Pancasila, Masihkan Bangsa Ini Menghidupinya?

Pancasila, Masihkan Bangsa Ini Menghidupinya?

Puji Astuti Official Writer
4267

Hari kelahiran Pancasila, diperingati pada 1 Juni, hari Minggu lalu. Pancasila dirancang untuk menampung kemajemukan rakyat Indonesia, sehingga bangsa ini bisa tetap terikat erat menjadi satu kesatuan. Namun sayang, saat ini Pancasila yang merupakan dasar dibangunnya negara ini, sepertinya sudah mengalami penurunan nilai bagi sebagian masyarakat Indonesia. Pada hari yang sama saat diperingatinya kelahiran Pancasila, tindakan anarkis yang mencerminkan tidak adanya tolenransi atas keragaman dan perbedaan pendapat terjadi. Sekitar 200 orang yang beratribut Front Pembela Indonesia (FPI) terlibat bentrok dengan Aliansi Kebangsaan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang baru selesai mengadakan aksi damai di Silang Monas.

Sekitar 200 orang beratribut FPI itu tiba-tiba merangsek masuk ke Silang Monas tempat aksi damai Aliansi Kebangsaan berlangsung.

Massa FPI mengejar bahkan melakukan pemukulan dengan menggunakan tongkat kepada para pengikut Aliansi Kebangsaan itu termasuk perempuan. Bahkan satu orang aparat kepolisian pun sempat dikeroyok oleh lima anggota FPI.

Mereka mengejar dan memukuli sambil meneriakkan yel-yel anti Ahmadiyah.

Bentrok pun akhirnya dilerai oleh sebagian massa PDI-Perjuangan yang juga baru selesai melakukan peringatan Kebangkitan Pancasila.

Sangat disayangkan aparat kepolisian datang terlambat, dan FPI yang jelas-jelas melakukan tindakan kriminal dengan melakukan pemukulan terhadap massa AKKBB tidak ditindak oleh aparat.

Apakah dibangsa ini perbedaan pendapat tidak diperbolehkan lagi? Apa yang menjadi legitimasi bagi mayoritas untuk menindas minoritas? Ada apa dibalik semua ini sehingga penegak hukum menutup mata atas tindakan kelompok yang mengatasnamakan mayoritas? Berbagai pertanyaan muncul, demikian juga kecaman dari beberapa kalangan.

"Saya mengecam tindakan kekerasan berupa pemukulan yang terjadi atas sejumlah aktivis LSM oleh sebuah kelompok yang mengatas namakan Islam, karena tindakan tersebut bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri," kata Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Din dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan segala bentuk tindak kekerasan tidak dapat dibenarkan dan itu merupakan penyalahgunaan agama.

Selain itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amidhan juga menyesalkan aksi kekerasan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), di Silang Monas, Jakarta, Minggu.

"Kita menyayangkan peristiwa itu. Saya tidak setuju dengan tindakan FPI," katanya, di Jakarta, Minggu.

Indonesia dalam peringatan ke 100 tahun Kebangkitan Nasional sepertinya masih jauh dari kedewasaan. Pembelajaran untuk proses pendewasaan rakyat Indonesia sepertinya akan menjadi perjalanan panjang ke depan. Hanya anak-anak yang memaksakan keinginannya kepada orang lain, dan tidak memiliki toleransi akan perbedaan. Menjadi dewasa bukanlah bicara soal umur, tetapi lebih kepada sikap. Indonesia, mari menjadi dewasa.

Sumber : Antara/vm
Halaman :
1

Ikuti Kami