Kelemahan Bukan Beban Tetapi Tempat Tuhan Bekerja

Kelemahan Bukan Beban Tetapi Tempat Tuhan Bekerja

Lori Official Writer

2 Korintus 12:9

"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."

 

Ada rasa malu yang tidak pernah dibicarakan orang yang sedang sakit — bukan rasa sakit fisiknya, tetapi perasaan menjadi beban bagi orang-orang yang mereka kasihi. Tidak bisa mandi sendiri. Tidak bisa makan tanpa bantuan. Tidak bisa melakukan hal-hal sederhana seperti dulu saat masih dalam kondisi sehat. Dan di tengah ketergantungan itu, sebuah pertanyaan diam-diam muncul: "Apakah aku adalah beban untuk orang lain?"

Paulus pernah berada di titik yang sama.

Dalam 2 Korintus 12, ia menceritakan sesuatu yang sangat personal yaitu sebuah "duri dalam dagingnya" yang tidak pernah diangkat Tuhan meskipun ia sudah memohon tiga kali (ayat 8). Alkitab tidak menyebutkan secara spesifik apa yang dimaksud dengan "duri" itu. Tapi yang jelas, itu adalah sesuatu yang melemahkan dan membatasi hidupnya secara nyata, termasuk kemungkinan kelemahan fisik yang menghalangi pelayanannya. 

Seorang rasul besar yang sudah menanam gereja di mana-mana, kini harus bergantung pada orang-orang di sekitarnya. Titus, Lukas, dan banyak rekan seperjalanannya hadir bukan hanya sebagai mitra pelayanan, tetapi sebagai tangan dan kaki yang menopang Paulus di saat tubuhnya tidak mampu. Yang paling mengejutkan Tuhan tidak mengangkat kelemahannya, tetapi justru bekerja melalui kelemahan itu.

"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Korintus 12: 9) 

Ini adalah jawaban yang paling kita butuhkan. Tuhan tidak berkata, “Kamu tidak lagi berguna karena kamu lemah.” Sebaliknya, Dia menegaskan bahwa di dalam kelemahan kita, justru kuasa-Nya bekerja.

Saat harus bergantung kepada orang lain, kita bisa merasa kehilangan kemandirian dan takut menjadi beban. Kita tahu mereka juga memiliki kesibukan dan tanggung jawab sendiri. Namun, Tuhan tidak memandang kelemahan kita sebagai sesuatu yang mengurangi nilai hidup kita. Justru di dalam keadaan itu, Dia mengajar kita untuk datang kepada-Nya dalam doa dan memercayai pertolongan-Nya.

Tuhan dapat menghadirkan orang-orang yang menolong dengan tulus, tetapi ada juga masa ketika kita merasa sendirian. Di saat seperti itulah kita belajar bahwa sandaran utama kita bukanlah manusia, melainkan Tuhan.

 

Action Praktis:

Hari ini, izinkan orang-orang untuk membantu Anda ketika mereka memang punya waktu — entah itu keluarga, sahabat, atau siapa pun yang Tuhan kirimkan. Tidak perlu merasa malu untuk menerima bantuan, karena Tuhan sering kali hadir melalui tangan orang-orang yang Ia utus.

Dan di saat Anda merasa menjadi beban bagi semua orang, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah memandang Anda sebagai beban. Ia memandang Anda sebagai tempat di mana kuasa-Nya bekerja penuh. Bersandarlah kepada-Nya — sepenuhnya, tanpa rasa malu.

Baca Juga Renungan Lainnya:

Yehuwah Rapha

Tuhan Rindu Menyembuhkan Luka Masa Lalu Anda

Tuhan Rindu Memulihkan, Mengubahkan dan Membebaskanmu

Ikuti Kami