Mengajar Dengan Cinta

Mengajar Dengan Cinta

Fifi Official Writer
3341
"Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 11:18-19)

Setelah pulang dari berbelanja untuk natal, say dan putri tertua saya menemukan bangku di food court untuk mengistirahatkan kaki sejenak dan minum coklat panas. Kami meletakkan belanjaan di sekeliling kami dan mengamati keramaian pengunjung mall. Pembicaraan kami berubah saat mengingat natal beberapa tahun lalu.

"Ibu ingat natal saat kita bersama keluarga miskin itu?" putri saya bertanya. Tentu saja saya ingat! Saat itu, karena saya tidak mau anak-anak saya yang berusia 10 dan 13 tahun menjadi terlalu egois, kami "mengadopsi" keluarga yang membutuhkan. Komitmen kami adalah menyediakan semuanya: mainan, pakaian, juga makanan untuk natal. Anak-anak membantu berbelanja dan membungkus kado, dan saat melihat mereka melakukan itu dengan bersemangat, saya pikir rencana saya berhasil.

Saat hari natal itu tiba, kami naik mobil menuju daerah pinggiran yang agak jauh dari kota. Saya melihat mata anak-anak saya membelalak saat melihat mobil tua yang sudah berkarat dan tanpa pintu, yang terletak di halaman rumah.

Ibu dari keluarga itu bersama anaknya yang terkecil keluar rumah, meninggalkan seorang nenek dan anak perempuan seusia putri saya untuk menerima pemberian kami. Saat memasuki rumah mereka yang sangat kecil, saya berusaha untuk tidak menangis waktu melihat pohon natal terkecil yang pernah saya lihat. Ornamen dari kertas buatan sendiri menghiasi ranting-ranting yang layu, tergantung di sana sebagai harapan kasih Tuhan akan membawa sesuatu yang istimewa behkan ke dalam rumah yang sangat sederhana ini. Kami mengosongkan tas-tas dan dalm sekejap semuanya memenuhi ruangan itu. Gadis kecil dan nenek itu sangat berterimakasih pada kami.

Kedua anak saya terdiam di mobil ketika saya mengemudikannya kembali ke rumah, dan saya gembira karena saya pikir saya telah mengajar mereka pelajaran yang sangat berharga saat natal. Tapi kemudian putri saya berteriak dengan marah, "Terimakasih ibu telah mengacaukan natalku! Aku tidak percaya ibu membawaku ke tempat seperti itu." Kecewa, saya mengira pelajaran cinta ini telah gagal.

Saat saya menceritakan hal ini pada putri saya, dia diam dan mendengarkan. "Aku tidak bisa mengingat kemarahanku. Tapi aku sangat ingat betapa bahagianya gadis itu saat dia menerima kado-kado kita, dan bagaimana rasanya memberikan itu pada mereka. Itu adalah salah satu kenangan natal terbaikku."

Sebagai orang tua, tanggung jawab kita adalah menjadi teladan cinta kasih Tuhan bagi anak-anak kita. Kita tidak selalu bisa tahu efek dari usaha-usaha kita, dan terkadang pelajaran itu belum sepenuhnya dimengerti sampai waktunya tiba pesan itu menjadi jelas. Tapi saat kita taat, ita dapat percaya bahwa Tuhan mengajarkan pelajaran itu pada waktuNya.
Halaman :
1

Ikuti Kami