Perjalanan Naysila Mirdad

MONDAY, 17 SEPTEMBER 2007

Total View : 17465 times


Pemeran Intan dalam sinetron yang sama dengan nama pemeran utamanya itu untuk mengikut Kristus sempat tidak mengenakkan untuk diutarakan kepada Jamal Mirdad, sang ayah. Hidup dengan orangtua yang berbeda keyakinan sempat membuat Nay - demikian ia akrab disapa, bimbang memutuskan pilihan hidup. Pemilik senyum manis ini tahu betul, masalah iman bukan soal main-main atau asal percaya saja. Sikap kedua orangtuanya, Jamal Mirdad-Lydia Kandou, yang sama-sama mengajarkan hal baik menurut keyakinan mereka masing-masing semakin membuatnya bimbang.

SEMBUH BERKAT MUKJIZAT

Dalam keluarga Nay, tak ada pemaksaan, "pembagian" atau pun "jatah" iman terhadap anak-anak. Semua anak, termasuk Nay, bebas menentukan pilihan. Dan pilihan pesinetron yang beberapa waktu lalu masuk rumah sakit ini sudah ia pertimbangkan dengan matang. Ia hanya mengikuti panggilan hatinya. Dan panggilan hatinya adalah menjadi pengikut Yesus Kristus. Pilihan itu bukan sekadar asal memilih, tapi didahului sebuah peristiwa yang luar biasa."Waktu itu umurku masih sekitar 4 atau 5 tahun," ujar Nay memulai. "Aku ke kamar mandi karena berniat buang air besar. Begitu sampai kamar mandi, badanku tiba-tiba keringat dingin. Enggak tahu gimana, yang aku tahu waktu melihat ke bawah, darah sudah keluar banyak banget. Bukan hanya darah, tapi juga gumpalan-gumpalan seperti daging yang warnanya kebiruan. Aku merinding dan teriak histeris panggil Mama, Mama ... Mama," kisahnya.

Keluarganya pun berlarian mendatanginya. Lidya, sang Mama kaget bukan kepalang. "Aku ingat sekali Mama langsung mengajak kita berdoa. Aku disuruh Mama ikutin doa yang Mama ucapkan. Aku merinding waktu ikutin doa Mama, dan tiap kata yang aku ikutin semuanya keluar dengan nada gemetar. Rasa sakit menyebabkan aku susah untuk ngomong," urainya. "Pas Mama bilang amin, aku juga bilang amin. Aku ngerasa lancar sekali mengucapkannya. Begitu buka mata, daging warna kebiruan itu sudah nggak ada, darah juga sudah berhenti keluar. Peristiwa itu benar-benar sebuah keajaiban banget buat aku." Saat ia menirukan ucapan sang Mama berkata amin, Nay percaya dan yakin Tuhan Yesus bisa menyembuhkannya. Saat itu juga ia pasrah akan segala sesuatu dalam hidupnya kepada Tuhan Yesus. Termasuk masa depan dan akan jadi seperti apa ia kelak. "Ternyata Tuhan Yesus sayang banget sama aku. Aku pun sembuh," ucapnya dengan nada kelelahan di sela-sela break syuting yang menyita waktunya.

Usianya yang baru saja menginjak angka 19, Mei silam, tentu mengajarkannya banyak hal. Saking banyaknya ia hanya berujar, "Pastinya banyak kejadian dalam hidupku! Salah satunya misalnya dengan aku dikasih berkat seperti ini, bisa main sinetron, iklan, dan yang lain-lain. Dengan apa yang sudah aku lewati, susah atau senang, aku percaya itu semua datang dari Tuhan dan memang terjadi atas izin-Nya. Aku juga percaya aku nggak akan bisa ngelewatin apa-apa kalau tanpa pertolongan Dia. Dari situ aku yakin aku nggak bisa hidup tanpa Tuhan Yesus," jelasnya.Sebagai rasa hormat dan kasihnya pada Tuhan, sesibuk apa pun Nay selalu menyempatkan diri untuk beribadah. Ia mengaku tidak mau dianggap religius atau sok suci dengan banyak bicara soal gereja. Tapi memang setiap hari Minggu selalu disempatkannya ke gereja untuk beribadah. "Itu cara aku untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Sesibuk dan sepadat apa pun jadwal kerjaku, aku usahakan untuk tetap bisa pergi ibadah.

