Pujian Pembawa Damai

Family / 12 December 2005

Kalangan Sendiri

Pujian Pembawa Damai

Admin Spiritual Official Writer
5817

Sumber Kesaksian: Yuningsih

Betapa indah masa kanak-kanak, bagi mereka yang memiliki tubuh secara utuh, dimana mereka bisa bermain sesuka hati mereka. Begitu juga yang dialami seorang anak yang bernama Yuningsih di masa kecilnya. Masa kecil Yuningsih begitu bahagia. Ia bebas bermain bersama saudara-saudara dan juga teman-temannya sebaya. Sampai pada suatu ketika ia mengalami musibah. Kebahagiaan masa kecilnya berubah menjadi kepahitan yang harus ditanggungnya.

Saya anak keempat dari delapan bersaudara. Dalam keluarga kami boleh dikatakan tidak ada yang mengalami kecacatan. Keluarga kami semua dilahirkan dengan tubuh normal. Saya juga dilahirkan secara normal dengan seluruh tubuh yang utuh. Namun satu ketika kaki saya terluka akibat terjepit pagar rumah. Kejadian ini mengakibatkan infeksi di kaki saya. Dokter menyatakan saya terkena tetanus. Tetanus itu bukan hanya mengenai kaki kanan saya saja tetapi menyebar ke seluruh tubuh saya. Bahkan dalam keadaan yang kritis, dokter sempat mengatakan bahwa usia saya tinggal lima menit lagi.

Pernyataan dokter merupakan pukulan keras bagi orang tua Yuningsih. Mereka harus menerima kenyataan pahit dari anak yang mereka kasihi. Untuk menyelamatkan jiwa, dokter harus mengamputasi beberapa anggota gerak tubuh Yuningsih. Yuningsih divonis dokter dan ia harus kehilangan kedua telapak tangan dan kedua telapak kakinya.

Saya akhirnya harus hidup tanpa jari-jari tangan dan tanpa jari-jari kaki. Untuk bisa menulis, pada usia 8 atau 9 tahun saya masuk ke sekolah SD. Sekolah ini adalah sekolah biasa yang keadaan anak-anaknya tidak seperti keadaan saya. Teman-teman saya bukan orang yang cacat, mereka memiliki tubuh yang utuh dan normal baik tangan maupun kakinya. Pada waktu masuk sekolah itu, saya merasa agak sedikit minder.

Seperti anak normal lainnya, Yuningsih juga ingin mengikuti pelajaran yang sama yang diikuti teman-temannya. Namun keadaan dirinya yang berbeda dengan orang lain membuat Yuningsih menjadi seorang anak yang minder dan suka menyendiri. Perlakuan teman-teman yang seringkali mengejek keadaannya sangat mempengaruhi jiwanya.

Saya sempat berfikir bahwa sekolah itu tidak ada artinya jika setiap hari saya harus mengalami hinaan, diejek dan dikata-katai teman-teman. Perlakuan seperti itu sangat menyakitkan hati saya. Ada satu peristiwa yang tidak dapat saya lupakan dimana satu ketika saya sedang beristirahat sambil memakan es, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang sengaja mendorong saya. Gelas yang sedang saya pegang pecah dan mengenai dagu saya. Waktu itu saya pulang ke rumah dengan menangis. Saya melaporkan hal ini pada ibu saya sambil mengatakan bahwa mulai saat itu saya tidak akan mau lagi ke sekolah.

Kekecewaan dan keputusasaan yang dihadapi Yuningsih membuatnya tidak sanggup lagi untuk menghadapi kenyataan. Namun dengan penuh kasih sayang, orang tuanya terus mendorongnya untuk tetap bersekolah.

Pada waktu saya lulus SD saya berencana masuk ke SMP, namun saya mengalami penolakan. Kepala sekolah SMP saat itu mengatakan bahwa saya seharusnya bersekolah di sekolah luar biasa atau di tempat orang yang khusus mengalami kecacatan. Saya sempat kecewa dan marah dengan pernyataan kepala sekolah SMP itu. Mengapa saya tidak diberikan kesempatan untuk masuk ke SMP tersebut?. Padahal menurut ukuran otak dan kemampuan, saya boleh dikatakan cukup mampu untuk bersekolah di tempat itu.

Hati Yuningsih pedih. Ia merasa bahwa semua orang telah menolaknya. Kepercayaan dirinya semakin pudar. Ia tidak tahu siapa yang dapat dijadikan teman dalam hidupnya. Hingga pada suatu hari Yuningsih berjalan melewati satu tempat ibadah.

Saya seringkali lewat tempat itu. Suatu waktu ketika saya melewati tempat itu saya mendengar suatu pujian yang untuk hati saya kedengarannya enak dan damai sekali. Sampai akhirnya saya mencoba untuk singgah ke tempat tersebut. Saat saya berdiri di halaman gereja itu saya berfikir bahwa saya hanya ingin mendengarkan suara lagu dari gereja itu. Sampai beberapa minggu kemudian ada seorang guru sekolah minggu yang mengajak saya masuk kedalam. Pada waktu itu sekolah minggunya adalah sekolah minggu remaja. Dan guru sekolah minggu ini mengajak saya mengikuti kebaktian yang ada.

Pada waktu saya mengikuti ibadah, saya mendengar lagu pujian yang membuat hati saya tenang dan damai. Lagu-lagu pujian pada Tuhan itu membuat perubahan dalam hidup saya.

Sejak saat itulah Yuningsih menemukan damai yang berasal dari Tuhan. Ia memperoleh kekuatan untuk melihat hidupnya yang memiliki keterbatasan dengan cara yang berbeda. Kepedihan akibat cacat tubuhnya telah berlalu. Tangis Yuningsih saat ini bukanlah tangis kepedihan hatinya melainkan tangis sukacita. Yuningsih telah menemukan teman setia dalam hidupnya.

Dalam Yesus ada pengharapan, dalam Yesus ada masa depan. Kita bisa menemukan kebahagiaan di dalamNya.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati (Yeremia 29:11-13)

Halaman :
1

Ikuti Kami