Cuci Darah Seumur Hidup, Vonisku

Family / 17 January 2005

Kalangan Sendiri

Cuci Darah Seumur Hidup, Vonisku

Admin Spiritual Official Writer
6816

Sumber Kesaksian: Oktavianus Gogaya

Sebelum sakit, lutut saya ini bengkak, asam urat. Lalu kondisi makin parah, karena setiap saya konsumsi air atau makanan, selalu muntah-muntah ndak pernah berhenti.

Ribka (istri): Dokter menganjurkan untuk ke Jawa (Bandung), atau ke Jakarta.

Rully. M.A.Roesli (internis): Pak Oktavianus itu datang ke saya sekitar bulan Mei tahun 2005 atau sebelumnya, dengan keadaannya parah, dalam istilah kami "gagal ginjal terminal". Fungsi ginjal sudah hampir tidak ada. Dan pada saat itu pilihannya hanya ada dua: cuci darah atau cangkok. Kondisi ini bahaya karena jika sudah ada otak yang teracuni, mangkanya jadi mual. Nanti lama-lama bisa jadi meracau, tidak sadar atau koma istilahnya, atau meracuni jantung, sehingga jantungnya jadi payah jantung, dan nggak akan tertolong. Jadi dia akan seumur hidup cuci darahnya.

Walaupun sudah melalui perawatan intensif, namun rasa sakit terus dirasakan oleh Oktavianus.

Saya sendiri ndak bayangkan itu sakitnya seperti apa. Aduuh, sakit luar biasa. Dudukpun tidak bisa. Mau tidur, seluruh badan sakit. Kepala rasanya mau pecah, mata fokusnya sudah tidak bisa jauh lagi. Yang terasa hanya sakit dan sakit. Saya mulai terpikir kalau saya meninggal, istri saya tinggal dimana? Siapa yang memberi makan? Masa depannya seperti apa nanti? Lalu, kepada siapa saya menaruh harapan? Itu berperang dalam hati dan pikiran saya. Itu beban yang sangat berat. Mereka kehilangan. Jadi kalau berpikir tentang makan minum, segala sesuatu, saya tidak pikirkan itu.

Ribka: Saya berdoa terus. "Tuhan tolong berikan kekuatan dan kemampuan kepada suami saya!". Saya harus kuat. Saya harus kuat. Itu tekad saya. Kalau saya kuat, saya sehat, saya bisa menopang suami saya.

Sampai suatu hari, teman-teman Oktavianus datang menjenguknya.

Satu kata yang mereka bicara sama saya, ucapkan di kuping saya: "Bapak harus bangkit! Bapak harus bangkit!". Dan itu kembali menguatkan saya. Itu kembali membangun saya, walau jangka waktunya pendek untuk hidup, tapi tubuh saya ini milik Tuhan. Penderitaan ini Tuhan tahu persis. Jadi kalau saya mengalami ini, saya tahu jalan Tuhan itu selalu terbuka. Jadi ndak ada gunanya saya mengeluh. Ndak ada gunanya saya terpikir untuk dari mana sumber dananya. Dia mampu memulihkan proses, kalau boleh saya bilang, padang gurun yang saya lewati. Pasti Tuhan kembalikan saya. Saya sendiri ndak tahu tapi untuk pengharapan ke depan, saya percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan saya.

Ribka: Kami bisa memahami kasih Tuhan, karena apa? Karena itu baik. Apa yang Tuhan ijinkan itu pasti baik. Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi, Tuhan tidak membiarkan. Tuhan pasti berperkara. Dan yang menjadi kepercayaan dan iman saya, Tuhan pasti menyelesaikannya!

Mazmur 59:10 "Ya kekuatanku, aku mau berpegang pada-Mu, sebab Allah adalah kota bentengku".

Halaman :
1

Ikuti Kami