Inta

Official Writer
987


Pendeta Junita Rondonuwu-Lasut berasal dari Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) Sulawesi Tengah yang kini tengah melayani di Jerman.

Pendeta Junita mengisahkan awal perjalanannya melayani di Jerman, "Awal tahun 1999 saya diundang bekerja disatu lembaga yang bernama Dienst für Mission Oikumene und Entwiklung (Pelayanan Misi Oikumene dan Pengembangan) di Württemberg Landeskirche di kota Reutlingen kira-kira 30 km dari kota Stuttgart."

Pada tahun 2004, ia kembali ke gereja asalnya di GPID Sul-Teng. Kemudian, tahun 2006, ia mendapat kabar kalau ada satu gereja Indonesia di kota Frankfurt membutuhkan pendeta yang bisa berbahasa Indonesia dan Jerman.

Ia juga menceritakan perbedaan yang ia alami saat melayani di Indonesia dan di Jerman.

Kalau dari tugas, Jemaat Kristus Indonesia (JKI), gereja dimana Pendeta Junita melayani, sama saja. Namun, meski berlatar belakang orang Indonesia, ia juga masih punya masalah perihal bahasa.

Di Jerman ia berhadapan dengan jemaat dengan latar belakang Indonesia, di mana generasi pertama mereka sudah hidup lebih 50 tahun di Jerman, sementara generasi keduanya hampir tidak bisa berbahasa Indonesia lagi.

Menjadi seorang pendeta di Jerman juga berarti harus tahan mental, sebab harus bisa bekerja dalam tekanan. Apalagi orang Jerman sangat mengutamakan waktu dan target.

Menurut Pendeta Junita, pekerjaan disana juga kebanyakan didominasi dengan menulis: menulis khotbah, bahan seminar, sampai menulis laporan yang semuanya harus dalam bahasa Jerman.

Saat ditanyai soal pelajaran utama yang didapatkan selama hidup di Jerman, Pendeta Junita langsung menjawab singkat: tanggung jawab.

"Kalau saya buat janji dengan seseorang untuk bertemu jam 3 sore, misalnya. Lalu datang telefon dari Indonesia mengatakan bahwa ada pejabat tinggi yang bernama X mau bertemu dengan saya, besok jam 3 sore, saya tidak mungkin membatalkan agenda saya dengan orang yang telah buat janji dengan saya, walaupun orang itu pekerjaannya hanya sebagai tukang sapu. Begitu budaya di Jerman,” jelasnya.

Menurut Pendeta Junita, salah satu budaya Jerman yang berbeda adalah ketika orang sudah sudah mengatakan ‘ya’, maka orang itu harus bertanggung jawab sampai selesai. 

Sumber : Tribun


Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Erik Siahaan 27 May 2020 - 08:13:10

Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.".. more..

0 Answer

Margaretha Ltor 15 May 2020 - 11:07:59

Apa yg kita harus lakukan,,untuk tau ada atau tida.. more..

2 Answer

tolala 2 May 2020 - 03:25:35

Covid 19

1 Answer


IMA SAMOSIR 29 May 2020 - 14:22:54
'Terimkasih Tuhan Yesus untuk Semua yg Terjadi did... more..

Dian Parluhutan 7 May 2020 - 23:12:30
shalom Saudara-saudari yang terkasih, mohon doan... more..

anre vin 21 April 2020 - 13:19:08
Nama saya Ernawati, saya minta tolong saya jatuh d... more..

Reginald Rambing 14 April 2020 - 14:28:50
Saya minta dukungan melalui bantuan doa dari sauda... more..

Banner Mitra Juni Week 1-2


7249

Banner Mitra Juni Week 1-2