KELUARGA BAGI NAY

Keluarga juga punya arti penting bagi pemeran utama sinetron Melody produksi RCTI. Keluarga adalah tempat Nay membangun fondasi kuat supaya bisa mempelajari banyak hal dalam kehidupan. "Keluarga juga mengajarkanku hal-hal yang memang semestinya harus aku hadapi dalam hidup. Bagiku, keluarga adalah hidup itu sendiri. Untuk aku nih, ibaratnya kalau nggak ada keluarga, nggak akan ada Nay yang sekarang," jelasnya lagi.Masih dalam ceritanya seputar keluarga, ia bersyukur atas orangtua yang dimilikinya. Meski berbeda keyakinan, Nay menghormati dan mengasihi keduanya dengan tulus. Bicara soal sang ayah, Jamal Mirdad, ada satu kejadian yang membuatnya tak enak hati. "Ketika aku memutuskan mengikut Tuhan Yesus, untuk ngomong ke Papa soal itu rasanya sangat nggak enak. Tapi mau gimana lagi, karena dalam memilih iman aku belajar mengikuti panggilan hati. Dan aku percaya semua ini dalam bentuk apa pun adalah dari Tuhan, karena Tuhan Yesus sayang banget sama aku."

Keluarga yang terdiri dari berbagai individu dengan aneka karakter juga menjadi warna pelajaran tersendiri bagi artis yang baru memiliki satu keponakan ini. Keragaman karakter dan kisah hidup antar anggota keluarga dianggapnya sebagai cermin. "Belajar soal hidup nggak hanya dari pengalaman diri sendiri tapi juga dari pengalaman orang lain. Kisah mereka bisa menjadi cermin buat diri kita. Entah itu keburukan, kegagalan atau kebaikan dan juga ketulusan, semua layak dipetik dan diambil hikmahnya. Semua itu memberiku pelajaran untuk hati-hati dalam melangkah, termasuk dalam mengambil keputusan dan bersikap." 

POLOS DAN BERSAHAJA

Belajar dan mencoba menikmati tiap hal yang terjadi. Prinsip inilah yang berusaha diaplikasikan Nay dalam melewati keseharian hidupnya, bahkan jauh sebelum ia menjadi pemain sinetron yang melambungkan namanya. Sikapnya yang bersahaja dan terbilang polos juga kerap hadir dalam karakter setiap tokoh yang diperankannya. Seolah hendak menyatakan tiap tokoh selalu memunculkan satu sisi dirinya sendiri. Tak ditampiknya bahwa nada serupa juga pernah sampai ke telinganya. Namun, bintang iklan kelahiran 23 Mei 1988 tersebut menanggapinya santai. "Kalau dilihat dari sisi positifnya, aku menerimanya sebagai pujian. Bagi aku, Intan ya Intan dan Nay adalah Nay. Walaupun mungkin ada beberapa kesamaan, tapi kami tetap dua karakter yang berbeda." Itulah komentar sederhananya tentang tokoh Intan dalam sinetron dengan judul sama yang semakin melambungkan namanya di jagat sinetron Indonesia.

Menyoal popularitas yang dianggap instan tersebut, Nay menimpalinya dengan rasa syukur. Ia yakin hal itu merupakan kepercayaan yang diberikan Tuhan untuknya. Lewat itu, ia diberi amanat untuk menyenangkan dan mengasihi orang lain. Sikap apa adanya tersebut bukanlah sebuah kepura-puraan. Berikut satu kisah yang juga lagi-lagi berbuah baik. "Waktu itu aku diajak Mama nemenin kak Nana casting. Aku mau dan nurut-nurut saja. Giliran Kak Nana yang casting, aku juga disuruh Mama ikutan. Ya udah aku coba. Dan sampai sekarang ini hasilnya," tuturnya ramah. Nay yang memulai karier di dunia entertainment pada tahun 2005 lewat sinetron Liontin bersama sang kakak ini juga sedang melewati hari-hari pasca kehilangan mobil CRV-nya yang berwarna silver. Lagi-lagi ia pun menghadapi dan menerima kejadian ini dengan lapang dada. Buktinya, ia tetap bisa tampil maksimal dan penuh konsentrasi di lokasi syuting sinetron Intan. Rasa kesal atau jengkel pastilah ada, apalagi mobil tersebut dibeli dengan uang sediri. Namun, ia memilih untuk mengerjakan profesinya dengan tekun ketimbang memikirkan mobil yang jelas-jelas sudah hilang itu.

