadinya gempa dan tsunami di wilayah Indonesia hingga saat ini masih belum terlalu akurat karena kurangnya data yang dimiliki. Menurut dia, data gempa dan tsunami yang sedikit itu dipengaruhi juga minimnya peneliti yang terjun khusus untuk menekuni bagian bencana alam dan penyebabnya.

Danny juga mengkritik kebijakan pemerintah yang inkonsisten. Dia mencontohkan, pemerintah sejak lama sudah menggembar-gemborkan untuk membantu para peneliti, termasuk peneliti di bagian bencana, namun tidak satu pun penelitian soal bencana masuk dalam daftar riset unggulan di Kementerian Riset dan Teknologi.

Sumber : Suara Pembaruan/VM
Halaman :
1

Ikuti Kami