Puji Astuti

Official Writer
7035


Kamis (29/5) lalu, merupakan peringatan tepat dua tahun lumpur Lapindo menggenangi wilayah Porong, Sidoarjo. Hingga hari ini, semburan Lumpur terus keluar dari perut bumi. Baik pemerintah maupun Lapindo sendiri belum menemukan cara untuk menghentikan semburan lumpur tersebut.

Korban tragedi Lumpur Lapindo inipun mengunjungi Istana Merdeka dalam rangka mendesak pemerintah  agar proses ganti rugi terhadap mereka segera diselesaikan.

Sementara itu, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah selaku Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) mengatakan, pemerintah akan memastikan pembayaran ganti rugi bagi warga yang menjadi korban luapan lumpur daerah eksplorasi PT Lapindo Brantas Inc. di Sidoarjo, Jawa Timur, selesai pada 2009.
"Sesuai Perpres Nomor 14 tahun 2007, maka kita minta PT Minarak Lapindo Jaya menyelesaikan itu sesuai tahapan yang ditetapkan dan harus selesai tahun 2009," katanya.

Sudah dua tahun, penduduk Sidoarjo menangisi bencana yang menimpa mereka. Apakah ini sebuah kutukan bagi bangsa ini? Atau masalah ini merupakan sebuah berkat yang terbungkus dalam suatu bentuk yang buruk?

Dahlan Iskan dalam sebuah tulisannya di Jawa Pos, memberi sebuah pandangan baru tentang lumpur Lapindo. Dia bertutur seperti ini : Sudah terlalu jelek nama Jatim di dunia luar. Apalagi nama Sidoarjo. Sudah terlalu lama kita bersedih, berduka, dan menangis untuk lumpur Lapindo. Tapi, air mata sebanyak lumpur Lapindo pun tidak akan mampu mengubah bencana itu. Sudah saatnya kita mengusap air mata, meski tetap harus memperjuangkan mati-matian nasib penduduk yang terkena dampak lumpur itu, baik langsung maupun tidak langsung.

"Peristiwa di Sidoarjo itu dinilai sangat langka. Di seluruh dunia hanya terjadi di Sidoarjo ini. Seluruh dunia justru harus tahu ini. Harus tahu bahwa kalau mau melihat fenomena bumi yang ajaib dan hanya terjadi di satu tempat, datanglah ke Sidoarjo. Kini rasa malu bahwa daerah kita terkena musibah itu sudah harus diakhiri. Harus diubah menjadi rasa bangga." Demikian ungkap Dahlan.

Sudah waktunya Indonesia bangkit menjadi masyarakat yang kuat. Berhenti mengasihani diri dan meratapi nasib, angkatlah wajah dan mulai lihat dengan sebuah kacamata yang berbeda.

Berkat atau kutukan, itu adalah masalah cara pandang. Namun apapun yang Anda pikirkan, itu adalah benar. Jika masalah Anda anggap sebagai kutuk, maka itu jadi seperti yang Anda pikirkan. Namun dari pada berpikir negatif, Anda bisa menganggapnya sebagai berkat yang dibukus dengan cara yang berbeda oleh Tuhan.

Lumpur Lapindo di Sidoarjo, dapat mengubah wajah Jawa Timur, bahkan Indonesia. Lumpur Lapindo, bisa jadi sebuah fenomena alam untuk di observasi dan menjadi tujuan wisata ilmiah, hanya bagaimana cara mengemasnya saja yang harus ditemukan. Sidoarjo, mari bangkit dan tersenyum kembali.

Sumber : Berbagai sumber/VM


Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Erik Siahaan 27 May 2020 - 08:13:10

Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.".. more..

3 Answer

Margaretha Ltor 15 May 2020 - 11:07:59

Apa yg kita harus lakukan,,untuk tau ada atau tida.. more..

2 Answer

tolala 2 May 2020 - 03:25:35

Covid 19

1 Answer


Lawrence Fabian Jerangku 19 July 2020 - 23:26:45
Saya meminta doa kalian berserta isteri saya menga... more..

Varris Sitio 15 July 2020 - 10:09:27
Saya Varris dan merupakan salah satu karyawan swas... more..

purnama 1002 2 July 2020 - 23:48:31
Tolong doakan anak perempuan saya yg terkena penya... more..

Anju Frans Siregar 15 June 2020 - 15:07:02
Shalom semuanya. Saya mohon doa untuk kesembuhan d... more..

advertise with us


7237

advertise with us