Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U: Itu Kudeta Yang Tidak Sukses!

Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U: Itu Kudeta Yang Tidak Sukses!"

Rosphyta Official Writer
12151

 

Sudah dapat diprediksi sebelumnya bahwa acara Munaslub PDS di Sanur, Bali, akan ramai dengan trik-trik untuk menghancurkan pihak lawan. Ketika itu, wacana yang dihembuskan adalah upaya mengudeta posisi Ketua Umum Dr. Dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U. Digulirnya Rapimnas pada Maret 2007 lalu dengan hasil keputusan yaitu pelaksanaan Munaslub di Bali, diyakini beberapa kader pro Ruyandi sebagai bentuk ancaman serius terhadap kepemimpinannya. Aroma genderang perang yang berhasil tercium REFORMATA dari kedua belah pihak, kelihatannya begitu bergegas menggalang kekuatan serta skenario menjelang Munaslub digulir. Bagaimana persisnya prosesi kericuhan dalam Munaslub, siapa yang bermain dan apa sanksinya bagi para pemain itu? Berikut petikan wawancara dengan Ketua Umum PDS Ruyandi Hutasoit di sela waktu istirahatnya di kantor DPP PDS Jalan Tirtayasa Raya, Jakarta Selatan.

Komentar Anda soal hasil Munaslub di Bali?

Seperti kita ketahui bersama bahwa perbedaan pendapat dalam alam demokrasi itu adalah sesuatu yang sangat wajar. Tetapi kalau ingin melakukan pergantian kepengurusan tanpa adanya prosedur dan ketentuan yang disepakati, itu artinya mereka melakukan upaya kudeta. Tapi, kudeta yang tidak sukses.

Tanggapan Anda terhadap pengurus tandingan itu?

Saya meminta kepada mereka supaya tidak diteruskan. Pengakuan mereka telah mendapat dukungan dari sekian pengurus wilayah, boleh dikatakan, semuanya itu telah menarik diri. Alasannya, mereka tidak suka dengan cara-cara seperti itu sehingga menimbulkan kekacauan dan perpecahan.

Apa sebelumnya Anda sudah diingatkan?

Dari pertama saya sudah katakan, kalau dalam Tuhan, mesti ada yang namanya ketertiban dan damai sejahtera. Kalau sudah dipaksa-paksa  begitu, saya kira sudah di luar koridor pimpinan Tuhan.

Padahal waktu itu kedua pihak setuju rekonsiliasi dengan saling memaafkan, sambil menangis dan berpelukan?

Sebenarnya, rekonsiliasi dengan pembasuhan kaki tidak kita atur sebelumnya. Saat itu, saya mengajak mereka berdoa bersama. Kami semua merasakan kedamaian, saling mengasihi. Saya begitu yakin masalah kami bisa selesai.

Mengapa sebagian peserta menolak sidang ditutup?

Saya menyadari bahwa tindakan itu bukan karena saya otoriter atau tidak menghendaki yang namanya demokrasi dijalankan. Artinya begini, kebebasan itu diberikan. Tapi, kalau sudah dalam arti sudah 2 hari Munaslub tidak menghasilkan apa-apa, ini sama halnya menemui jalan buntu. Padahal, tinggal satu jam lagi akan ditutup dan lampu dimatikan. Dan besoknya sudah penutupan.

Sebagai ketua partai, saya harus bertanggung jawab agar tidak buntu. Maka itu, dialog demi dialog berjalan sampai akhirnya terbentuklah tim ad hoc. Hasil itu bukan peran dari kami sendiri, karena seorang dari mereka yang juga kamarnya dipakai sebagai pusat untuk mengatur kegiatan itu datang lalu kita bicara. Sesudah kita kasih nama dan makan malam bersama, dengan tenang dan penuh damai sejahtera, akhirnya saya terangkan soal pendidikan politik dan sebagainya.

Apakah ada upaya rekonsiliasi dengan kubu Rahmat Manulang?

Sudah pada Kamis malam lalu. Saya makan malam dengan Pak Rahmat dan bertiga sama Pak Gilbert Lumoindong. Saat itu, Gilbert sudah berusaha dengan segala macam cara mendamaikan kami, tapi tidak berhasil. Saya tanya sama Pak Rahmat, sebenarnya masalahnya apa? Dia bilang tidak senang sama salah satu orang. Saya bilang sama dia, tunjukkan kesalahan orang itu, kan ada badan kehormatan.

Jika tidak ada kecocokan, apakah Anda tidak ada rasa sakit hati terhadap Rahmat?

Saya tidak sakit hati terhadap dia, hanya prihatin saja. Karena buat saya, dia itu saya anggap seperti "rasul doa". Saya bangga dengan dia yang berhasil mempersatukan gereja-gereja di kota-kota melalui jaringan doanya. Tetapi dengan dimintanya dia mundur dari Jaringan Doa Nasional, sangat susah mencari pengganti seperti dia.

Kira-kira berapa jumlah kader yang sekarang dinonaktifkan?

Yang sudah dinonaktifkan pada tahap pertama sekitar 12 orang. Jumlah itu nanti bisa bertambah.

Ngomong-ngomong, pengurus DPW PDS DKI dinonaktifkan. Mengapa?

Persoalannya, saat STT Setia dibakar, mereka diam saja. Padahal, kejadian itu di daerah DKI. Saya sedih mereka tidak bereaksi apa-apa. Itu kan konstituen kita langsung. Malah kami dari DPP yang turun. Saya bilang itu tidak fair.

Jika ada anggota DPR/DPRD yang dianggap turut mengkudeta Anda, apakah ada tindakan recall?

Kita lihat saja nanti. Jika dia mau sadar, ya paling ditindak dari kepengurusan saja. Di sini tetap ada pengampunan.

Sejauh ini, hasil kerja dari tim ad hoc sudah sejauh mana?

Kerjanya sudah dilaporkan, sudah selesai. Poin-poin penting sudah kita dengar. Tidak banyak yang diubah. Karena belum ditandatangani oleh semuanya, maka akan diserahkan.

Poin-poin apa saja yang dianggap penting?

Pertama, posisi wakil ketua umum sudah kita terima, artinya sudah sah. Kedua, Deperpu hanya berfungsi apabila keadaan sangat luar biasa atau darurat.

Lalu program partai ke depan?

Program pertama saya adalah segera melakukan kaderisasi. Tepatnya pada bulan Mei nanti. Kalau perlu dua kali di 5 wilayah sekaligus. Kita mau orang yang duduk di kepengurusan itu adalah orang yang profesional dan bisa bekerja dengan baik. Kalau sudah masuk dalam dunia politik, tidak boleh ada kepentingan, selain berjuang membesarkan partai.

 

Sumber : Reformata
Halaman :
1

Ikuti Kami