Korban Tsunami Jawa Terus Bertambah

Korban Tsunami Jawa Terus Bertambah

Puji Astuti Official Writer
4639

JAWABAN.com - CIAMIS - Jumlah korban meninggal akibat tsunami yang melanda pulau Jawa sekarang meningkat menjadi sedikitnya 400 orang, kata para petugas. Sekitar 150 lainnya dilaporkan hilang di kawasan Pangandaran yang paling parah terkena gelombang kuat itu.

Gelombang Tsunami ini dipicu oleh gempa berkekuatan 7,7 skala Richter di bawah laut yang mengguncang Pangandaran hari Senin sore, menyebabkan gelombang setinggi dua meter.

Rumor yang menyebutkan ada tsunami yang akan menghantam lagi, membuat warga yang tidak mengungsi meninggalkan rumah mereka pada dinihari, hari Selasa 18 Juli 2006. Tetapi para pejabat pemerintah dan petugas meteorologi mengatakan tsunami kedua tidak mungkin datang dan mengimbau warga agar tidak panik.

Di hari kedua pasca bencana, para petugas penolong melihat banyak mayat di cabang-cabang pohon dan di antara reruntuhan hotel-hotel dan rumah-rumah yang diterjang tsunami.

Menurut salah satu saksi mata, gelombang besar menghancurkan sejumlah hotel di Pangandaran dan melemparkan banyak perahu ke pantai. "Gelombang kuat tiba-tiba saja muncul dan kami lari ke bukit," katanya kepada radio setempat. "Banyak hotel kecil rusak," katanya menambahkan. "Perahu-perahu terlempar ke sejumlah hotel."

Angka masih terus bertambah
Angka pasti korban meninggal masih simpang siur, namun Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan dalam hari-hari mendatang ini diperkirakan akan terus bertambah. "Dalam bencana tsunami mungkin saja jumlahnya bertambah, khususnya mereka yang hilang atau mereka yang terbawa ke laut," kata Kalla kepada satu radio lokal.

Di samping korban meninggal, sekitar 450 orang luka-luka dan 52,700 kehilangan tempat tinggal, kata seorang jurubicara departemen kesehatan kepada kantor berita Perancis, AFP.

Enam orang asing, termasuk dua warga Belanda dan empat warga Jepang termasuk di antara yang luka-luka, seperti dilaporkan Metro TV.

Pejabat dari Kementerian Luar Negeri Swedia Jan Janonius, seperti dilansir kantor berita Xinhua, membenarkan bahwa dua anak-anak Swedia dari satu keluarga yang sedang berlibur di kawasan itu, diduga hilang namun telah diketemukan hari ini.

Kedua anak laki-laki bernasib mujur itu bernama Pidi-Martin berusia 8 tahun dan adiknya Per-Martin, berumur 6 tahun. Sedangkan ayah kedua bocah itu telah dimasukkan ke rumah sakit lokal karena terluka akibat tsunami

Namun pemerintah Swedia juga memastikan bahwa seorang warga negaranya tewas dalam bencana tsunami yang menghantam wilayah pantai selatan Pulau Jawa, Senin 17 Juli lalu. Korban tewas adalah seorang pria berusia 65 tahun yang telah menetap di daerah Pangandaran selama beberapa tahun.

Besarnya jumlah korban tersebut seharusnya tidak terjadi. Sebab, sebelum tsunami datang, sudah ada dua lembaga regional yang memberikan peringatan kepada pemerintah. Sayang, dua peringatan itu diabaikan.

Peringatan Jepang tidak diindahkan
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman mengakui, pemerintah menerima warning dari Pacific Tsunami Warning Center dan Badan Meteorologi Jepang sesaat setelah ada gempa. "Tetapi, kami tidak mengumumkan warning itu. Kalau tsunami-nya tidak terjadi bagaimana?" kata Kadiman kepada wartawan seperti dikutip AP (Associated Press). Namun, Kadiman menolak menjelaskan lebih detail tentang hal itu.

Peringatan dari dua lembaga tersebut dikirimkan 45 menit sebelum gelombang tsunami datang. Tetapi, tanpa sistem otomatis yang siap, seperti melalui loudspeaker atau SMS yang bisa menjangkau warga atau turis di sekitar pantai, sulit menghindari jumlah korban dalam jumlah besar.

Sebetulnya Indonesia memiliki sistem peringatan dini untuk mendeteksi akan datangnya tsunami. Peralatan itu merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Australia. "Tetapi, sistem ini tidak bekerja dengan baik karena tidak ada peralatan pendukungnya.

Saat ini, kami terus mengembangkan sistem komunikasi yang baik, terutama di daerah yang rawan bencana," kata Fauzi, pejabat Badan Meteorologi dan Geofisika Jakarta, seperti dikutip AFP.

Sampai kapan bencana akan berhenti mengunjungi Indonesia? Hanya Tuhan yang tahu.(joe)

Sumber : afp/metrotv/bbc/jawapos/xinhua/detik

Ikuti Kami