Matius 27:24
“Ketika Pilatus melihat bahwa segala usahanya tidak berdaya lagi, malahan kekacauan makin merajalela, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak serta berkata: 'Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!'”
Pernahkah kamu merasa bersalah karena sesuatu yang kamu lakukan? Kamu tahu itu salah, tapi kamu mencoba mencari cara untuk “menenangkan” hati, baik itu dengan mencari alasan, pembenaran, atau bahkan menyalahkan orang lain.
Pilatus juga pernah ada di posisi itu.
Dia tahu Yesus tidak bersalah. Bahkan beberapa kali dia menyebut Yesus sebagai orang benar. Hati nuraninya jelas mengatakan bahwa menghukum Yesus adalah sesuatu yang salah.
Tapi di saat yang sama, Pilatus juga menghadapi tekanan dari orang banyak. Situasi yang dihadapinya sangat kacau, tidak terkendali, dan penuh desakan.
Pilatus harus memilih antara mempertahankan kebenaran, atau mempertahankan kenyamanan dan kedudukannya.
Akhirnya Pilatus memilih jalan yang “aman” untuknya. Ia tidak ingin dianggap bersalah, tapi juga tidak berani membela yang benar. Pilatus “mencuci tangan” di depan orang banyak, seolah-olah tindakan itu bisa menghapus tanggung jawabnya.
Apakah kita juga sering melakukan hal yang sama?
Kita tahu apa yang benar, hati kita sudah memberi sinyal. Tapi karena tekanan dari lingkungan, teman, keluarga, atau situasi, kita memilih diam, ikut arus, atau bahkan mengambil keputusan yang sebenarnya kita tahu salah.
Masalahnya, keputusan seperti itu sering meninggalkan penyesalan. Bukan karena kita tidak tahu yang benar, tetapi karena kita memilih mengabaikannya.
Dunia mendorong kita untuk mengikuti suara terbanyak dan mengesampingkan kebenaran. Sayangnya, kebenaran seringkali tidak ada di pihak mayoritas, dan berdiri untuk kebenaran, seringkali berisiko membuat kita dikucilkan.
Tuhan seringkali berbicara lewat hati nurani kita dengan lembut dan jelas. Tapi suara itu bisa kalah oleh kebisingan di sekitar jika kita tidak peka.
Lalu bagaimana supaya kita tidak seperti Pilatus?
1. Latih kepekaan lewat firman Tuhan
Suara hati yang benar perlu dituntun oleh kebenaran firman Tuhan. Semakin kita mengenal firman, semakin kita bisa membedakan mana suara Tuhan dan mana tekanan manusia.
2. Belajar berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan
Tekanan sering membuat kita terburu-buru mengambil keputusan. Padahal, keputusan penting membutuhkan pertimbangan dengan hati yang tenang. Ambil waktu untuk berdoa dan mendengar apa yang Tuhan ingin kita lakukan.
3. Berani berkata “tidak” pada tekanan yang salah
Tidak semua yang dipilih oleh orang banyak adalah benar. Kita butuh keberanian untuk tetap berdiri dalam kebenaran sekalipun ketika kita sendirian.
4. Jaga integritas, bukan kenyamanan
Pilatus memilih aman, tapi kehilangan integritas. Sebagai orang percaya, kita perlu melakukan yang sebaliknya dengan berani untuk tidak nyaman demi kebenaran.
5. Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan
Jangan hanya mengandalkan perasaan. Mintalah Tuhan menuntun hati kita, supaya kita tidak hanya mengikuti suara hati manusia, tapi suara hati yang sudah diselaraskan dengan Tuhan.
Momen Refleksi:
Apakah ada keputusan dalam hidupmu di mana kamu sedang lebih mendengarkan suara orang lain daripada suara kebenaran di dalam hatimu?
Action:
Hari ini, ambil waktu untuk diam di hadapan Tuhan. Bawa setiap keputusan yang akan kamu buat dan minta Tuhan menolongmu untuk berani berdiri dalam kebenaran, bukan mengikuti suara terbanyak.
Live Chat
Phone / SMS
0811 9914 240
0817 0300 5566
Whatsapp
0822 1500 2424