Gunung Kelud Siap Meletus, Warga Ogah Mengungsi

Nasional / 19 October 2007

Kalangan Sendiri

Gunung Kelud Siap Meletus, Warga Ogah Mengungsi

Puji Astuti Official Writer
11484
\Suparti masih ingat betul hari-hari saat Kelud meletus. Tetapi sayang, ia tidak ingat tanggal dan bulannya. Pada tahun 1951, Kelud meletus pada hari Jumat Manis (Legi), tahun 1996 meletus pada hari Rabu Wage, dan tahun 1990 terjadi pada Sabtu Wage.
Ia ingat saat letusan Kelud tahun 1951, dirinya maupun warga Desa Sugihwaras sama sekali tidak mengungsi. Dari desanya, letusan Gunung Kelud menjadi pemandangan yang sangat indah.
"Apalagi kalau malam, lelehan lahar yang mengalir sangat indah dilihat," katanya.
Pada tahun tersebut memang sempat terjadi hujan abu, pasir dan bercampur batu kerikil. Saat itu hampir seluruh rumah di desa tersebut tidak menggunakan atap genting, melainkan menggunakan atap dari daun kepala sehingga tidak terlalu membahayakan meski warga berdiam di dalam rumah.
Demikian juga tahun 1966, hampir tidak ada warga desa yang mengungsi. Bahkan hujan abu yang mengguyur merupakan suatu berkah karena tanah pertanian mereka akan semakin subur. "Waktu itu memang tidak ada keterlibatan pemerintah untuk melakukan evakuasi atau minta warga mengungsi," jelasnya.
Pada tahun 1990, ledakan yang terjadi lebih dahsyat dibanding tahun 1951 dan 1966. Saat itu, hujan pasir terjadi beberapa hari. Dengan kesadaran sendiri, warga mengungsi ke Desa Tawang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Setelah sekitar 4-5 hari mengungsi, akhirnya warga kembali ke rumah masing-masing.
"Saat itu rumah kami penuh dengan pasir, baik di luar maupun di dalam rumah. Beberapa rumah yang tidak kuat menahan pasir, atapnya ada yang jebol. Hampir seluruh jalan desa dan pelataran rumah tertutup pasir setebal setengah meter," paparnya.
Lagi-lagi Suparti maupun warga desa lainnya mensyukuri hujan pasir tersebut. Sebab dengan pasir limpahan Gunung Kelud, mereka bisa menggunakannya untuk membangun rumah, membangun gedung sekolah maupun bangunan fasilitas umum lainnya. "Gunung Kelud memberikan berkah bagi kami, bukan bencana. Kami lahir di gunung, dan kami yakin akan mati di gunung," paparnya.
Panen Cengkih
Salah satu alasan warga desa tidak mau meninggalkan desanya untuk mengungsi, karena saat ini sedang dalam masa panen cengkih. Meski mereka menanam cengkih memanfaatkan pekarangan yang tidak terlalu luas di belakang rumah mereka, saat inilah mereka sedang menikmati hasil jerih payah merawat pohon selama bertahun-tahun.
"Saat ini, warga desa banyak yang sedang panen cengkih. Setelah dipetik dan dijemur, kami menjualnya pada tengkulak yang datang langsung di desa ini," kata Boidi (75), warga Sugihwaras lainnya.
Berdasarkan keyakinan dari nenek moyangnya secara turun-temurun, saat warga sedang menuai hasil panen, tidak akan terjadi suatu bencana. Sebab kesuburan cengkih ini merupakan bantuan dari Gunung Kelud. "Gunung Kelud yang membantu kami menyuburkan pohon-pohon ini, dan gunung itu tidak akan mencelakakan kami," katanya.
Boidi lebih percaya pada tanda-tanda alam dibanding dengan catatan tim ahli gunung berapi. "Kalau ular-ular\ pada turun, jengkrik dan katak tidak bersuara lagi di malam hari, angin tidak berhembus dan daun-daun mulai layu, barulah saya yakin Kelud akan meletus," katanya.
Apalagi, lanjutnya, di desa tersebut juga tinggal seseorang yang diyakini sebagai "juru kunci" Gunung Kelud. Dialah Mbah Ronggo, tokoh sepuh yang terpilih sebagai tetua di desa tersebut, dan memiliki kekuatan "berkomunikasi" dengan "penjaga" Gunung Kelud. "Gunung ini sudah meletus 28 kali sejak tahun 1000 hingga 1990. Sebelum tahun 1951, juga pernah meletus pada tahun 1901 dan 1919," ungkap Boidi. n
Sumber : Sinar Harapan
Halaman :
1

Ikuti Kami