Berkah Terpidana

Family / 12 December 2005

Kalangan Sendiri

Berkah Terpidana

Admin Spiritual Official Writer
6898

Bapak Wijaya adalah seorang pengusaha yang sukses dalam masa pemerintahan orde lama. Tapi keberhasilan hidupnya sebagai pengusaha membawa Wijaya dalam banyak masalah. Akibat masalah yang menumpuk, bapak Wijaya mengalami stress dalam sepanjang karir pekerjaannya.

Kira-kira tahun 1962 kami tinggal di sekitar jalan Papandayan. Saat itu saya adalah usahawan yang bergerak dalam perniagaan. Dalam menjalani perniagaan ini saya menghadapi beberapa kemacetan. Saya berusaha mengatasi kemacetan ini tetapi tidak juga berhasil. Sudah berulang-ulang kali usaha penyelesaian dilakukan namun tidak juga berhasil. Karena keadaan sulit seperti itu, saya menjadi suka marah-marah kepada istri dan keluarga saya.

Sang istri bingung dengan banyaknya masalah yang menimpa suaminya.
Suami saya suka marah-marah. Yang anehnya di bagian kepalanya keluar luka dan bernanah. Seluruh kepalanya penuh dengan luka dan bernanah.

Sampai suatu saat bapak Wijaya mendapat suatu masalah yang besar dalam mengelola perusahaannya hingga akhirnya membuat dirinya mendekam dalam jeruji penjara. Hal ini justru membuat penyakit bapak Wijaya semakin parah. Saat itu dia bahkan tidak sanggup lagi untuk membeli obat.

Keadaan hidup saya tidak karuan, jiwa saya menjadi tidak karuan lagi. Saya sendiri menganggap bahwa diri saya ini tidak bersalah dalam masalah itu.

Istri Wijaya tetap mengupayakan pembebasan bagi dirinya.
Saya tetap berusaha baik ke kejaksaan maupun ke pengadilan untuk minta tahanan luar bagi suami saya karena keadaan dia yang sedang sakit. Saya sudah mendapat surat ijin dari dokter, tapi usaha saya ini tidak berhasil.

Akibat depresi jiwa yang semakin berat dalam penjara membuat bapak Wijaya semakin sering menggaruk kepalanya hingga luka di kepalanya semakin parah. Sampai akhirnya ada sebuah kejadian yang mengubah hidup bapak Wijaya.

Pagi hari sesudah cuci muka saya lalu berjalan-jalan di halaman penjara. Kemudian ada seorang teman yang mempertanyakan tentang wajah saya yang hitam dan muram. Teman saya ini menanyakan kepada saya, apakah wajah saya ini karena saya terlalu banyak memikirkan alasan mengapa saya ditahan di dalam penjara?. Orang ini lalu mengatakan pada saya bahwa semua orang sesungguhnya sudah bersalah. Dan kemungkinan kesalahan yang saya lakukan bukan hanya dalam masalah usaha pekerjaan saja, tapi kemungkinan saya ditahan karena masalah yang lain

Wijaya tercekat mendengar pernyataan orang tersebut.
Perkataan teman itu begitu mengena dalam hati saya. Saya menerima betul hal itu. Selama ini saya menganggap diri saya ini tidak bersalah. Tapi teman saya mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tidak bersalah. Disitu saya baru sadar. Saya menjadi punya kerinduan dalam hati untuk berdoa.

Setelah kejadian tersebut, selama berhari-hari dan setiap malam Wijaya selalu berdoa. Setelah malam keenam, pagi-pagi saya sudah mandi lalu saya duduk di ranjang. Baru saja saya baru akan membuka dan membaca Alkitab. Tapi pandangan saya tertuju di luar sel dimana ada sebuah pohon beringin dan ada cahaya matahari di sela-sela dedaunan yang ditiup angin. Cahaya matahari yang berkilau-kilauan seperti itu membuat saya makin tertarik untuk terus melihat cahaya matahari di sela-sela dedaunan itu.

Pagi itu Tuhan melakukan hal yang tidak diduga oleh Wijaya.
Tidak lama kemudian saya diperlihatkan suatu cahaya terang yang lebih terang dari sinar matahari itu. Saya begitu kaget. Lalu saya berbalik dan melihat seluruh sal yang ada di sekeliling saya, semua menjadi terang!. Lalu saya melihat diri saya sendiri, yang biasanya kedua tangan saya ini naik ke atas untuk menggaruk-garuk kepala. Tapi begitu tangan saya ini menempel di kepala, saya menjadi begitu heran. Kepala saya tidak gatal-gatal lagi... dan anehnya kepala saya menjadi kering. Saya mulai penasaran. Saya turun dari ranjang dan melihat dari sebuah cermin kecil keadaan saya. Kemudian yang ada dalam hati hanyalah kata-kata : "Puji Tuhan, puji Tuhan... kepala saya kering, tidak gatal lagi... saya sudah sembuh".

Tuhan juga beracara pagi itu lewat kebenaran FirmanNya.
Saya kembali ke ranjang, begitu girangnya hati saya. Saya lalu membuka Alkitab dan saya diperlihatkan satu ayat dalam Yohanes 3:16 yang bunyinya : "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup
yang kekal". Membaca ayat itu membuat air mata saya mengalir, mengalir dengan deras. Saya merasakan Firman Tuhan itu begitu hidup.

Pengalaman yang tidak terlupakan dalam hidup bapak Wijaya ketika Firman yang hidup itu membangkitkan lagi manusia rohaninya yang telah lama mati. Beberapa hari kemudian sebuah mujizat terjadi, bapak Wijaya dibebaskan dari penjara. Vonis hukuman yang seharusnya dijalaninya selama tiga setengah tahun mendapat keringanan hingga hanya dijalani selama sepuluh bulan saja. Tuhan sanggup melakukan apa saja dalam kehidupan orang yang dtang kepadaNya. Kasih setia Tuhan terus ada bahkan hingga hari tua bapak Wijaya.

Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa (Yohanes 14:11-12)

Sumber Kesaksian: Wijaya

Halaman :
1

Ikuti Kami