Matius 9:36
"Ketika Yesus melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala."
Hari ini ada satu pertanyaan sederhana yang boleh kita tanyakan secara pribadi kepada diri kita sendiri.
"Apa yang masih bisa menyentuh hati Anda?"
Ini bukan tentang emosi manusiawi kita yang bisa naik turun dan dipengaruhi dengan keadaan kita. Tetapi ini tentang sebuah dorongan kuat dari dalam hati - yang membuat kita begitu tersentuh dan tergerak untuk melakukan sesuatu bagi orang lain.
Ini adalah dorongan yang sama seperti yang dialami Yesus saat melihat orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Waktu Dia memandang orang banyak, Alkitab mencatat bahwa Dia tergerak oleh belas kasihan (Matius 9: 36).
Kata Yunani yang dipakai adalah "splanchnizomai" - sebuah kata yang menggambarkan gejolak yang bermula dari bagian terdalam perut, respons fisik yang begitu kuat hingga menuntut tindakan. Yesus tidak sekadar melihat kerumunan orang. Ia melihat mereka yang dikuliti dan dibuang — kata Yunani aslinya menggambarkan orang-orang yang telah dieksploitasi, kelelahan, dan ditinggalkan tanpa arah oleh pemimpin yang seharusnya merawat mereka.
Penderitaan yang mereka alami itulah yang dirasakan Yesus. Hati-Nya bukan saja mudah tersentuh, tetapi Dia bertindak setelah merasakannya. Kelaparan menggerakkan-Nya. Penyakit menggerakkan-Nya. Kesedihan seorang janda menggerakkan-Nya. Bahkan pilihan buruk seorang anak yang hilang menggerakkan-Nya. Belas kasihan Yesus tidak pernah mengalami penundaan, tetapi Dia segera melakukannya.
Lalu bagaimana dengan kita?
Jujur saja kita hidup di zaman ketika gambar-gambar penderitaan membanjiri layar kita setiap hari. Tetapi itu justru membuat kita semakin mati rasa. Kita melihat begitu banyak sehingga berhenti benar-benar melihat. Kita mengembangkan lapisan pelindung emosional yang membuat hati kita terasa biasa saja. Sehingga saat kita berjalan melewati orang yang menderita, kita tidak lagi merasakan apapun.
Yesus tidak pernah melakukan itu. Dan Ia mengundang kita untuk kembali ke pola yang sama: melihat, merasakan, bertindak. Bukan sekadar menggulir layar dan menekan tombol suka — tetapi benar-benar berhenti, memperhatikan, dan membiarkan penderitaan orang lain menyentuh bagian terdalam hati kita hingga kita tidak bisa diam saja.
Refleksi Pribadi:
Ambil beberapa menit ke depan dan tanyakan kepada diri Anda: "Apakah hatiku masih bisa tersentuh?"
Apa hal yang paling membuat hati Anda tersentuh?
Live Chat
Phone / SMS
0811 9914 240
0817 0300 5566
Whatsapp
0822 1500 2424