Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Lori Mora

Official Writer
4221


Berapa kali kita bilang kepada diri sendiri, ‘Ini mustahil terjadi’, ‘Ini pasti tak akan pernah terjadi!’ Pasti sering kali bukan? Jauh dalam hati, kita suka mengesampingkan harapan dan impian kita dan menjaga fokus hanya pada sesuatu yang mungkin atau yang hanya sudah dijanjikan Tuhan kepada kita.

Mungkin kita harus kembali memikirkan soal kisah hidup Abraham dan Sarah yang ditulis dalam kitab Kejadian 18. Tuhan menyampaikan kalau pasangan ini akan  segera mendapatkan anak. “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” (Kejadian 18: 10)  

Saat itu janji Tuhan supaya mereka memiliki keturunan adalah hal yang sangat penting. Tapi mungkin secara manusia, usia Sarah yang bahkan sudah melebihi usia produktif seorang wanita untuk mengandung adalah sesuatu yang mustahil. Namun tidak bagi Tuhan yang sudah menyatakan janji-Nya dengan Abraham (Kejadian 17: 1-2) dan mengatakan bahwa dia akan memiliki banyak keturunan.

Sama seperti Abraham dan Sarah, kehidupan kita juga kebanyakan terlihat seperti pasangan ini. Secara kondisi tampaknya kita tak lagi bisa mengalami sesuatu yang luar biasa dari sebagaimana adanya kita. Mungkin kita bermimpi besar, tapi rasanya kita mustahil untuk menggapai impian itu karena kita tak punya uang banyak, tak punya peluang, secara fisik pas-pasan, atau serba kekurangan. Tapi dalam pandangan Tuhan, segala sesuatu sesungguhnya sangat mungkin terjadi.

Karena iman kita yang sangat kecil, kita kadang tertawa mendengar janji Tuhan yang mustahil itu, sama seperti Sarah yang tertawa saat mendengar Tuhan menyampaikan berita bahwa dirinya akan mengandung (baca Kejadian 18: 12). Menurut kemanusiaan kita, hal itu memang sangat mustahil terjadi dengan keterbatasan kita.

Bahkan kita sering kali harus meneteskan air mata untuk sesuatu yang kita impikan dan yang kita rasa sangat mustahil untuk kita dapatkan. Kita lalu bertanya “Tuhan…bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi dalam hidupku saat ini? Hal ini terlalu luar biasa.” Tapi Tuhan menjawab seperti Dia menjawab Abraham. “Kenapa Sarah tertawa dan berkata “Apa mungkin aku akan memiliki anak, padahal aku sudah tua?”.

Apa sih yang mustahil bagi Tuhan? Apa sih hal yang membuatmu menyerah dalam hidup? Apa yang kamu tertawakan yang Tuhan tampaknya tak mungkin lakukan dalam hidupmu? Mari tanyakan pertanyaan ini pada diri kita sendiri.

Jika kita membaca kisah Kejadian 21, kita bisa lihat bagaimana janji itu benar-benar terjadi. Tuhan bermurah hati kepada Sarah dan dia pun melahirkan seorang putra kepada Abraham tepat sesuai dengan waktu yang Tuhan janjikan kepada Abraham. Nama putra mereka adalah Ishak, dia adalah keajaiban dan menjadi bukti nyata kesetiaan Allah bahkan ketika kita tidak percaya dan menertawakan janji itu.

Pastinya janji Tuhan yang tergenapi ini bukan hanya terjadi atas hidup Abraham dan Sarah, tapi juga kepada seluruh keturunannya, termasuk kita. Banyak orang Kristen di luar sana, yang mungkin saja salah satunya adalah kamu, yang hidup dalam kemustahilan. Hidup kita mustahil karena kita mengalami betul janji Tuhan yang kita responi dengan kepercayaan yang penuh. Kemustahilan yang kita alami mungkin nggak cuma soal pemulihan keuangan, pemulihan pernikahan atau keluarga, keajaiban dianugerahi anak, atau sembuh dari sakit penyakit. Tapi banyak juga orang-orang mengalami kemustahilan saat mereka harus berjuang dalam berbagai tantangan dalam mengikut Dia.

Dunia mungkin memandang kalau kita itu lemah dan tak akan sanggup mengatasi tantangan untuk membagikan kebenaran firman Tuhan di tempat-tempat dimana Tuhan ditolak dan dianiaya, tapi dengan cara-Nya yang ajaib Tuhan memampukan orang-orang yang percaya kepada janji-janji-Nya, menuai pekerjaan tangan mereka.

Karena kita punya Tuhan yang mampu melakukan hal-hal yang mustahi, kita pun dikenal sebagai orang Kristen yang hidup dalam kemustahilan. Dan itulah identitas kita sesungguhnya, hidup sebagai anak-anak Tuhan yang melakukan kemustahilan. Intinya adalah asal kita percaya dan memiliki iman besar, kita sebagai manusia biasa pasti bisa mendatangkan hujan sama seperti Nabi Elia atau seperti Musa yang membelah lautan.

Jadi saat ini, maukah kamu kembali meletakkan dasar percayamu kembali kepada Tuhan Yesus saja? Mempercayai bahwa sesuatu yang mustahil bagi kita adalah sesuatu yang mungkin bagi Yesus.

"Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." (Matius 19: 26)

Sumber : Crosswalk.com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Prily Zusena Sebayang 22 September 2017 - 23:12:04

Bagaimana mendengar suara Tuhan

1 Answer

Victor Onibala 22 September 2017 - 16:04:57

bagaimana jika kita sudah berdoa terus tapi dia ti.. more..

2 Answer

Peddy Kilapong Petroza 22 September 2017 - 09:10:31

Mengapa Tuhan tidak menjawab doa saya

1 Answer


Baginda Bonifasius Hasibuan 23 September 2017 - 02:11:59
Saya mohon kpd saudara² seiman di dalam Tuhan Yes... more..

Yuriko Setiawan 20 September 2017 - 22:15:44
Shalom. Sy Yuriko & suami sy Andi Irawan di Bdg, m... more..

Daniel Sadana 17 September 2017 - 18:48:33
Shaloom, mohon bantu doa, aga rkeadaan ekonomi kam... more..

Johanes Sutanto 17 September 2017 - 17:12:06
Hallo, saya Mau request untuk pekerjaan. Bantu DO... more..

Banner Mitra Week  3


7305

advertise with us