Prematur

Prematur

Lestari99 Official Writer
6588

Ada hormon yang disinyalir mampu mempengaruhi kontraksi rahim, yaitu oxytocine dan prostaglandin. Oxytocine meningkat bila ada rangsangan pada puting susu, sementara prostaglandin banyak terkandung pada cairan sperma. Karena itu muncul dugaan bahwa rangsangan pada payudara serta hubungan seksual dengan disertai vaginal ejaculation akan mengakibatkan kelahiran prematur. Namun berbagai penelitian membuktikan bahwa oxytocin yang meningkat akibat rangsangan pada puting susu serta prostaglandin yang terkandung dalam sperma, tidak memiliki pengaruh yang signifikan yang berakibat pada kelahiran prematur. Namun bila kehamilan tidak sehat, dua hormon di atas memang bisa memperburuk keadaan dan sangat mungkin akan memicu keguguran atau kelahiran prematur.

Di sisi lain, hubungan seksual harus kita pahami sebagai suatu aktifitas kompleks yang melibatkan banyak perubahan faal tubuh, baik sebelum, pada saat maupun sesudah hubungan berakhir. Nah perubahan faal tersebut salah satunya adalah perubahan produksi hormon terutama neurohormon (hormon yang berhubungan dengan fungsi persyarafan).

Selain dari dua hal yang sudah disebutkan di atas, ada beberapa hormon lain yang terlibat dalam proses hubungan seksual. Pada saat fase desire, neurohormon yang dominan adalah dopamine dan phenylethylamine, kedua hormon ini menyebabkan munculnya dorongan erotis yang menyebabkan suami-istri ingin berdekatan secara intim. Bila fase ini berlanjut maka pada fase excitement, dopamine akan semakin meningkat bersamaan dengan meningkatnya adrenaline. Pada fase ini gairah seksual semakin tinggi dan secara faali semua sistem metabolisme meningkat, paling sederhana bisa diketahui dengan meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung akibat pengaruh dua neurohormon tersebut. Beberapa saat kemudian dopamine akan memicu refleks orgasme, yang ditandai dengan munculnya kontraksi ritmis pada otot dasar panggul yang menyebabkan ejakulasi pada pria, dan efek gerakan memijat pada dinding vagina. Saat itu kepuasan puncak hubungan seksual dirasakan.

Pada saat yang bersamaan dengan itu akan dihasilkan beberapa neurohormon yang lain seperti endorphine, serotonin dan prolactin. Pengaruh ketiga hormon ini sangat nyaman bagi yang bersangkutan. Endorphine memiliki sifat analgesic sehingga akan menghilangkan rasa pegal, capai, bahkan sakit kepala. Serotonin bersifat antidepresan sehingga akan menimbulkan ketenangan emosional, sementara ini prolactin disinyalir mampu memberikan perasaan closeness (dekat/intim) antara suami-istri. Perubahan-perubahan faali terlihat jelas baik bagi kesehatan fisik maupun jiwa, dan terbukti Ibu hamil yang sehat secara fisik maupun mental pengaruhnya bisa diteruskan pada janin yang dikandungnya. Jadi secara umum hubungan seksual justru baik bagi proses kehamilan. Dan jangan lupa: Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah (Mazmur 127 : 3). Be WiSe, Always Remember Wisdom for Sex Life. (draw)

 

Dr. Andik Wijaya, MRepMed adalah seorang dokter spesialis dan juga seorang hamba Tuhan yang memiliki karunia pengajaran. Dengan visi dan misi yang diyakininya menjadi panggilan hidupnya, beliau kemudian mendirikan YADA Institute, The School of Everlasting Intimacy. Melalui institusi ini Andik mengimani bahwa Tuhan memanggil, memperlengkapi, mengutus dan mengurapinya untuk mengajarkan Everlasting Intimacy (keintiman abadi) melalui penyingkapan misteri seksual. Karena itu dua tema utama dalam setiap pelayanan YADA Institute adalah Menyingkap Misteri Seksual, Membangun Keintiman Abadi. Saat ini beliau banyak memberikan seminar pengajaran di berbagai kota di Indonesia.

Halaman :
1

Ikuti Kami