Daniel 6: 10-11
"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya."
Pernahkah Anda mengalami ketidakadilan karena dituduh melakukan pelanggaran yang sebenarnya tidak pernah Anda lakukan? Inilah yang dialami seorang Daniel di masanya.
Bayangkan posisinya. Ia baru saja mendengar bahwa sebuah perintah kerajaan telah ditandatangani — siapa pun yang berdoa kepada Allah selain raja, akan dilempar ke goa singa. Perintah itu dirancang khusus untuk menjebaknya. Ini bukan persaingan biasa; ini kriminalisasi terencana oleh rekan-rekannya sendiri yang tidak tahan melihat integritas Daniel berdiri tegak di tengah lingkungan yang korup.
Apa yang Daniel lakukan? Ia pulang ke rumah, naik ke kamarnya, membuka tingkap yang menghadap Yerusalem — dan berlutut.
"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya." (Daniel 6: 10-11)
Ada satu detail kecil di Daniel 6:10 yang ditekankan di sana yaitu kata "seperti yang biasa dilakukannya."
Jadi sekalipun ia tahu bahwa tindakannya menyembah Tuhanlah yang menyeretnya kepada ancaman hukuman, tetapi dia tidak mundur. Dan justru karena kebiasaan itulah, ketika krisis datang, lututnya tahu harus ke mana.
Dia tidak melawan dengan cara fisik atau berargumentasi. Sebaliknya, dia memilih masuk ke kamarnya dan meminta pertolongan kepada Tuhan yang telah sejauh itu menyertainya.
Saudara, kita hidup di zaman di mana respons pertama terhadap ketidakadilan adalah mengumpulkan bukti, mencari pengacara, membangun narasi, dan berperang di ruang publik. Semua itu tidak salah — tetapi Daniel mengingatkan kita bahwa ada langkah yang lebih mendasar yang sering kita lewati yaitu membawa perkara kita kepada Tuhan sebelum membawanya ke forum manapun.
Daud sendiri menyampaikan bahwa "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46: 1).
Jadi, saat berada dalam posisi seperti Daniel, wajar jika kita takut dan cemas. Tetapi apakah kita akan memilih untuk menghadapi masalah kita dengan kekuatan sendiri atau membawa perkara kita lebih dulu kepada Tuhan?
Apapun keadaan yang sedang Anda hadapi — mungkin dikriminalisasi, mungkin sedang dipersalahkan di kantor, di dalam keluarga atau lingkungan pelayanan untuk situasi yang terjadi - ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan kuasa untuk menolong kita.
Mari mulai berlutut dalam doa, memuji dan menyembah Dia, dan menyerahkan seluruh beban kita kepada Dia sepenuhnya.
Momen Refleksi:
1. Apa yang pertama kali Anda lakukan ketika menghadapi situasi yang terasa tidak adil — apakah berusaha mencari solusi atau berlutut dihadapan Tuhan?
2. Adakah saat ini sebuah "goa singa" yang sedang menunggumu di depan pintu? Sebelum kamu melangkah lebih jauh, kembalilah ke kamarmu — berlutut dan berdoa. Percayakan perkaramu kepada Dia yang sanggup melakukan hal yang mustahil.
Baca Juga Renungan Lainnya:
Dari Hati yang Keras Menjadi Hati yang Lembut
Live Chat
Phone / SMS
0811 9914 240
0817 0300 5566
Whatsapp
0822 1500 2424