Badai di Myanmar Memakan Korban 100.000 Orang Lebih

Nasional / 9 May 2008

Kalangan Sendiri

Badai di Myanmar Memakan Korban 100.000 Orang Lebih

Puji Astuti Official Writer
5591
Setelah badai menerpa Myanmar, negara yang di perintah oleh rezim militer itu, diperkirakan korban jiwa mencapai 100.000 orang lebih. Badai yang bernama Badai Nargis itu, meninggalkan jejak yang mengenaskan. Badai yang terjadi pada sabtu (3/5) lalu, meluluh lantahkan negara tersebut. Yang mengalami kondisi paling parah adalah pulau-pulau dan desa-desa di sekitar delta Irrawaddy.

Rezim militer Myanmar sangat tertutup terhadap dunia international sejak mulai berkuasa pada 46 tahun lalu. Myanmar yang dulu dikenal sebagai Birma itu akhirnya harus mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan international untuk mengatasi bencana ini.
Badai ini bisa dikatakan sebanding dengan gelombang tsunami yang terjadi pada tahun 2004 lalu.

Setelah pemerintahan Myanmar memberikan ijin untuk bantuan internasional, berbagai negara langsung memberikan respon bahkan juga lembaga-lembaga international. PBB mencoba memberikan respon secepat mungkin dengan mengirimkan bantuan darurat seperti makanan, air bersih, selimut dan alas plastik.

"PBB akan mempersiapkan bantuan sekarang untuk dikirim dan diangkut segera ke Myanmar secepat mungkin,' demikian pernyataan jurubicara Program Pangan Dunia (WFP) Paul Risley.
Diperkirakan sekitar satu juta orang kehilangan tempat tinggal akibat badai dasyat ini, dan kurang lebih sekitar 5000 kilo meter persegi terendam air di delta Irrawaddy.

Myanmar diperkirakan akan mengalami serangan berbagai penyakit, karena banyak mayat yang tidak tertangani bahkan masih terkubur di reruntuhan rumah-rumah.

Thailand, negara tetangga terdekat Myanmar mengirimkan sembilan ton makanan dan obat-obatan ke daerah bencana pada selasa (6/5) lalu. Bahkan pemerintahan Thailand menjanjikan bantuan dana sedikit-dikitnya 100.000 dolar Amerika dalam bentuk uang, demikian pernyataan dari Menteri Luar Negeri Noppadon Pattama.

Sangat disayangkan dengan bencana sedasyat ini, pemerintah Myanmar terkesan lambat menanganinya. Mereka sepertinya lebih memprioritaskan jadwal referendum konstitusi yang akan di gelar pada hari Sabtu (10/5) nanti. Jadi tidak mengherankan bahwa selain menerima banyak bantuan, tak lupa ada banyak kecaman yang menyertai dari berbagai tokoh negarawan maupun publik.

Sumber : Berbagai sumber/VM
Halaman :
1

Ikuti Kami