Perang Dalam Pikiran Seorang Feminis

Perang Dalam Pikiran Seorang Feminis

Fifi Official Writer
3956
Sampai usia 28 tahun, kehidupan saya sudah hampir mendekati posisi ideal seorang feminis. Saya berpendidikan, punya karir yang sukses, dan telah menikah dengan seorang pria yang juga mempunyai karir mapan. Dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore, suami saya dan saya mengejar prestasi kerja masing-masing. Sesampainya di rumah, kami bergiliran memasak makan malam dan mencuci, juga membersihkan rumah. Hal ini berjalan dengan sangat baik. Sampai pada usia 28 saya hamil. Saat itulah saya harus membuat keputusan, salah satu keputusan yang dihadapi kebanyakan istri, dan juga yang paling berat: siapa yang akan merawat bayi saya? Saya sendiri atau orang lain?

Jawaban saya, saya tahu, tidak akan disetujui oleh kalangan feminis, saya sudah mendengar argumentasi mereka. Jika seorang wanita menjadi ibu rumah tangga, dia tidak akan utuh sebagai pribadi dan akan mengorbankan pencapaian-pencapaian yang sudah dia dapatkan. Tapi saya sudah berdamai dengan pemikiran itu. Ada hal-hal yang lebih penting yang saya pertimbangkan. Tapi saya terkejut saat saya menyadari bahwa masih ada pertanyaan yang mengganggu di kepala saya, "Apakah bijak untuk melepaskan karirmu? Bagaimana kalau kamu ingin kembali bekerja?" "Saya yakin saya akan kembali bekerja suatu hari nanti," kata saya pada diri sendiri. "Tapi sekarang, inilah yang perlu saya lakukan..."
"Tapi membiarkan suamimu mendapatka semua uang?"
"Tidak masalah siapa yang mendapatkan uang, lagipula ini adalah sebuah keluarga."

Tapi saya tiba-tiba mengerti inti masalahnya, ini adalah lebih tentang kepercayaan. Seberapa "percaya" saya sehingga saya bersedia menyerahkan karir saya. Dalam banyak pandangan wanita saat ini, apa yang saya sedang lakukan adalah membuat diri saya menjadi rapuh. Dan seharusnya tidak ada seorang wanitapun yang membuat dirinya menjadi rapuh? Mengapa? Karena, seperti yang dengan cepat ditanggapi oleh kaum feminis, saya akan kehilangan kekuatan atau kuasa apapun dalam pernikahan saya. "Wanita yang bergantung pada suaminya untuk penghidupan berada dalam posisi yang lemah untuk melakukan tawar-menawar dengan suaminya dalam hal-hal lain," tulis Ann Crittenden dalam artikelnya "Harga dari Menjadi seorang Ibu". "Jika suami menolak untuk membantu pekerjaan rumah tangga apapun, apa yang bisa istri lakukan? Mengancam akan meninggalkan keluarga? Sepertinya mustahil."

"Memang kebanyakan pencari nafkah tidak memanfaatkan kekuasaan mereka untuk menindas istri, tapi bukan itu intinya. Intinya adalah, mereka bisa menindas jika mereka mau," tulis Crittenden memperingatkan para wanita. Berdasarkan pandangan kaum feminis, uang adalah kekuasaan, dan wanita hanya akan menjadi setara dengan pria jika mereka juga bisa mendapatkan uang. "Jika pernikahan seorang pria gagal, maka dia bisa pergi dengan dompetnya dan memasuki pernikahan berikutnya dengan mudah. Tapi sebaliknya, wanita yang tidak bekerja, menginvestasikan hidupnya untuk merawat anak, mereka tidak mempunyai tingkat "keamanan" yang sama," tulis Crittenden. Pandangan ini masih berlanjut. Karena ketidakstabilan pernikahan saat ini, banyak wanita merasa mereka harus tetap bekerja, karena mereka tidak mau mengambil resiko kalau-kalau 10 atau 20 tahun setelah mereka berhenti bekerja, ternyata mereka bercerai. Tapi saya tidak mau bekerja, saya mau membesarkan anak saya. Saya berusaha memikirkan ini sendiri, sebagai seorang wanita yang dibesarkan dengan pengaruh paham feminis, pilihan ini memang seperti pil pahit yang harus ditelan. Apa yang harus saya lakukan? Terus bekerja karena rasa takut akan diabaikan atau menjadi ibu rumah tangga dan mengharapkan yang terbaik?

Tapi Tuhan menunjukkan pada saya bahwa ada pilihan ke 3. Saya mulai mengerti perkataanNya dalam Matius 6, "janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Saya bingung antara membiarkan suami saya menjadi pemberi nafkah untuk saya atau saya harus mencari nafkah untuk diri saya sendiri. Tuhan membuat semuanya menjadi jelas: saya salah dengan 2 pilihan itu, Dialah pemberi nafkah saya. Tapi saya masih bisa mendengar pertanyaan feminis yang menghina kenaifan saya, "Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau nanti kamu ditinggal bersama anakmu? Apakah Tuhan akan memberi nafkah untukmu?"

Akhirnya, dengan yakin saya menjawab "ya". Jika hal itu sampai terjadi, maka bagaimanapun juga, Tuhan pasti akan menyediakan. Saya tidak perlu takut akan apa yang munngin terjadi di masa depan untuk melakukan hal yang benar sekarang. Tuhan juga menunjukkan saya bahwa saya bisa "percaya" pada suami saya karena dia benar-benar yakin akan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan. Kevin dapat bertanggung jawab atas saya dan anak kami. Lebih dari itu, dia juga bertanggung jawab kepada Penciptanya yang telah memerintahkan dia untuk mencintai saya sama seperti Kristus mencintai gerejaNya.

Saya melihat bahwa membesarkan anak dan membangun keluarga membutuhkan usaha keras. Hal itu bisa membuat anda stress dan meregangkan diri anda, membuat anda bertumbuh dan lebih dewasa secara berbeda. Kalau saya dan Kevin memaksakan bayi kami untuk mengikuti jadwal harian dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore, tekanan itu bisa menjadi jauh lebih parah. Seperti yang dikatakan Warren, "Mungkin kombinasi dari bekerja dan mengurus anak membuat kehidupan rumah tangga menjadi stress dan menyebabkan 2 orang yang sama-sama bekerja itu hanya mempunyai lebih sedikit waktu untuk satu sama lain." Saya pikir itu benar. Kevin dan saya masih mengalami beberapa tekanan dalam tanggung jawab kami masing-masing, tapi banyak tekanan telah berhasil ditangani bersama. Kami berdua tahu anak kami berada di tangan yang aman, tangan kami sendiri.

Tentu saja, saya tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Mungkin saja kami mengalami masalah keuangan, walaupun saya tidak mengharapkannya. Tapi saya menyadari bahwa keamanan finansial saya, entah saya bekerja atau tidak, bukan berada di tangan saya. Keamanan finansial saya, bahkan sebenarnya seluruh keamanan saya, ada dalam kendaliNya.

Sumber : boundless
Halaman :
1

Ikuti Kami