MASA DEPAN

Usai menamatkan pendidikan SMU tahun 2005, ia berencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Harapannya satu hari kelak ia bisa menjadi seorang psikolog. Namun, rencananya tersebut belum bisa terealisasi. Jauh sebelum itu, Nay pernah bercita-cita menjadi pramugari. Tapi sayang, syarat fisik yang menjadi penghalang memaksanya untuk menghapus cita-cita tersebut. Menunda sementara untuk jadi psikolog, ia punya cita-cita lain, yaitu pengusaha. Rencana tersebut tampaknya lebih matang ketimbang rencana kuliahnya. Ditanya begitu Nay keberatan menjabarkannya, "Sebenarnya aku pengen banget kuliah, dan tetap ada rencana ke sana. Tapi memang belum bisa diwujudkan sekarang. Aku harus fokus untuk persiapan buka cottage. Seperti sebuah cafe tapi ada tempat makan dan juga penginapan di daerah Bandung."Rencana itu terlintas ketika Nay kebanjiran order sinetron. Penghasilannya yang lumayan tersebut diinvestasikannya dalam bentuk usaha cottage. Pemilik tinggi 160 cm dan berat 48 kg ini yakin, semangat dan kerja kerasnya di lokasi syuting tak akan sia-sia. Apalagi ia sudah rela menunda studinya. Namun sekali lagi, rasanya itu tak jadi soal lantaran aktingnya bisa diterima masyarakat. Ini terbukti dengan seringnya masyarakat menungguinya di lokasi syuting untuk sekadar berfoto bersama atau meminta tanda tangannya. "Semoga apa yang aku kerjakan di sinetron bisa membuat orang banyak senang dan terhibur," harapnya polos.

Source : bahana


Mitra CBN

COMMENTS

COUNSELLING

Add Your Comment

Nickname
Email
Comment
  • * RieN

    2007-11-23 11:15:26
    shaloom nay..Sukses ya untuk cariernya, semakin cinta Yesus, DIA ada untuk kita Nay. Kisah diusia 4 atau 5 thn nya Nay, sungguh itu mujizat dari Bapa diSurga. Ditunggu sinetron rohani dari nay ya.. seperti sinetron "Buku Harian Nayla" gt. okshaloom_gbu
  • * RieN

    2007-11-23 11:15:10
    shaloom nay..Sukses ya untuk cariernya, semakin cinta Yesus, DIA ada untuk kita Nay. Kisah diusia 4 atau 5 thn nya Nay, sungguh itu mujizat dari Bapa diSurga. Ditunggu sinetron rohani dari nay ya.. seperti sinetron "Buku Harian Nayla" gt. okshaloom_gbu
  • * Riky

    2007-11-20 01:48:50
    Nay, mengikut JC adalah pilihan terbaik.. Beritakan injil kepada papa dan saudaramu agar mereka juga menerima JC sbg Tuhan dan Juruselamat.Sukses selalu untuk studi, carier, dll..Makin cinta Tuhan dan dekat selalu dengan Dia mll ibadah, saat teduh, dll.GBU
  • * Tika

    2007-10-30 17:28:21
    gw jd keliru nih.. kalo yg dtg nolongin Nay si Jamal, trus dia ajarin Nay berdoa mengikut ajaran Islam, apakah Nay bakal milih utk jd seorang muslim yah...? hmm... tp, gw ttp salut bgt deh ama Nay. ttp sempetin utk ke gereja meski jadwal kerjana padat. Smoga Sukses terus ya Nay!!! :D
  • * Paulina

    2007-10-22 14:26:56
    Nay gw salut ma elo, begitu padatnya jadwal elo tp masih sempat ingat Tuhan, gw beroda moga setiap kerja elu diberkati Tuhan dan jgn lupa berod dan doakan jg saudara2 elu seiman agar bisa sepert

"Kunci Sukses"

You can give without loving, but you can never love without giving.  ~Author Unknown Anda bisa memberi tanpa mengasihi, namun Anda tidak bisa mengasihi tanpa memberi apapun.